Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | KAA Gent tengah menjadi sorotan tajam publik sepak bola Belgia. Di tengah performa impresif di Jupiler Pro League, tim berjuluk Buffalo itu justru menelan pil pahit setelah tersingkir secara mengejutkan dari ajang Piala Belgia oleh klub kasta ketiga, Union Rochefort. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah KAA Gent mampu bangkit dan memanfaatkan momentum krisis yang sedang melanda lawan Eropa mereka, SC Braga?
Perjalanan KAA Gent di liga domestik sejatinya berjalan mulus. Dari delapan pertandingan, pasukan asuhan Rik De Mil hanya kebobolan tujuh gol, sebuah catatan defensif yang solid. Namun, rapor apik itu sirna dalam sekejap ketika mereka tumbang di ajang Piala. Kekalahan dramatis melalui adu penalti melawan Rochefort tidak hanya mencoreng wajah klub, tetapi juga memicu kritik pedas dari berbagai pihak, termasuk analis sepak bola Tom Boudeweel.
Boudeweel menyoroti keputusan kontroversial De Mil yang tidak memasukkan kiper spesialis penalti, Davy Roef, pada momen krusial adu tos-tosan. “Gent bermain dengan banyak pemain yang jarang tampil, dan sebagian besar dari mereka tidak menunjukkan performa meyakinkan. Gent baru kebobolan tujuh gol di liga, tapi kini mereka kebobolan tiga gol melawan tim kasta ketiga. Rik De Mil tidak memasukkan Davy Roef untuk adu penalti, padahal Roef adalah spesialis. Jadi bisa dibilang, pelatih sudah berjudi dan kalah,” ujar Boudeweel dalam analisisnya.
Kritik tersebut juga menyoroti lemahnya kedalaman skuad KAA Gent. Para pemain pelapis yang diberi kesempatan gagal mempertahankan standar defensif yang biasanya ditunjukkan di kompetisi liga. Kesalahan individu dan tekanan yang meningkat membuat Rochefort mampu bangkit dan memaksa adu penalti, yang akhirnya berakhir bahagia bagi tim underdog tersebut.
Di sisi lain, badai yang tengah melanda markas SC Braga menjadi angin segar bagi KAA Gent jelang duel di kompetisi Eropa. Klub Portugal itu baru saja memecat pelatih suksesnya, Carlos Vicens, setelah serangkaian hasil buruk. Braga saat ini terpuruk di peringkat kedelapan liga domestik dan mengalami kekalahan telak di laga pembuka Conference League dari FC Copenhagen. Kekalahan di kandang sendiri dari Gil Vicente (1-2) menjadi puncak drama yang berujung pada pemecatan Vicens. Asisten pelatih, Mario Enguidanos, akan mengambil alih sementara ketika Braga menjamu KAA Gent pada Kamis mendatang.
Meski demikian, KAA Gent tidak bisa lengah. Braga tetaplah tim yang musim lalu mencapai semifinal Europa League. Namun, situasi internal yang tidak stabil bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh KAA Gent untuk meraih hasil positif. Kemenangan 1-0 atas Aarhus di laga pertama League Phase menjadi modal berharga bagi pasukan Buffalo untuk tampil percaya diri di Portugal.
Di tengah gejolak performa tim, kabar tentang Max Dean turut menjadi perhatian. Striker asal Inggris itu kembali tersedia setelah transfernya ke Bolton Wanderers gagal terwujud pada detik-detik terakhir bursa transfer musim panas. Dean sempat kehilangan kesempatan bermain, tetapi kini ia kembali masuk dalam rencana De Mil, terutama setelah Josué Vergare mengalami cedera. Meski tidak terdaftar dalam daftar pemain untuk kompetisi Eropa, Dean masih bisa menjadi kartu as di kompetisi domestik.
Menurut pengamat KAA Gent, Koen Van Uytvange, Dean masih menyimpan rasa kecewa terhadap manajemen klub terkait gagalnya transfer tersebut. Namun, Van Uytvange menegaskan bahwa penyebab utama batalnya kepindahan Dean adalah Bolton yang tidak memiliki dana, bukan karena KAA Gent tidak kooperatif. “Bolton yang menarik diri karena tidak punya uang. Mereka berlindung di balik tes medis, padahal sudah ada kesepakatan tertulis. Dean adalah korban dari situasi ini,” jelasnya.
Kembalinya Dean ke skuad inti KAA Gent menjadi angin segar di tengah badai kritik. Meski belum sepenuhnya menemukan performa terbaiknya, assist yang ia berikan saat melawan Zulte Waregem menunjukkan bahwa ia masih memiliki kualitas untuk berkontribusi. Pertanyaannya kini, mampukah Dean mengembalikan kepercayaan diri dan menjadi pilar utama KAA Gent di sisa musim?
Dengan jadwal padat yang menanti, termasuk laga melawan Brann pada 17 Desember 2026 di Planet Group Arena, KAA Gent dituntut untuk segera bangkit. Kekalahan di Piala harus dijadikan pelajaran berharga, sementara peluang di Eropa harus dimaksimalkan. Jika mampu memanfaatkan krisis Braga dan kembali solid di liga, bukan tidak mungkin KAA Gent akan kembali ke jalur kemenangan dan menutup musim dengan prestasi membanggakan.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana Rik De Mil mampu meramu strategi, menjaga mental para pemain, dan memastikan bahwa insiden di Piala tidak berdampak panjang pada performa tim. KAA Gent memiliki kualitas untuk bangkit, dan publik sepak bola Belgia menantikan jawabannya di lapangan hijau.

