Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Pergerakan bbri saham menjadi sorotan utama di tengah dinamika pasar modal Indonesia yang masih dibayangi volatilitas tinggi. Setelah mencatatkan lonjakan fantastis 9,84% ke level Rp2.790 per saham pada perdagangan Selasa (20/10/2026), harga bbri saham kembali mengalami koreksi tipis 0,36% ke posisi Rp2.780 pada akhir sesi pertama Rabu (21/10/2026). Meski demikian, di balik fluktuasi tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menegaskan komitmennya untuk menjaga nilai perusahaan melalui aksi pembelian kembali saham atau buyback.
Langkah buyback ini menjadi salah satu opsi strategis yang diambil oleh empat bank BUMN, yakni BBRI, BBNI, BBTN, dan BRIS, di tengah tekanan harga saham yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental dan prospek bisnis perseroan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat No. S-112/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026 telah memperpanjang penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan hingga 31 Desember 2026. Berdasarkan POJK Nomor 13 Tahun 2023, kondisi tersebut memungkinkan perusahaan terbuka melakukan buyback tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Keyakinan BRI terhadap Fundamental
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa rencana buyback merupakan bagian dari strategi perseroan untuk menjaga nilai perusahaan sekaligus mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. “Rencana tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang Perseroan, dengan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan ini menjadi angin segar bagi investor yang tengah mencermati pergerakan bbri saham. Pasalnya, aksi korporasi ini tidak hanya bertujuan menstabilkan harga, tetapi juga menjadi sinyal bahwa manajemen optimistis terhadap kinerja perseroan ke depan. Senada dengan BRI, BNI juga membuka peluang memperpanjang periode pelaksanaan buyback yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 26 Oktober 2026. Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan bahwa perseroan menjalankan aksi korporasi secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan pasar dan kondisi internal perusahaan.
Tekanan Jual Asing dan Dinamika IHSG
Meski fundamental terjaga, bbri saham tak luput dari tekanan jual investor asing. Pada sesi pertama Rabu (21/10/2026), IHSG terkoreksi 0,84% atau sekitar 44,53 poin ke level 5.234. Investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp581,59 miliar. Saham BBRI mencatatkan net sell Rp99,56 miliar dengan volume 36,08 juta saham, menjadikannya salah satu saham yang paling banyak dilepas asing. Bahkan, di pasar reguler, bbri saham menjadi yang paling banyak dijual dengan total net sell Rp117,1 miliar, disusul BMRI Rp106,8 miliar dan BBCA Rp73,2 miliar.
Tekanan ini terjadi menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menentukan arah suku bunga acuan BI-Rate. Sejak awal tahun, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin hingga kini berada di level 5,75%. Ketidakpastian kebijakan moneter inilah yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Namun, pada perdagangan Selasa (20/10/2026) sebelumnya, bbri saham justru memimpin penguatan dengan lonjakan 9,84% ke Rp2.790, disusul BMRI yang naik 9,82% ke Rp3.690, BBNI menguat 8,78% ke Rp3.220, dan BBCA naik 7,88% ke Rp5.200. Penguatan IHSG saat itu mencapai 5,65% ke level 5.278,88, ditopang oleh upaya regulator memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Buyback sebagai Strategi Jangka Panjang
Aksi buyback yang tengah dipertimbangkan oleh BBRI dan bank BUMN lainnya bukan sekadar respons jangka pendek. Langkah ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan kebutuhan pengembangan bisnis. Dengan valuasi yang dinilai masih undervalued, buyback diharapkan dapat memberikan dukungan harga sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap bbri saham.
Selain itu, langkah serupa juga tengah dikaji oleh CIMB Niaga (BNGA) yang dikabarkan mempertimbangkan opsi delisting karena sahamnya dinilai undervalued. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pasar saat ini memang mendorong emiten perbankan untuk mengambil langkah-langkah strategis demi melindungi nilai pemegang saham.
Bagi investor, keputusan buyback BBRI dan bank BUMN lainnya patut dicermati sebagai indikator keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis ke depan. Meski tekanan jual asing masih membayangi, fundamental perbankan yang kuat serta komitmen terhadap tata kelola yang baik menjadi modal utama untuk menghadapi volatilitas pasar.
Dengan perpanjangan kondisi pasar berfluktuasi hingga akhir 2026, peluang buyback tanpa RUPS masih terbuka lebar. Kehadiran aksi korporasi ini diharapkan mampu menjadi katalis positif bagi pergerakan bbri saham di tengah ketidakpastian global dan domestik. Investor disarankan tetap mencermati perkembangan kebijakan moneter serta kinerja emiten secara berkala sebelum mengambil keputusan investasi.

