Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Pergerakan bmri saham kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Di tengah euforia penguatan saham perbankan pada perdagangan Selasa (20/10/2026), saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru harus menelan kenyataan pahit pada sesi pertama Rabu (21/10/2026). Jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menentukan arah suku bunga acuan BI-Rate, investor asing tercatat agresif melepas bmri saham mereka.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, pada sesi I Rabu (21/10/2026), IHSG turun 0,84% menjadi 5.234,36. Di jajaran bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks, BMRI melemah 1,08% ke level Rp 3.650 per saham. Penurunan terdalam dicatatkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 2,17% ke Rp 3.150, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,48% ke Rp 5.175 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 0,36% ke Rp 2.780.
Yang menarik, bmri saham mencatatkan nilai penjualan bersih asing tertinggi pada sesi tersebut, mencapai Rp 112,57 miliar. Angka ini bahkan melampaui net sell BBRI yang sebesar Rp 99,56 miliar. Secara keseluruhan, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp 581,59 miliar pada sesi I, dengan total nilai penjualan mencapai Rp 4 triliun dibandingkan pembelian Rp 3,42 triliun. Di sisi lain, BBCA justru menjadi sasaran pembelian terbesar asing dengan nilai Rp 296,94 miliar.
Tekanan terhadap bmri saham ini terasa kontras dengan kondisi sehari sebelumnya. Pada Selasa (20/10/2026), saham-saham big banks kompak menguat seiring IHSG yang melonjak 5,65% ke level 5.278,88. BBRI memimpin dengan penguatan 9,84% ke Rp 2.790, disusul BMRI yang naik 9,82% ke Rp 3.690, BBNI menguat 8,78% ke Rp 3.220, dan BBCA menguat 7,88% ke Rp 5.200. Penguatan tersebut terjadi di tengah upaya regulator memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Namun, euforia itu ternyata tidak bertahan lama. Sejak awal tahun, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin hingga kini berada di level 5,75%. Pasar menanti arah kebijakan suku bunga acuan yang akan diumumkan dalam RDG BI, yang diperkirakan akan mempengaruhi minat investor terhadap bmri saham dan saham perbankan lainnya.
Risiko Agunan Kredit Haji Isam Jadi Sorotan
Selain faktor makro, sentimen negatif terhadap bmri saham juga datang dari isu kualitas aset yang dijaminkan. Saham milik bos Jhonlin Grup Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, yakni PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agra Raya Tbk (JARR), menjadi agunan fasilitas kredit di Bank Mandiri. Kedua saham tersebut tercatat anjlok puluhan persen sejak awal tahun.
Data BEI menunjukkan saham PGUN anjlok 23,79% secara year to date (ytd) ke level Rp 7.450 per saham, sementara JARR terkoreksi lebih dalam, yakni rontok 31,27% ytd menjadi Rp 2.220 per saham. Volatilitas kedua saham tersebut sangat tinggi. JARR sempat bergerak di kisaran Rp 200-Rp 400 hingga Juli 2025, lalu melonjak hingga Rp 8.175 pada 13 Oktober 2026 sebelum berbalik turun. Pola serupa terlihat pada PGUN yang sempat menyentuh rekor all time high Rp 29.527 pada 13 Oktober 2026 sebelum merosot tajam.
Selain koreksi harga, PGUN juga masuk dalam kelompok saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) yang akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. PGUN terkonsentrasi 99,95% oleh satu pihak. Kredit tersebut digunakan untuk menebus aksi akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong.
Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menilai risiko bagi Bank Mandiri perlu dilihat dari dua aspek utama, yaitu kemampuan debitur membayar kewajibannya dan kualitas aset yang dijaminkan. Jika Jhonlin Group gagal memenuhi kewajiban pembayaran, Bank Mandiri berpotensi menghadapi peningkatan kredit bermasalah dan beban pencadangan yang dapat menekan laba serta permodalan bank.
Menurut Amin, penggunaan saham PGUN dan JARR sebagai agunan turut membawa risiko volatilitas harga dan likuiditas. Ketika harga saham turun, nilai agunan menyusut, sementara penjualan dalam jumlah besar dapat semakin menekan harga pasar. Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri bagi investor yang mencermati pergerakan bmri saham ke depan.
Daftar Saham Paling Banyak Dilepas Asing Sesi I
| Saham | Estimasi Net Sell Asing |
|---|---|
| BMRI | Rp 112,57 miliar |
| BBRI | Rp 99,56 miliar |
| ANTM | Rp 64,96 miliar |
| BBNI | Rp 63,38 miliar |
| TINS | Rp 57,29 miliar |
Dengan kombinasi tekanan makro jelang RDG BI dan kekhawatiran atas kualitas agunan kredit, bmri saham berada di persimpangan. Di satu sisi, fundamental Bank Mandiri sebagai salah satu bank terbesar nasional masih kokoh. Di sisi lain, aksi jual asing yang masif dan volatilitas harga agunan menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan pelaku pasar.
Ke depan, arah bmri saham akan sangat bergantung pada keputusan suku bunga BI serta perkembangan kualitas aset perseroan. Investor disarankan mencermati kedua faktor tersebut sebelum mengambil keputusan, karena kombinasi sentimen makro dan mikro dapat menciptakan peluang sekaligus risiko bagi portofolio mereka.

