Sinarmas Group di Pusat Badai Pasar Modal: Dari Data Center LG CNS hingga Denda Rp2,1 Triliun OJK

Foto: Istimewa

Sinarmas Group di Pusat Badai Pasar Modal: Dari Data Center LG CNS hingga Denda Rp2,1 Triliun OJK

Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Nama sinarmas kembali menjadi sorotan di panggung bisnis dan pasar modal Indonesia. Konglomerasi milik keluarga Widjaja ini bukan hanya bergerak di sektor agribisnis dan properti, tetapi kini memperluas sayap ke infrastruktur digital melalui kemitraan strategis dengan LG CNS asal Korea Selatan untuk membangun data center di Indonesia. Di saat yang sama, sejumlah emiten yang terafiliasi dengan sinarmas justru tengah menghadapi tekanan regulasi dan sorotan pasar yang tak ringan.

Proyek data center hasil perusahaan patungan LG CNS dan sinarmas disebut hampir rampung dan dijadwalkan memasuki tahap uji coba pada 1 Desember 2026. President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won, menyatakan kerja sama ini menggabungkan keahlian teknologi dan pengelolaan data center milik LG CNS dengan jaringan bisnis serta basis pelanggan yang dimiliki sinarmas.

“Kami menggabungkan kemampuan teknologi yang dimiliki LG CNS dengan jaringan pelanggan dan berbagai keunggulan Sinar Mas. Dari situlah kami melihat adanya sinergi,” ujar Mark dalam wawancara eksklusif.

Menurutnya, fasilitas tersebut disiapkan untuk melayani pelanggan eksternal, bukan sekadar kebutuhan internal kedua perusahaan. LG CNS sendiri telah berpengalaman membangun dan mengoperasikan data center di Korea Selatan, termasuk untuk instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Namun, proyek ini juga menyoroti tantangan besar berupa konsumsi listrik dan air yang menjadi perhatian dalam pengembangan infrastruktur digital berskala besar.

Tekanan di Pasar Modal

Di sisi lain, jejak sinarmas di Bursa Efek Indonesia justru tengah diuji. Grup ini tercatat sebagai konglomerasi penyumbang saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) terbanyak. Lima saham afiliasi sinarmas masuk daftar HSC dan dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yakni DUTI, SMAR, DSSA, GEMS, dan MORA.

Konsentrasinya sangat ekstrem. DUTI terkonsentrasi 99,88 persen terhadap satu pihak dengan free float hanya 0,54 persen, jauh di bawah aturan bursa. SMAR terkonsentrasi 99,58 persen dengan free float 7,54 persen. Adapun DSSA terkonsentrasi 95,76 persen meski free float-nya sudah memenuhi ketentuan OJK sebesar 21,46 persen. Sejumlah saham menunjukkan kinerja bervariasi, mulai dari lonjakan puluhan persen hingga anjlok 81,56 persen sejak awal tahun.

Denda Rp2,1 Triliun dan Bayang-Bayang MSCI

Persoalan tata kelola memuncak ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif senilai Rp2,1 triliun terkait pelanggaran pasar modal pada DSSA yang terafiliasi dengan sinarmas, serta BREN dan CUAN yang terafiliasi dengan Grup Barito. OJK menemukan dugaan manipulasi perdagangan saham DSSA serta pelanggaran penjatahan saham pada BREN dan CUAN, termasuk pengaburan identitas pihak terkait yang memicu konsentrasi kepemilikan.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai langkah OJK sebagai sinyal positif. “Langkah OJK sudah benar. Itu sinyal positif bahwa regulator mulai mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk pelanggaran yang menjadi perhatian pasar,” katanya.

Isu ini menjadi krusial karena Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan, serta dugaan perdagangan terkoordinasi yang dapat menurunkan investabilitas pasar Indonesia, dengan ancaman penurunan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Amunisi Buyback

Menghadapi gejolak, DSSA menyiapkan dana hingga Rp1 triliun untuk buyback saham selama periode 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027. Langkah serupa diambil CUAN dengan dana maksimal Rp500 miliar dan BREN hingga Rp1 triliun, sehingga total amunisi mencapai Rp2,5 triliun. Buyback diyakini dapat menopang harga saham dan meningkatkan laba per saham, meski tidak menjamin kenaikan harga secara langsung.

Dinamika yang melingkupi sinarmas hari ini menggambarkan dua wajah sekaligus: ambisi ekspansi ke ekonomi digital melalui data center, di satu sisi, dan ujian tata kelola di pasar modal, di sisi lain. Ekspansi infrastruktur digital berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru, tetapi kepercayaan investor tetap bergantung pada transparansi kepemilikan, kepatuhan regulasi, dan konsistensi penegakan hukum. Bagi sinarmas, kemampuan menyeimbangkan keduanya akan menentukan apakah langkah besarnya di sektor teknologi mampu berjalan seiring dengan pemulihan reputasi di bursa.

Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber: DetikInet, Katadata, Suara.com