Kalimantan Update – 22 Oktober 2026 | National Australia Bank (NAB) kembali mencuri perhatian pasar keuangan global. Di tengah tekanan ekonomi Australia yang memburuk, bank besar ini menghadapi dilema antara optimisme analis dan kenyataan pahit di lapangan. Jefferies baru saja mempertahankan rating ‘Buy’ untuk National Australia Bank dengan target harga A$46,08, sementara di saat yang sama, bank tersebut dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.500 karyawan tepat sebelum Natal, dan berencana memangkas 1.000 posisi lagi pada awal tahun depan.
Laporan dari Jefferies yang dirilis pada Rabu (21/10/2026) oleh analis Andrew Lyons menyebutkan bahwa National Australia Bank masih memiliki prospek positif. Lyons, yang merupakan analis bintang tiga dengan rata-rata imbal hasil 2,2 persen dan tingkat keberhasilan 47,59 persen, memberikan target harga A$46,08. Sikap ini diperkuat oleh Citi melalui Thomas Strong yang juga memberikan rating ‘Buy’ pada 18 Oktober lalu. Namun, tidak semua pihak sependapat. Morgan Stanley justru mempertahankan rating ‘Sell’ untuk National Australia Bank, menciptakan kontradiksi di kalangan analis.
Di sisi lain, keputusan PHK massal yang dilakukan National Australia Bank menjadi pukulan bagi para karyawan. Langkah ini diambil di tengah kondisi ekonomi Australia yang sedang tidak stabil. Bank Sentral Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali sepanjang tahun 2026, dengan kenaikan terakhir pada 29 September lalu yang membawa suku bunga kas ke level tertinggi dalam 15 tahun, yaitu 4,6 persen. Kebijakan moneter yang ketat ini memberikan tekanan besar pada sektor riil, termasuk konstruksi.
Data dari Australian Securities and Investments Commission (ASIC) menunjukkan bahwa jumlah perusahaan konstruksi yang mengalami insolvensi melonjak 59 persen menjadi 1.448 perusahaan antara 1 Juli dan 4 Oktober 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 912 perusahaan, dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan empat tahun lalu saat Partai Buruh pertama kali berkuasa. Sektor konstruksi menjadi yang paling terpukul, dengan tingkat kegagalan yang lebih besar daripada gabungan sektor akomodasi, makanan, ritel, jasa profesional, manufaktur, dan transportasi.
Tekanan terhadap National Australia Bank juga datang dari sisi keberlanjutan. Sejumlah bank di Singapura, seperti OCBC dan DBS, baru-baru ini menegaskan komitmen untuk membatasi pembiayaan kepada perusahaan yang terlibat dalam pembakaran lahan dan deforestasi. Langkah ini dipicu oleh permintaan Menteri Senior Singapura K. Shanmugam agar bank mempertimbangkan risiko lingkungan dan hukum dalam pembiayaan. Meskipun National Australia Bank tidak secara langsung disebut, tren global menuju praktik keuangan berkelanjutan semakin kuat, dan bank-bank besar seperti NAB dituntut untuk menerapkan kebijakan serupa.
Kombinasi antara rating positif dari sebagian analis, PHK besar-besaran, dan tekanan ekonomi makro menciptakan gambaran yang kompleks bagi National Australia Bank. Pasar akan mencermati bagaimana manajemen NAB menavigasi tantangan ini, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya menjadi periode sensitif bagi karyawan dan investor.
Secara keseluruhan, National Australia Bank berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kepercayaan analis seperti Jefferies dan Citi memberikan angin segar bagi investor. Di sisi lain, realitas PHK dan perlambatan ekonomi sektor konstruksi menjadi peringatan akan risiko yang membayangi. Keputusan strategis bank dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan arah kinerjanya di tengah lanskap keuangan Australia yang penuh gejolak.
