Gempa Hari Ini Guncang Indonesia Dua Kali dalam Sejam: Sumba Magnitudo 6,1 dan Aceh 5,9

Foto: Istimewa

Gempa Hari Ini Guncang Indonesia Dua Kali dalam Sejam: Sumba Magnitudo 6,1 dan Aceh 5,9

Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Gempa hari ini kembali mengguncang Indonesia dengan dua peristiwa besar yang terjadi hanya dalam selang waktu kurang dari satu jam pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi bermagnitudo 6,1 melanda Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, disusul gempa bermagnitudo 5,9 di wilayah Aceh. Peristiwa gempa hari ini membuat warga di dua wilayah berbeda merasakan guncangan yang cukup kuat.

Gempa pertama tercatat terjadi pada pukul 05.55 WIB atau 06.55 Wita. Pusat gempa berada di laut, sekitar 14 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, pada kedalaman 10 kilometer. Berdasarkan analisis mekanisme sumber, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berasosiasi dengan Sesar Waikabubak dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan hasil pemodelan tsunami menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Guncangan gempa hari ini dirasakan sangat kuat di sejumlah wilayah. Berdasarkan peta tingkat guncangan atau shakemap, intensitas terkuat mencapai skala VI MMI di beberapa kawasan Sumba Barat Daya. Getaran juga dirasakan kuat di Sumba Barat dan Manggarai Barat, serta turut dilaporkan di Sumba Timur dan Manggarai. Dampaknya, puluhan rumah warga dan fasilitas umum di Kabupaten Sumba Barat Daya serta Sumba Barat mengalami kerusakan. Pantauan di Desa Wala Dimu, Kecamatan Kodi Bangedo, memperlihatkan tembok rumah warga yang retak hingga roboh akibat kuatnya guncangan.

Hanya berselang sekitar 42 menit kemudian, gempa hari ini kembali terjadi. BMKG mencatat gempa bermagnitudo 5,9 mengguncang wilayah Aceh pada pukul 06.37 WIB. Pusat gempa terletak di laut, sekitar 68 kilometer barat daya Calang, pada kedalaman 26 kilometer. Guncangan akibat gempa kedua ini dirasakan di beberapa kawasan di Aceh, termasuk Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie Jaya, Bener Meriah, Nagan Raya, dan Aceh Tengah.

Rangkaian gempa hari ini tidak berhenti di situ. Pada sore hari, gempa berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang wilayah Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sekitar pukul 17.13 WIB. Pusat gempa berada di daratan sekitar 40 kilometer utara Ruteng pada kedalaman 10 kilometer. Getaran dilaporkan terasa di wilayah Kabupaten Manggarai dengan intensitas II-III MMI.

Kemudian pada malam harinya, gempa susulan bermagnitudo 4,8 kembali mengguncang Sumba Barat Daya pada pukul 21.59 WIB. Berbeda dengan gempa pagi, pusat gempa kali ini berada di darat, sekitar 13 kilometer selatan Kodi, pada kedalaman 21 kilometer. BMKG mengingatkan bahwa informasi awal ini mengutamakan kecepatan sehingga hasil pengolahan data masih dapat berubah seiring kelengkapan informasi.

BMKG mengimbau penduduk di kawasan terdampak agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Masyarakat diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan sebelumnya. Hingga laporan ini disusun, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat rangkaian gempa hari ini, meskipun kerusakan fisik sejumlah bangunan telah terkonfirmasi di wilayah Sumba.

Indonesia memang terletak pada zona pertemuan lempeng tektonik yang aktif, sehingga gempa bumi menjadi peristiwa yang kerap terjadi. Kejadian gempa hari ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana, mulai dari mengenali jalur evakuasi hingga memahami langkah penyelamatan diri saat guncangan terjadi.

Secara keseluruhan, rangkaian gempa hari ini menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah Indonesia masih dinamis. Dua gempa besar dalam waktu kurang dari satu jam di Sumba dan Aceh, ditambah gempa susulan di Manggarai dan Sumba Barat Daya, menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Pemantauan berkelanjutan, kesiapan infrastruktur tahan gempa, serta edukasi mitigasi menjadi kunci untuk meminimalkan risiko korban dan kerusakan pada peristiwa serupa di masa mendatang.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: BMKG, Bernama, Antara, VIVA

Tags: