Celtic di Ambang Krisis Eropa: O'Neill Bantah Label Jekyll and Hyde
Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Manajer Celtic, Martin O’Neill, angkat bicara menanggapi gelombang kritik yang menyebut timnya sebagai pasukan Jekyll and Hyde setelah kekalahan kandang 1-2 dari Celta Vigo pada laga Europa League, Kamis malam waktu setempat. Kekalahan tersebut membuat Celtic belum meraih satu pun kemenangan dalam tiga pertandingan fase grup dan kini terpuruk di peringkat 35 dari 36 tim peserta, dengan FC Ararat-Armenia menjadi satu-satunya tim yang berada di bawah mereka.
Namun di pentas domestik, anak asuh O’Neill masih kokoh di puncak klasemen Premiership menjelang akhir pekan. Dari sembilan laga yang dijalani, kekalahan dari Rangers menjadi satu-satunya catatan buruk mereka. Kontrasnya performa inilah yang memicu pertanyaan banyak pengamat tentang mengapa tim yang masih menjadi patokan di negeri sendiri justru kerap gagal tampil di Eropa.
O’Neill menolak anggapan bahwa masalahnya terletak pada mentalitas skuad. Menurutnya, kesenjangan performa lebih disebabkan oleh lonjakan standar lawan di kompetisi kontinental. “Kami kebobolan dari situasi bola mati, tetapi saya rasa beberapa detik sebelumnya kami seharusnya mendapat pelanggaran,” ujarnya kepada TNT Sports, mempertanyakan keputusan wasit Georgi Kabakov.
Kekecewaan O’Neill memuncak setelah Celta Vigo mencetak dua gol cepat melalui Javi Rodriguez yang membalikkan keunggulan Celtic, padahal Mika Baur sempat membawa tuan rumah unggul tak lama setelah jeda. O’Neill bahkan mendapat kartu kuning karena memprotes keputusan wasit, dan turut mempertanyakan mengapa Callum Osmand tidak mendapat hadiah penalti ketika terjatuh di kotak terlarang pada babak pertama.
“Jika sundulan Scales masuk menjadi 2-0, kami akan meraih tiga poin. Itu soal margin yang tipis,” tambahnya, seraya menegaskan bahwa timnya masih memiliki peluang untuk bangkit di sisa laga grup.
Di sisi lain, suasana di sekitar Celtic Park turut diwarnai kabar dari dunia hiburan. Legenda musik Rod Stewart mengungkapkan bahwa ia pernah ditawari menggelar konser perpisahan di stadion kebanggaan Celtic tersebut. Namun pria berusia 81 tahun itu memilih menggelar beberapa pertunjukan di OVO Hydro Glasgow dan O2 London agar momen perpisahannya terasa lebih panjang dan manis.
“Anak saya terus mengatakan seharusnya saya pamit di Celtic Park. Saya memang ditawari, tetapi saya ingin tampil beberapa kali lagi,” kata Stewart, penggemar berat Celtic yang rutin hadir di tribun.
Sementara itu, jelang laga melawan Celtic di Premiership akhir pekan ini, pelatih Hibernian Marink Reedijk mengakui beratnya tantangan yang menanti. Hibs masih tanpa kemenangan dalam delapan laga kandang di liga dan terpuruk di dasar klasemen setelah dua kekalahan beruntun. Meski demikian, Reedijk menegaskan timnya siap memberi perlawanan.
“Celtic adalah tim bagus dan memberi kami tantangan, tetapi kami juga bisa memberi mereka tantangan dan berharap bisa mempertahankan tiga poin di Edinburgh,” ujarnya. Ia juga menjelaskan keputusannya menyerahkan ban kapten kepada Felix Passlack, menggantikan Martin Boyle yang kini memiliki peran berbeda dalam skuad.
Kombinasi tekanan di Eropa dan tuntutan untuk terus konsisten di domestik menjadi ujian tersendiri bagi Celtic. O’Neill menegaskan bahwa timnya bukanlah dua wajah yang berbeda, melainkan sedang beradaptasi dengan level persaingan yang lebih tinggi. Kini, pertanyaannya adalah apakah Celtic mampu membuktikan bahwa performa buruk di Eropa hanyalah persoalan kelas lawan, bukan kelemahan mental yang sesungguhnya.
