Waode Nuraida: Gangguan Jiwa Tak Selalu Muncul Tiba-tiba, Faktor Genetik dan Stres Jadi Pemicu Utama

Foto: Istimewa

Waode Nuraida: Gangguan Jiwa Tak Selalu Muncul Tiba-tiba, Faktor Genetik dan Stres Jadi Pemicu Utama

Kalimantan Update – 02 Oktober 2026 | Gangguan jiwa sering kali dianggap datang tanpa peringatan. Namun, pandangan itu dibantah oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar), Waode Nuraida. Menurutnya, Waode Nuraida Gangguan Jiwa Tak Selalu Muncul Tiba-tiba, melainkan kerap memiliki latar belakang yang bisa ditelusuri, mulai dari faktor genetik hingga tekanan hidup yang menumpuk.

Dalam keterangannya di Tenggarong, Waode menjelaskan bahwa riwayat gangguan jiwa dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi serupa. Faktor genetik tidak berarti penyakit ini otomatis diwariskan langsung dari orang tua kepada anak, tetapi bisa berasal dari anggota keluarga lain dalam satu garis keturunan, baik dari pihak ayah maupun ibu.

“Biasanya ada faktor genetik dari keluarga. Jadi, ketika ada stresor atau pencetus tertentu, pada orang yang memiliki riwayat secara genetik, stresor itu bisa membawa dia menjadi gangguan jiwa,” ujar Waode.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Waode Nuraida Gangguan Jiwa Tak Selalu Muncul Tiba-tiba menjadi pesan penting bagi masyarakat agar tidak mengabaikan riwayat kesehatan mental di lingkungan keluarga. Setiap penanganan pasien, kata dia, perlu disertai penelusuran riwayat keluarga untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor genetik.

Genetik Bukan Satu-satunya Penyebab

Waode menekankan bahwa faktor genetik hanyalah salah satu unsur yang berkaitan dengan gangguan jiwa. Kondisi tersebut juga dapat dipicu berbagai tekanan, seperti stres berkepanjangan, persoalan ekonomi, hingga minimnya dukungan keluarga.

“Makanya setiap kali kita akan tanya, apakah ada di keluarganya? Karena itu sangat erat hubungannya. Tidak selalu saudara langsung, bisa kakek atau anggota keluarga lain yang masih satu darah,” jelasnya.

Ia menambahkan, tenaga kesehatan akan menanyakan riwayat keluarga sebagai bagian dari langkah awal penanganan. Dengan begitu, intervensi yang diberikan bisa lebih tepat dan tidak sekadar mengobati gejala yang tampak di permukaan.

Pesan Waode Nuraida Gangguan Jiwa Tak Selalu Muncul Tiba-tiba ini juga menjadi pengingat bahwa tekanan psikologis yang dibiarkan berkepanjangan dapat menjadi pemicu serius, terutama bagi mereka yang memiliki kerentanan genetik.

Data Layanan ODGJ Dinkes Kukar

Data Dinkes Kukar mencatat capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) hingga Agustus 2026 mencapai 735 orang atau 77,78 persen. Angka tersebut menjadi bagian dari indikator pelayanan kesehatan jiwa yang ditangani pemerintah daerah melalui puskesmas dan layanan rujukan.

Indikator Jumlah Persentase
Pelayanan ODGJ hingga Agustus 2026 735 orang 77,78 persen

Selain ODGJ, terdapat istilah Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), yakni kondisi yang belum masuk pada gangguan jiwa berat tetapi sudah menunjukkan masalah yang perlu ditangani. Gangguan tidur, misalnya, dapat menjadi salah satu tanda masalah kejiwaan yang perlu diperhatikan.

“Tidak semua langsung menggunakan obat. Ada yang ditangani melalui psikologi klinis, terutama ketika masalahnya masih berkaitan dengan stres atau kondisi psikologis,” ujarnya.

Program Gardu Kawat dan Rujukan Lintas Sektor

Untuk ODGJ yang sudah mengalami kondisi berat hingga berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain, Dinkes Kukar memiliki program Gardu Kawat. Program tersebut melibatkan lintas sektor, seperti puskesmas, Dinas Sosial, Satpol PP, pemerintah desa, dan kecamatan.

Apabila ODGJ membutuhkan perawatan lebih lanjut, pasien dapat dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam di Samarinda karena Kukar belum memiliki rumah sakit jiwa.

Waode menegaskan penanganan ODGJ tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Dinkes berperan dalam aspek kesehatan, sementara penanganan di lapangan membutuhkan koordinasi dengan sejumlah instansi sesuai kewenangannya.

“Karena ada kewenangan dan batasan masing-masing. Kita tidak bisa menangani sendiri,” pungkasnya.

Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang gangguan jiwa sebagai sesuatu yang muncul tiba-tiba. Justru, Waode Nuraida Gangguan Jiwa Tak Selalu Muncul Tiba-tiba mengingatkan bahwa deteksi dini, dukungan keluarga, dan penanganan yang tepat menjadi kunci utama.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menekan angka gangguan jiwa di Kutai Kartanegara. Kesadaran akan faktor genetik dan pemicu stres diharapkan membuat penanganan lebih cepat, manusiawi, dan menyeluruh.

Penulis: Zulkifli | Editor: Intoniswan | Sumber Berita: UpdateKaltim.com