Davide Tardozzi Buka Suara: Bela Marquez, Kritik Pembalap 'Pengecut', dan Pertahankan Gelar yang Belum Pasti
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Manajer Tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan sejumlah pernyataan tajam usai rangkaian MotoGP Australia 2026 di Sirkuit Phillip Island. Dari pembatalan balapan utama hingga polemik rencana Grand Prix Qatar, Davide Tardozzi tampil sebagai figur yang membela Marc Marquez sekaligus menegaskan bahwa keselamatan pembalap berada di atas segalanya. Pernyataan-pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Crash, GPOne, TNT Sports, serta sejumlah media balap internasional pada Senin (26/10/2026).
Balapan utama MotoGP Australia 2026 resmi dibatalkan pada Minggu (25/10/2026) akibat jarak pandang yang buruk sehingga helikopter medis tidak dapat beroperasi. Kondisi lintasan sendiri dinilai masih dapat diterima, namun absennya helikopter medis membuat penyelenggara mengambil langkah tegas. Pembatalan ini jelas merugikan Ducati, sebab Marc Marquez kehilangan peluang memperlebar jarak di klasemen sementara, terlebih lagi Jorge Martin dipastikan absen akibat cedera pergelangan tangan yang dideritanya pada sprint race sehari sebelumnya.
Meski demikian, Davide Tardozzi menolak menyalahkan siapa pun. Ia justru memuji keputusan penyelenggara sebagai pilihan paling aman. “Bagi Ducati, jelas bahwa kami melewatkan sebuah peluang, tetapi prioritas utama kami selalu keselamatan pembalap. Hal itu berada di atas segalanya: olahraga, bisnis, atau apa pun,” ujar Tardozzi. Ia bahkan mengenang pengalaman pahit ketika karier Carl Fogarty berakhir akibat kecelakaan di Phillip Island, sehingga ia tidak ingin tragedi serupa terulang.
Menurut Tardozzi, secara teknis tim pernah berlomba dalam kondisi lintasan yang lebih buruk. Namun ia memahami bahwa ketiadaan helikopter medis mengubah segalanya. “Jika helikopter tidak ada di lokasi, maka balapan tidak bisa dimulai. Saya tahu itu adalah peluang besar untuk meraih poin, tetapi inilah dunia balap,” tambahnya.
Terkait persaingan gelar, Davide Tardozzi menepis anggapan bahwa Marquez praktis sudah mengunci gelar juara dunia kesepuluhnya. Ia menegaskan masih ada 148 poin yang diperebutkan dan selisih sepuluh poin bukanlah apa-apa. Ia juga menyoroti ancaman Marco Bezzecchi yang dinilainya masih sangat kompetitif, serta kekuatan Jorge Martin yang disebutnya tampil impresif pada sprint race sebelum insiden menimpanya.
Pernyataan paling menohok dari Davide Tardozzi muncul terkait polemik Grand Prix Qatar. Ia geram terhadap sejumlah pembalap yang lantang bersuara di luar forum resmi, namun mendadak bisu saat berhadapan langsung dengan penyelenggara. Menurutnya, sikap seperti itu hanya membuang waktu dan mencerminkan keberanian semu. “Banyak pembalap yang mengekspresikan opini di luar yang jauh lebih keras daripada Marc, lalu ketika tiba saatnya rapat di depan penyelenggara, mereka diam,” tegasnya.
Tardozzi menilai Marquez justru bersikap bijaksana dengan memilih jalur mediasi, meminta jaminan evakuasi, rencana cadangan, dan kepastian keselamatan. Ia menolak tafsiran bahwa Marquez enggan pergi ke Qatar. “Marc hanya meminta rencana keselamatan organisasi, tidak lebih, tidak kurang. Dia tidak pernah mengatakan tidak mau pergi,” ujar Davide Tardozzi.
Dengan rangkaian pernyataan tersebut, posisi Ducati dalam pusaran persaingan gelar MotoGP 2026 kian menarik untuk dicermati. Pembatalan di Australia dan polemik Qatar menjadi ujian tersendiri bagi tim pabrikan asal Italia itu.
Ke depan, Ducati menantikan seri Malaysia di Sepang dengan harapan Jorge Martin dapat kembali tampil. Terlepas dari kontroversi yang muncul, Davide Tardozzi tetap konsisten menyuarakan satu hal: keselamatan pembalap adalah harga mati, sementara persaingan gelar masih terbuka lebar hingga balapan terakhir.
