Bank Indonesia Pangkas GWM Rp190 Triliun, Sinyal Likuiditas Longgar di Tengah Kredit Melaju
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Bank Indonesia kembali menjadi sorotan pasar keuangan Tanah Air setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 Oktober 2026 mengambil langkah strategis yang menyentuh langsung denyut likuiditas industri perbankan. Dalam keputusan yang diumumkan langsung dari Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta, bank sentral memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, namun sekaligus merelaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap demi mengucurkan tambahan likuiditas hingga sekitar Rp190 triliun ke sistem perbankan nasional.
Keputusan ini lahir dari sebuah dilema klasik yang kini kembali menghantui sektor keuangan: pertumbuhan kredit yang berlari kencang tak diimbangi laju penghimpunan dana. Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 13,26 persen secara tahunan (yoy) pada September 2026, sedikit melandai dari 13,65 persen yoy pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, Dana Pihak Ketiga (DPK) justru melambat drastis, hanya tumbuh 8,22 persen yoy dari sebelumnya 10,95 persen yoy.
Rincian Kebijakan: GWM Turun, Insentif Disesuaikan
Dalam rangka melonggarkan likuiditas, bank sentral menurunkan GWM bank umum konvensional secara bertahap dari 9 persen menjadi 8 persen mulai 1 November 2026, lalu kembali turun menjadi 7 persen pada Desember 2026. Insentif serupa diberikan kepada bank umum syariah dan unit usaha syariah, yang GWM-nya diturunkan dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen pada 1 November, kemudian menjadi 5,5 persen pada 1 Desember 2026.
Selain itu, Bank Indonesia turut menyesuaikan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan menurunkan maksimal insentif dari 6 persen menjadi 5 persen. Rinciannya, insentif financing channel turun dari maksimal 4 persen menjadi 3 persen, sementara insentif pendalaman pasar uang (PPU) tetap di level 2 persen. Suku bunga Lending Facility juga dipertahankan di 6,50 persen, sedangkan Deposit Facility dinaikkan 25 basis poin menjadi 5 persen.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan moneter ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. “Kebijakan ini guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Destry dalam konferensi pers, Rabu (21/10).
Intervensi Valas dan Insentif Lindung Nilai
Untuk memperkuat efektivitas stabilisasi rupiah, Bank Indonesia akan mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Langkah lain adalah meningkatkan insentif instrumen DNDF Lindung Nilai kepada Bank Indonesia untuk transaksi underlying pendanaan luar negeri, dengan pengurangan premi dari semula 25 persen menjadi 40 persen untuk tenor 6 bulan, dan dari 30 persen menjadi 45 persen untuk tenor 12 bulan.
Waspada El Nino dan Inflasi Pangan
Di sisi lain, bank sentral menyoroti potensi risiko inflasi pangan akibat fenomena El Nino yang diproyeksi berlanjut hingga awal 2027. Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P Gozali menuturkan, dampak El Nino berkepanjangan paling besar menekan inflasi komponen harga pangan bergejolak (volatile food), utamanya di wilayah Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Bali, Nusa Tenggara, dan Sumatera.
Secara spasial, tekanan inflasi volatile food tertinggi terjadi di wilayah Sulampua dengan inflasi mencapai 8,63 persen, dipengaruhi komoditas cabai rawit, cabai merah, tomat, bawang merah, beras, serta ikan cakalang dan tongkol. Sementara itu, inflasi volatile food di Kalimantan tercatat 7,62 persen. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026 tercatat 3,28 persen yoy, naik dari 3,19 persen yoy pada Agustus 2026, dengan inflasi volatile food mencapai 5,03 persen.
Respons Positif dari Pelaku Pasar
Keputusan bauran kebijakan Bank Indonesia ini menuai apresiasi dari kalangan ekonom yang menilai langkah tersebut tepat untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong likuiditas perbankan. Di sisi lain, dinamika suku bunga simpanan turut mencerminkan kondisi likuiditas yang mulai longgar. Berdasarkan pemantauan hingga Senin (26/10/2026), bank-bank BUMN seperti BRI, BNI, dan Bank Mandiri masih mempertahankan bunga deposito rupiah tanpa perubahan. BRI menetapkan bunga 3,00 persen per tahun untuk tenor 1, 3, dan 6 bulan, serta 2,50 persen untuk tenor 12, 24, dan 36 bulan, dengan perlindungan LPS hingga Rp2 miliar per nasabah per bank.
Likuiditas yang melimpah juga terlihat dari derasnya aliran kredit antarbank. PT Buana Finance Tbk baru saja mengantongi fasilitas kredit Rp500 miliar dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk melalui perjanjian Term Loan berjangka maksimal 48 bulan yang ditandatangani Senin (26/10). Fasilitas tersebut akan digunakan untuk modal kerja pembiayaan konsumen dan financial lease, dijamin dengan piutang perusahaan.
Di sisi lain, sinergi ekosistem keuangan juga terus menggeliat. PT Bank Ina Perdana Tbk (Bank INA) menjalin kerja sama dengan PT Central Asia Financial (Asuransi Jagadiri) untuk menyediakan Asuransi Jiwa Kredit bagi nasabah KPR. Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi menyebut kolaborasi ini sebagai wujud sinergi Salim Group di sektor keuangan, dengan penyaluran kredit Bank INA yang mencapai Rp14,78 triliun hingga kuartal I-2026, tumbuh 10 persen dari Rp13,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kesimpulan
Langkah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sembari merelaksasi GWM menjadi sinyal jelas bahwa bank sentral ingin menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan kebutuhan likuiditas perbankan. Dengan tambahan likuiditas hingga Rp190 triliun, ruang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit semakin terbuka, meski kewaspadaan terhadap tekanan inflasi pangan akibat El Nino tetap menjadi pekerjaan rumah bersama. Bagi masyarakat, kebijakan ini diharapkan berujung pada ketersediaan pembiayaan yang lebih luas, sementara stabilitas rupiah dan daya beli tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Sukardi
Sumber Berita: Fortune Indonesia, CNBC Indonesia, Kontan.co.id
