Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Klub raksasa Kroasia, Hajduk Split, tengah menjadi sorotan bukan hanya karena prestasi di lapangan, tetapi juga rentetan kontroversi di luar lapangan. Tim berjuluk ‘Bili’ tersebut baru saja menorehkan hasil impresif di ajang Liga Konferensi Eropa dengan mengalahkan tuan rumah FC Thun 1-0, Jumat (17/10/2026) dini hari WIB. Namun, kemenangan itu ternoda oleh insiden yang melibatkan kelompok suporter fanatik mereka, Torcida, yang berujung pada tindakan hukum dan sanksi berat dari UEFA.
Pertandingan melawan FC Thun di Stadion Stockhorn, Swiss, menjadi bukti kekuatan Hajduk Split di kancah Eropa. Gol tunggal Dalisson de Almeida pada menit ke-17 memastikan tiga poin bagi tim tamu. Meski sempat mendapat perlawanan sengit, termasuk gagalnya penalti Michele Sego di menit ke-67, Hajduk Split mampu mempertahankan keunggulan. Kemenangan ini melanjutkan tren positif mereka setelah sebelumnya mengalahkan Ajax Amsterdam dan rival abadi Dinamo Zagreb. Dengan hasil ini, Hajduk Split memuncaki klasemen sementara Grup Liga Konferensi dengan nilai sempurna dari dua laga, sementara Thun belum meraih poin.
Sayangnya, euforia kemenangan harus dibayar mahal. UEFA menjatuhkan sanksi berat kepada Hajduk Split buntar kerusuhan yang terjadi dalam laga melawan Ajax Amsterdam. Hukuman tersebut diumumkan melalui laman resmi klub, Selasa (21/10/2026). Sanksi mencakup penutupan seluruh stadion untuk pertandingan Liga Konferensi berikutnya melawan Sint-Truiden, denda sebesar €80.000, serta denda tambahan €16.000 karena adanya jalur evakuasi yang terhalang. UEFA juga memberikan sanksi percobaan yang akan aktif jika insiden serupa terulang. Keputusan ini tentu menjadi pukulan bagi Hajduk Split yang kehilangan dukungan langsung dari ribuan suporter setianya.
Di saat yang sama, aparat kepolisian Kroasia tengah menyelidiki ancaman yang dilontarkan terhadap sejumlah jurnawan usai pertandingan melawan Ajax. Seorang pemimpin fan klub Hajduk Split, Torcida, dilaporkan telah ditahan terkait insiden ‘Nazi-Marsch’ yang kontroversial. Aksi tersebut memicu kemarahan publik dan mencoreng citra klub. Polisi masih mendalami keterlibatan anggota Torcida lainnya dalam kasus ancaman terhadap wartawan. Insiden ini menambah daftar panjang masalah disiplin yang melibatkan suporter Hajduk Split, yang selama ini dikenal vokal dan fanatik.
Meski diterpa berbagai masalah, performa Hajduk Split di lapangan tetap solid. Di bawah asuhan pelatih, tim ini mampu menunjukkan kematangan taktik dan mentalitas juara. Kemenangan atas Thun menjadi bukti bahwa skuad asuhan pelatih asal Kroasia tersebut mampu fokus meski tekanan eksternal terus menghantui. Para pemain seperti Dalisson de Almeida, Michele Sego, dan Martin Soticek (peminjaman dari Basel) tampil impresif. Dukungan sekitar 5.000 fans Kroasia yang hadir langsung di stadion juga menjadi motivasi tambahan bagi para pemain.
Hajduk Split memang dikenal memiliki basis suporter yang besar dan militan. Kelompok Torcida, yang berdiri sejak 1950, merupakan salah satu kelompok suporter tertua di Eropa. Namun, aksi-aksi anarkis dan provokatif kerap kali mencoreng nama baik klub. Manajemen Hajduk Split sendiri telah berulang kali mengimbau agar suporter menjaga ketertiban, tetapi tantangan tetap besar. Sanksi UEFA dan proses hukum yang sedang berjalan menjadi alarm bagi klub untuk lebih serius menangani perilaku suporter.
Ke depan, Hajduk Split akan menghadapi jadwal padat di Liga Konferensi. Laga melawan FC Midtjylland pada 17 Desember 2026 mendatang akan menjadi ujian berikutnya. Tanpa dukungan penonton di kandang sendiri, ‘Bili’ harus mencari cara untuk tetap meraih hasil maksimal. Kemenangan atas Thun setidaknya memberikan modal kepercayaan diri bahwa tim ini mampu bersaing di level Eropa. Namun, bayang-bayang sanksi dan penyelidikan polisi masih akan menjadi tantangan tersendiri.
Kisah Hajduk Split musim ini adalah potret dualisme sepak bola modern: prestasi gemilang di lapangan seringkali dibarengi dengan masalah di luar lapangan. Klub asal Split ini memiliki sejarah panjang dan gairah suporter yang luar biasa, tetapi juga harus menanggung konsekuensi dari tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab. Sanksi UEFA dan ancaman terhadap jurnalis menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar soal menang atau kalah, tetapi juga tentang menjaga sportivitas dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan segala dinamika yang ada, Hajduk Split tetap menjadi salah satu klub paling menarik untuk diikuti. Perjalanan mereka di Liga Konferensi Eropa masih panjang. Akankah mereka mampu melewati badai kontroversi dan mewujudkan mimpi Eropa? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, setiap langkah Hajduk Split akan selalu menjadi sorotan, baik di dalam maupun di luar lapangan.

