Tragedi Pencak Silat: Atlet Semarang Meninggal Sehari Usai Operasi, Polisi Periksa Lima Tenaga Medis
Kalimantan Update – 30 Oktober 2026 | Dunia pencak silat Tanah Air kembali berduka. Atlet pencak silat asal Semarang, Ayudiah Rivana, meninggal dunia pada Rabu (28/10/2026) pagi, hanya sehari setelah menjalani operasi cedera jari tengah akibat terkena tendangan saat bertanding di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar, mengingat operasi dilaporkan berjalan lancar tanpa kendala.
Insiden bermula saat Ayudiah bertanding pada Senin (26/10/2026). Dalam pertandingan pencak silat tersebut, jari tengahnya terkena tendangan lawan hingga berdarah. Berdasarkan hasil rontgen, tidak ditemukan patah tulang, namun ruas jari tengahnya mengalami pergeseran sehingga memerlukan tindakan operasi. Ayudiah kemudian dirujuk ke RS Primaya Semarang untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Operasi pun dijadwalkan pada Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Menurut Nurfaqih, pelatih sekaligus pihak yang mendampingi atlet, informasi yang diterimanya menyebut operasi berlangsung lancar. Keluarga Ayudiah bahkan sempat menyampaikan kabar bahwa tindakan medis telah selesai pada pukul 19.30 WIB tanpa masalah. “Setelah dioperasi, operasinya berjalan lancar dan tidak ada masalah. Orang tuanya pada jam 19.30 juga sempat menyampaikan bahwa semuanya sudah selesai,” ujar Nurfaqih saat dihubungi, Rabu (28/10/2026).
Namun, kabar duka datang keesokan harinya. “Pagi-pagi bapaknya mengabari kalau dia sudah tidak ada,” kata Nurfaqih. Ayudiah dikabarkan meninggal dunia saat akan dibangunkan di kamar perawatannya di rumah sakit. Nurfaqih menambahkan, atlet pencak silat tersebut sebelumnya berada dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit bawaan. “Sebelumnya sehat-sehat saja. Tidak memiliki penyakit bawaan juga,” sambungnya.
Kematian Ayudiah yang mendadak setelah operasi cedera jari memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk kepolisian. Satreskrim Polrestabes Semarang bergerak cepat melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian atlet pencak silat berprestasi itu. Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang AKP Jumani menegaskan, penyelidikan dilakukan meskipun keluarga tidak meminta. “Karena peristiwa ini menyangkut nyawa seseorang, kami tetap melakukan penyelidikan, terlepas dari ada atau tidaknya permintaan keluarga,” kata Jumani di Mapolrestabes Semarang, Kamis (29/10/2026).
Penyidik telah meminta klarifikasi kepada sejumlah pihak di rumah sakit. “Langkah yang sudah kita lakukan adalah melakukan klarifikasi kepada para dokter, direktur berikut dengan perawat-perawat yang jaga saat itu. Ada sekitar lima orang yang kita periksa dari pihak rumah sakit setelah kejadian ini, secara maraton. Ini masih berkembang terus,” beber Jumani. Ia menambahkan, saksi-saksi akan terus bertambah, termasuk pihak panitia penyelenggara pertandingan. “Iya semuanya nanti arahnya ke sana, semua pihak yang terkait akan dimintai keterangan,” ujarnya.
Kepolisian juga telah menyarankan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian secara medis, namun keluarga menolak. “Prinsip kami mengedepankan kehati-hatian, mengumpulkan keterangan dari semua pihak yang berkaitan, dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian sebelum proses penyelidikan selesai,” tegas Jumani. Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab meninggalnya Ayudiah. Polisi masih mendalami apakah terdapat unsur kesengajaan atau kelalaian dalam penanganan medis yang dilakukan.
Kepergian Ayudiah Rivana menjadi pukulan berat bagi keluarga, rekan, dan dunia pencak silat Indonesia. Sosoknya dikenal sebagai atlet yang sehat dan bersemangat. Kasus ini juga menjadi sorotan terkait prosedur penanganan cedera dalam pertandingan pencak silat, terutama yang berujung pada tindakan operasi. Publik berharap penyelidikan kepolisian dapat mengungkap fakta sebenarnya dan memberikan keadilan bagi almarhumah.
Sebagai penutup, peristiwa ini mengingatkan pentingnya standar keselamatan dan penanganan medis yang cepat dan tepat dalam setiap kompetisi olahraga, khususnya pencak silat. Semua pihak—penyelenggara, tenaga medis, dan pelatih—perlu memastikan atlet mendapatkan perlindungan maksimal. Mari kita doakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan semoga kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
