Corinthians di Ambang Kehancuran: Dari Cedera Memphis Depay hingga Drama Pilpres Klub
Kalimantan Update – 01 November 2026 | Klub raksasa Brasil, Corinthians, tengah menghadapi badai besar yang mengancam stabilitas tim di lapangan maupun di ruang rapat. Mulai dari cedera berkepanjangan yang membelit bomber Memphis Depay, kekacauan proses pemilihan presiden klub yang berujung pada impugnan kandidat, hingga kehancuran mental tim sepak bola wanita yang menelan kekalahan tragis di final Libertadores. Semua sorotan publik tertuju pada Corinthians, yang kini harus berjuang keras untuk keluar dari pusaran masalah yang saling bertumpuk.
Cedera Memphis Depay: Harapan di Tengah Ketidakpastian
Striker andalan Corinthians, Memphis Depay, masih berjuang melawan cedera edema otot pada biceps femoralis di paha kanannya. Cedera ini membuatnya absen sejak 11 Oktober dan dipastikan tidak tampil saat melawan Mirassol pekan lalu. Meski ada harapan untuk kembali memperkuat tim melawan São Paulo pada Rabu (4/11) mendatang, pihak klub memilih untuk sangat berhati-hati. Pelatih tim menegaskan bahwa pemulihan otot tidak bisa dipaksakan, mengingat karakter permainan Depay yang eksplosif dan membutuhkan penanganan khusus.
Pakar fisioterapi olahraga, Joanilson Jacobs, menjelaskan bahwa cedera pada area tersebut sangat riskan karena otot biceps femoralis merupakan bagian dari kelompok ischiocrural yang berperan vital dalam gerakan akselerasi, deselerasi, dan perubahan kecepatan. Ia menambahkan bahwa pemain dengan gaya seperti Depay sangat rentan mengalami cedera berulang jika tidak dipulihkan secara maksimal. Sepanjang tahun ini saja, Depay sudah tiga kali harus menepi. Pada Januari lalu, ia menjalani program rebalancing fisik selama 25 hari dan kemudian absen hampir dua bulan karena cedera otot di bagian depan paha kanan. Kembalinya ke lapangan pun nanti kemungkinan akan dilakukan secara bertahap, dengan menit bermain yang dikontrol ketat untuk mencegah cedera kambuh.
Pilpres Klub Memanas: Kandidat Janikian Terganjal Aturan
Di sisi manajemen, proses pemilihan presiden Corinthians juga tidak kalah panas. Kandidat Sergio Janikian dipastikan tidak akan kembali maju dalam pemilihan meskipun telah ada putusan pengadilan yang membatalkan hukumannya di Pengadilan Negeri Santa Catarina. Komisi Pemilihan dan Ketua Dewan Deliberatif, Romeu Tuma Júnior, tetap menolak pencalonannya dengan alasan bahwa pada saat pendaftaran, Janikian masih berstatus terhukum. Menurut Tuma, keputusan tersebut final dan tidak dapat diajukan banding lagi ke Ketua Dewan. Jika Janikian masih ingin mencalonkan diri, ia harus menempuh jalur hukum melalui pengadilan.
Janikian sendiri tidak tinggal diam. Ia menuding Tuma sebagai simbol politik lama yang otoriter dan berupaya menghalangi perubahan di tubuh Corinthians. Menurutnya, penolakan ini adalah bentuk ketakutan akan potensi kemenangannya yang dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan kelompok lama. Janikian sebelumnya divonis atas kasus penggelapan PPN senilai lebih dari Rp5,6 miliar. Meskipun vonis telah dibatalkan, statusnya belum sepenuhnya bebas secara hukum, sehingga aturan Liga Olahraga Brasil dan statuta klub tetap menghalanginya untuk maju. Polemik ini menambah panjang daftar masalah yang harus dihadapi Corinthians di luar lapangan.
Tragedi Brabas: Kekalahan Menyakitkan di Final Libertadores
Di sektor putri, tim Corinthians yang dijuluki Brabas harus menelan pil pahit setelah kalah dramatis dari Cruzeiro di final Copa Libertadores Feminina. Sempat unggul 3-0 dan kemudian 4-2, Corinthians akhirnya harus menyerah melalui adu penalti dengan skor 5-4 setelah pertandingan berakhir imbang 4-4. Kekalahan ini menjadi pukulan telak, terlebih karena tim asuhan pelatih tersebut sudah sangat dekat dengan gelar juara ketujuh kalinya.
Bintang Corinthians, Gabi Zanotti, yang mencetak dua gol dalam laga itu dan mencapai rekor 101 gol untuk klub, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia menyebut bahwa timnya kehilangan agresivitas setelah unggul jauh, dan menganggap ini sebagai tahun yang harus dilupakan. “Kami membuka 3-0 dan mengubah sedikit sikap. Itu tidak dapat diterima,” ujarnya. Senada dengan Zanotti, penyerang Vic Albuquerque juga menyoroti kesalahan pertahanan yang membuat keunggulan sirna. Ia mengakui bahwa tim lawan memanfaatkan bola mati dengan baik, sementara Corinthians gagal menjaga konsistensi permainan.
Kekalahan ini merupakan kali keempat Corinthians harus puas menjadi runner-up sepanjang tahun 2026. Meski demikian, pencapaian tim tetap diapresiasi, namun jelas bahwa perombakan besar-besaran diperlukan untuk kembali ke jalur kemenangan. Para pemain dan staf pelatih diharapkan segera melakukan evaluasi total guna menghadapi musim depan dengan semangat baru.
Kesimpulan
Corinthians saat ini berada di persimpangan jalan. Di lapangan, mereka harus mengelola pemulihan pemain kunci seperti Memphis Depay dengan sangat hati-hati agar tidak memperparah cedera. Di ruang rapat, konflik internal dalam pemilihan presiden menunjukkan adanya perpecahan yang perlu segera diselesaikan demi stabilitas klub. Sementara itu, tim putri harus bangkit dari kekecewaan besar di final Libertadores. Semua mata akan tertuju pada langkah apa yang akan diambil Corinthians untuk keluar dari masa sulit ini dan kembali menjadi kekuatan dominan di Brasil dan Amerika Selatan.
