Misteri Kematian Richard Norton Terungkap: Suntikan Peptida 'Anti-Aging' Picu Henti Jantung, Koroner Desak Regulasi Baru
Kalimantan Update – 02 November 2026 | Kematian aktor laga Australia Richard Norton akhirnya menemukan titik terang setelah lebih dari satu tahun. Koroner kota Melbourne, David Ryan, dalam laporan inkuisisi resmi yang dirilis pada 28 Oktober 2026, menyimpulkan bahwa Richard Norton meninggal akibat henti jantung di luar rumah sakit yang dipicu oleh reaksi anafilaksis setelah menyuntikkan peptida tidak terdaftar. Aktor berusia 75 tahun itu menghembuskan napas terakhir pada 30 Maret 2025 di kediamannya di Melbourne, meninggalkan sang istri, aktris Judy Green, yang saat itu berusaha keras melakukan resusitasi jantung paru sebelum bantuan medis tiba.
Dalam temuan yang mengejutkan dunia hiburan dan medis, koroner mengungkap bahwa Richard Norton menggunakan peptida CJC1295 dan Ipamorelin—dua jenis peptida yang belum mendapat persetujuan luas dari Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia. Peptida tersebut diresepkan oleh dokter Jerzy Muchnicki sebagai terapi eksperimental untuk mempercepat pemulihan cedera bahu, meningkatkan massa otot, dan mengatasi kelelahan. Namun, laporan menyebutkan bahwa aktor tersebut secara diam-diam menginjeksi diri dengan dosis dua kali lipat dari yang diresepkan. Pada 28 Maret 2025, ia bahkan meminta tambahan botol kepada perawat dengan alasan botol sebelumnya pecah.
“Suntikan tersebut menyebabkan reaksi anafilaktik yang kemudian berujung pada henti jantung,” demikian bunyi kesimpulan laporan koroner. Asma dan kardiomiopati hipertrofik—penyakit otot jantung—disebut sebagai faktor kontribusi yang memperburuk kondisi. Insiden ini menjadi kasus pertama di Australia yang secara langsung mengaitkan kematian dengan penggunaan peptida tidak teregulasi, memicu kekhawatiran serius di kalangan ahli kesehatan.
Richard Norton dikenal luas sebagai aktor dan instruktur bela diri yang telah berkolaborasi dengan sederet bintang Hollywood, termasuk Chuck Norris, Jackie Chan, Margot Robbie, Charlize Theron, Scarlett Johansson, Ben Affleck, dan Liam Neeson. Namanya semakin mencuat lewat perannya dalam film Mad Max: Fury Road. Di balik layar, ia juga dikenal sebagai koreografer aksi dan pelatih fisik untuk berbagai produksi film laga.
Koroner David Ryan merekomendasikan agar TGA mengevaluasi ulang risiko dan manfaat penggunaan peptida seperti CJC1295 dan Ipamorelin, serta mempertimbangkan pembatasan yang lebih ketat. “Rekomendasi ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran yang berkembang tentang penggunaan peptida tidak terdaftar,” tulis Ryan dalam laporannya. Sejumlah pakar kesehatan mendukung langkah tersebut, mengingat peptida semakin populer di media sosial sebagai solusi anti-penuaan, penyembuhan luka cepat, dan peningkatan kualitas tidur.
Dokter Jerzy Muchnicki, yang meresepkan peptida tersebut, telah menyatakan bertanggung jawab, meminta maaf atas kesalahan penilaian, dan berkomitmen untuk tidak lagi meresepkan peptida di masa depan. Meskipun Norton menandatangani surat persetujuan yang mencantumkan anafilaksis sebagai risiko, fakta bahwa ia melampaui dosis yang dianjurkan menjadi sorotan utama dalam inkuisisi ini.
Kematian Richard Norton meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan penggemar. Judy Norton, melalui unggahan di Instagram saat mengumumkan kepergian suaminya, menulis, “Aku mati rasa dan hancur, aku tidak punya kata-kata. Aku kehilangan segalanya. Cinta dalam hidupku.” Kasus ini pun menjadi peringatan keras bagi masyarakat luas akan bahaya menggunakan zat eksperimental tanpa pengawasan ketat, terlebih dengan dosis yang tidak sesuai anjuran.
Dengan terungkapnya penyebab pasti kematian Richard Norton, publik berharap regulasi penggunaan peptida di Australia dan dunia internasional dapat diperketat. Kisah tragis sang aktor menjadi pengingat bahwa di balik janji awet muda dan pemulihan instan, selalu ada risiko kesehatan yang mengintai jika tidak ditangani oleh tenaga medis profesional dan sesuai prosedur yang berlaku.
