INET Cetak Sejarah: Pendapatan Meroket 2.154% Tembus Rp1,55 Triliun, Laba Bersih Melonjak 199%
Kalimantan Update – 04 November 2026 | Emiten infrastruktur digital dan layanan internet PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatatkan kinerja keuangan yang luar biasa sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pada periode Januari hingga September 2026, inet membukukan pendapatan neto sebesar Rp1,55 triliun, melesat 2.154 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp68,60 miliar. Lonjakan dramatis ini menandai babak baru ekspansi bisnis inet di tengah geliat industri digital nasional.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 yang dirilis di Jakarta, Selasa (3/11), pertumbuhan pendapatan tersebut turut mengerek laba bruto inet sebesar 564,99 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp215,59 miliar dari sebelumnya Rp32,42 miliar. Sementara itu, laba usaha perseroan melonjak 410,70 persen menjadi Rp129,05 miliar dibandingkan Rp25,27 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp58,06 miliar, tumbuh 199,69 persen YoY, dengan laba per saham dasar tercatat sebesar Rp4,91.
Direktur Utama INET Muhammad Arif mengatakan, lonjakan kinerja tersebut mencerminkan peningkatan skala bisnis perseroan sepanjang 2026. Menurutnya, capaian hingga September 2026 menunjukkan peningkatan skala bisnis inet yang signifikan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba usaha yang kuat. Ia menegaskan, perseroan akan menjaga kualitas pendapatan, pengendalian biaya, serta profitabilitas agar pertumbuhan inet tetap berkelanjutan ke depan.
Dari sisi komposisi pendapatan, bisnis jasa alih daya (outsourcing) menjadi kontributor dominan dengan nilai Rp1,26 triliun atau sekitar 81,77 persen dari total pendapatan neto. Sementara itu, segmen layanan internet mencatatkan pendapatan Rp281,95 miliar, meningkat 319,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp67,16 miliar. Sejalan dengan ekspansi bisnis, beban pokok pendapatan inet mencapai Rp1,33 triliun, sehingga perseroan membukukan laba bruto Rp215,59 miliar dengan margin laba bruto sebesar 13,94 persen.
Arif menegaskan, pertumbuhan laba menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis, tetapi perseroan tetap memperhatikan sejumlah aspek fundamental untuk menjaga keberlanjutan kinerja. Ia menilai, kombinasi antara lini alih daya yang stabil dan layanan internet yang tumbuh pesat menjadi fondasi penting bagi inet dalam menghadapi persaingan industri digital yang semakin ketat.
Kinerja gemilang inet ini juga menarik perhatian pelaku pasar. Dalam rekomendasi hariannya, tim analis BRI Danareksa Sekuritas menempatkan INET sebagai salah satu dari tiga saham pilihan pada perdagangan Selasa (3/11), bersama INDY dan PGAS. Rekomendasi tersebut muncul di tengah upaya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melepaskan diri dari tekanan tren bearish, setelah ditutup naik 0,79 persen ke level 5.096,83.
Meski demikian, pasar masih dibayangi sejumlah sentimen. Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyebut, IHSG berpotensi melanjutkan konsolidasi dengan menguji resisten 5.116–5.170. RSI di level 29,67 masih berada di area oversold, sementara indeks jauh di bawah MA200 di 6.846, sehingga tren utama masih bearish. Peluang rebound tetap terbuka selama support 5.027–4.962 mampu dipertahankan.
Dari sisi makro, inflasi Oktober melandai ke 3,23 persen (YoY) dan neraca perdagangan September masih surplus US$3,36 miliar, meski menyusut dari US$3,55 miliar pada Agustus. PMI Manufaktur Indonesia Oktober juga meningkat ke 54,0 dari 52,4 pada September, menandakan ekspansi aktivitas industri semakin kuat. Namun, aksi jual asing serta posisi rupiah di sekitar Rp18.156 per dolar AS masih menekan pergerakan IHSG.
Selain itu, pelaku pasar mencermati implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC), dengan bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG, dari perhitungan indeks. Perhatian juga tertuju pada pemilu sela Amerika Serikat dan data JOLTS, disusul rilis PDB Indonesia kuartal III pada 5 November dengan konsensus pertumbuhan 5,0 persen (YoY), serta data tenaga kerja AS (NFP) pada 6 November.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menambahkan, pergerakan IHSG berhasil mengalami rebound meskipun dibayangi ketidakpastian di tengah sinyal indikator yang bervariasi. Sinyal Stochastics K-D menunjukkan pergerakan negatif dan volume menurun, walaupun sinyal RSI tercatat positif. Hasil pemilu sela AS disebutnya akan menentukan konfigurasi kekuatan politik di Kongres dan memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Donald Trump, khususnya terkait regulasi industri teknologi, pembangunan infrastruktur pusat data, kebijakan fiskal, serta sektor pertahanan dan kesehatan.
Secara keseluruhan, kinerja fantastis inet sepanjang sembilan bulan pertama 2026 menjadi bukti nyata bahwa strategi ekspansi di sektor infrastruktur digital dan layanan internet mampu mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba secara signifikan. Dengan komposisi bisnis yang kian matang, pengendalian biaya yang terjaga, serta dukungan sentimen pasar terhadap saham pilihannya, inet berpeluang mempertahankan momentum pertumbuhan yang berkelanjutan. Meski tantangan makro global dan volatilitas pasar masih membayangi, fondasi bisnis yang kuat membuat inet layak dicermati sebagai salah satu emiten infrastruktur digital yang patut diperhitungkan investor di sisa tahun 2026.
