Pameran Sulam Sugul Khas Banjar Cetak Transaksi Rp 228 Juta, Momentum Kebangkitan Kriya Lokal
Kalimantan Update – 04 November 2026 | Pameran Sulam Sugul Khas Banjar Catat Transaksi Rp 228 Juta menjadi bukti nyata tingginya potensi kerajinan lokal Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Selama dua hari penyelenggaraan, ajang yang digelar Pemerintah Kabupaten Banjar ini berhasil membukukan nilai penjualan sebesar Rp 228.006.000, angka yang sekaligus menjadi indikator besarnya minat pasar terhadap produk kriya berbasis keterampilan tangan tersebut.
Pameran yang berlangsung di Gedung William Tandiono, Kecamatan Gambut, resmi ditutup oleh Bupati Banjar H Saidi Mansyur pada Selasa siang. Capaian transaksi tersebut dinilai bukan sekadar angka, melainkan momentum strategis untuk membangkitkan kembali industri kriya Sulam Sugul yang sempat mengalami penurunan pesanan akibat keterbatasan pasar.
Transformasi Produk agar Berdaya Saing
Saidi menjelaskan bahwa selama ini Sulam Sugul lebih banyak mengandalkan produk Bolang Haji sebagai pasar utama. Kondisi itu membuat kerajinan tersebut rentan ketika permintaan terhadap produk tunggal melemah. Karena itu, pengembangan melalui inovasi produk dinilai menjadi keharusan agar mampu mengikuti perkembangan tren dan kebutuhan pasar.
Kerajinan Sulam Sugul kini tidak hanya diaplikasikan pada Bolang Haji, tetapi juga dikembangkan menjadi beragam produk fesyen modern. Mulai dari pakaian berhias payet, hijab, tas, alas kaki, hingga berbagai aksesori yang lebih sesuai dengan selera pasar kekinian.
“Transformasi ini menjadi sebuah keharusan agar Sulam Sugul memiliki daya saing komersial dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Saidi.
Ia juga mengingatkan para perajin dan pelaku UMKM agar terus meningkatkan kualitas serta kreativitas dalam menghasilkan produk. Menurutnya, kualitas bahan, kerapian jahitan, dan ketepatan waktu produksi harus terus diperbaiki. Bupati pun mendorong adanya transfer keahlian kepada generasi muda di desa-desa agar regenerasi perajin Sulam Sugul tidak terputus.
Dukungan Pembayaran Nontunai
Ketua Dekranasda Kabupaten Banjar Hj Nurgita Tiyas menyampaikan apresiasi atas capaian transaksi selama pameran. Menurut Gita, pencatatan transaksi didukung fasilitas pembayaran nontunai melalui Bank Kalsel sehingga nilai penjualan dapat terakumulasi dengan baik dan terlaporkan secara transparan.
“Dibantu juga oleh Bank Kalsel untuk memberikan pelayanan transaksi cashless. Pembayaran pembelian dalam kegiatan ini dilakukan secara nontunai, sehingga angka akumulasinya bisa kami laporkan. Kurang lebih yang sudah terlaporkan kepada kami sebesar Rp 228.006.000,” jelas dia.
Nurgita menambahkan, kerajinan Sulam Sugul memiliki nilai lebih karena dikerjakan langsung oleh para ibu rumah tangga di sela aktivitas sehari-hari. Keterampilan tersebut tidak hanya menjadi sarana mengisi waktu luang, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga.
“Melalui tangan-tangan terampil, ada satu harapan, ingin daerah kita maju dan lebih dikenal. Para ibu ini mengerjakan kerajinan sambil mengisi waktu luang. Ada yang sambil menunggu anaknya sekolah dari jam 08.00 sampai jam 10.00 mereka sambil menyulam,” tutur dia.
Ia menegaskan, setiap karya yang dihasilkan para perajin patut mendapatkan apresiasi dan penghargaan karena membutuhkan keterampilan, ketekunan, serta kreativitas. “Apa pun yang diciptakan perajin menggunakan 10 jari adalah hal yang sangat harus kita apresiasi dan kita hargai,” imbuhnya.
Rangkaian Workshop dan Pameran Kriya
Kegiatan yang difokuskan untuk mengangkat kembali eksistensi Sulam Sugul ini dilaksanakan melalui dua agenda utama. Pertama, Workshop Kriya yang digelar pada Senin, diisi pelatihan teknis dengan menghadirkan narasumber profesional dan diikuti anggota Dekranasda.
Kedua, Exhibition atau Pameran Kriya yang menampilkan beragam produk kerajinan, mulai dari pakaian berhias payet dan Sulam Sugul, kain Sasirangan, kriya arguci, hingga berbagai aksesori, tas, dan alas kaki. Pameran Sulam Sugul Khas Banjar Catat Transaksi Rp 228 Juta pun menjadi penutup rangkaian kegiatan yang berhasil menarik perhatian masyarakat dan pelaku usaha.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan sertifikat Kekayaan Intelektual kepada Ketua Dekranasda Kabupaten Banjar oleh Dewi Woro Lestari dari Kantor Wilayah Kemenkumham Kalimantan Selatan. Bupati Banjar bersama Ketua Dekranasda turut menyerahkan sertifikat kepada dua perajin sebagai bentuk apresiasi atas karya dan kreativitas mereka.
Turut hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar H Yudi Andrea, Ketua Dharma Wanita Persatuan, para asisten, kepala SKPD, pimpinan perbankan dan instansi vertikal, seluruh camat, serta para perajin Sulam Sugul dan pelaku UMKM Kabupaten Banjar.
Dorongan bagi SKPD dan Sektor Perbankan
Selain mendorong inovasi, bupati meminta seluruh SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar turut mendukung pemasaran produk lokal. Caranya dengan menjadikan Sulam Sugul dan Sasirangan sebagai pilihan busana maupun aksesori dalam berbagai kegiatan resmi dan keseharian.
Ia juga mengajak sektor perbankan, seperti Bank Kalsel, Bank Mandiri, BNI, dan BPR, untuk memperkuat dukungan kepada perajin melalui kemudahan akses permodalan dan kredit. Dengan begitu, kapasitas produksi dapat ditingkatkan dan pesanan yang lebih besar dapat dipenuhi.
Saidi berharap pameran tersebut menjadi momentum kebangkitan kerajinan khas Banjar dengan semangat Ekonomi Tumbuh Kuat, Keluarga Sejahtera, Perajin Tangguh, Berbudaya.
Sebagai penutup, capaian Pameran Sulam Sugul Khas Banjar Catat Transaksi Rp 228 Juta menunjukkan bahwa kerajinan tradisional tetap memiliki ruang pasar yang luas apabila dikemas dengan inovasi dan didukung ekosistem pembayaran yang modern. Keberhasilan ini diharapkan tidak berhenti pada satu ajang, tetapi menjadi titik awal kebangkitan industri kriya Sulam Sugul yang berkelanjutan, mampu menyejahterakan para perajin, sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Banjar di tingkat nasional.
