Final ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Tantang Thailand, Singapura Jadi Saksi Bisu Kebangkitan Garuda

Foto: Istimewa

Final ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Tantang Thailand, Singapura Jadi Saksi Bisu Kebangkitan Garuda

Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Jakarta, 5 Oktober 2026 – Tim nasional sepak bola Singapura menjadi saksi bisu bagaimana Timnas Indonesia bangkit dari keterpurukan dan melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam laga penyisihan Grup A yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Indonesia mengalahkan Singapura 2-0. Kemenangan itu menjadi titik awal kebangkitan Garuda, sekaligus memperlihatkan bahwa tim nasional sepak bola Singapura masih menjadi penantang yang patut diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.

Malam ini, Senin (5/10/2026), Indonesia akan menghadapi Thailand di partai puncak. Laga ini menjadi momen bersejarah karena menjadi final pertama FIFA ASEAN Cup, turnamen resmi FIFA yang digelar di Asia Tenggara. Lebih dari itu, Indonesia berpeluang memutus rekor buruk melawan Thailand dan meraih gelar senior pertama sejak SEA Games 1991.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengaku sangat antusias. “Kami sangat antusias melihat tim melangkah ke SUGBK besok dan memberikan segalanya untuk negara,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (4/10/2026). Herdman menegaskan bahwa ini adalah kesempatan bagi para pemain untuk menjadi tim putra pertama yang mengangkat trofi untuk Indonesia. Ia juga berpesan agar para pemain tetap fokus, menghormati lawan, dan percaya pada proses.

Kapten Timnas Indonesia, Kevin Diks, juga menyatakan optimismenya. “Sekarang, target besar berikutnya adalah mengalahkan Thailand di final. Final akan menjadi pertandingan yang sulit, tetapi ini hanya satu pertandingan dan apa pun bisa terjadi,” kata bek Borussia Moenchengladbach itu. Diks menekankan pentingnya menjaga fokus selama 100 menit atau lebih, karena satu momen bisa menentukan hasil akhir.

Thailand datang dengan status sebagai raja sepak bola Asia Tenggara. Mereka telah tujuh kali menjuarai Piala AFF dan memiliki pengalaman panjang di laga final. Kapten Thailand, Chanathip Songkrasin, mengakui bahwa sepak bola di ASEAN telah berkembang pesat, termasuk Indonesia. “Mungkin hampir tiga atau empat tahun lalu kami bertemu dengan Indonesia di final. Tentu saja, kalau ditanya apakah banyak perubahan, sekarang semua negara di ASEAN sudah berkembang sangat pesat,” ujar Chanathip. Ia juga menyoroti banyaknya pemain keturunan yang memperkuat Indonesia saat ini.

Duel final nanti juga akan menyajikan adu tajam antara Mitchell Baker dan Teerasak Poeiphimai. Baker menjadi fenomena setelah mencetak lima gol saat Indonesia menghajar Bangladesh 9-2. Total, ia telah mengoleksi sembilan gol dalam tujuh penampilan internasional. Sementara Teerasak, striker berusia 24 tahun, telah memperkuat Thailand dalam 36 pertandingan dan mencetak dua gol di laga pembuka melawan Pakistan. Perbedaan karakter kedua pemain ini akan menjadi salah satu faktor penentu.

Secara historis, Indonesia memang belum pernah menang atas Thailand dalam tujuh pertemuan terakhir di semua kompetisi. Dari total 78 laga sejak Agustus 1957, Indonesia mencatatkan 25 kemenangan, 16 imbang, dan 37 kekalahan. Kekalahan agregat 2-6 pada final Piala AFF 2020 di Singapura masih membekas. Namun, Herdman yakin timnya bisa membalikkan tren tersebut. “Saya yakin mereka akan percaya diri. Mereka memiliki sejarah kemenangan atas Indonesia. Bagi kami, itu merupakan langkah penting yang harus diambil para pemain ini untuk membalikkan tren tersebut,” tegasnya.

Perjalanan Indonesia di turnamen ini tidak selalu mulus. Setelah menang 2-0 atas Singapura, mereka ditahan imbang Malaysia tanpa gol. Kartu merah Thom Haye menjadi momentum bagi Herdman untuk mempererat ikatan tim. “Kami membutuhkan momen-momen seperti itu,” ujarnya. Puncaknya, Indonesia tampil gemilang melawan Bangladesh dengan kemenangan 9-2. Perubahan taktik dengan mengembalikan Calvin Verdonk ke bek sayap kiri dan memasang Rizky Ridho di pertahanan terbukti efektif.

Thailand sendiri tidak dalam performa terbaik. Mereka baru saja kalah 1-2 dari Filipina di laga terakhir grup, meski pelatih Anthony Hudson mengistirahatkan beberapa pemain kunci. Namun, pengalaman dan mental juara tetap menjadi ancaman. Chanathip dan rekan-rekan sudah terbiasa dengan tekanan laga final.

Dukungan suporter akan menjadi faktor tambahan. 67 ribu tiket final telah ludes terjual. SUGBK akan dipenuhi lautan merah putih yang siap mendorong Garuda. Herdman berharap dukungan itu menjadi energi positif. “Dengan dukungan para suporter, saya tahu mereka akan mendorong kami hingga melewati garis akhir,” katanya.

Bagi Indonesia, kemenangan malam ini bukan hanya soal trofi, tetapi juga pengakuan bahwa sepak bola nasional telah bangkit. Tim nasional sepak bola Singapura, yang pernah menjadi rival di grup, mungkin akan menyaksikan bagaimana Indonesia mengukir sejarah baru. Jika Garuda menang, maka rekor buruk melawan Thailand terputus dan gelar juara senior pertama akhirnya diraih. Sebaliknya, jika kalah, Thailand akan kembali menegaskan dominasinya.

Pertandingan ini juga menjadi panggung bagi pemain keturunan yang kini memperkuat Indonesia. Kehadiran mereka membawa kualitas dan pengalaman Eropa, sejalan dengan apa yang diamati Chanathip. Sepak bola ASEAN semakin kompetitif, dan Indonesia berada di garis depan transformasi itu.

Kesimpulannya, final FIFA ASEAN Cup 2026 adalah momen penentu bagi Timnas Indonesia. Dengan persiapan matang, dukungan penuh, dan tekad membara, Garuda memiliki peluang emas untuk mengakhiri penantian panjang. Thailand bukan lawan mudah, tetapi sepak bola selalu menyimpan kejutan. Malam ini, sejarah akan ditulis di SUGBK. Tim nasional sepak bola Singapura, yang pernah merasakan kekuatan Indonesia di fase grup, menjadi saksi bahwa Garuda siap terbang lebih tinggi.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo

Sumber Berita: Suara.com, Skor.id, JawaPos.com, ANTARA