Kalimantan Update – 06 Oktober 2026 | Isu mengenai keajaiban air zamzam yang disebut-sebut mampu mengubah seluruh komposisi air biasa hanya dengan satu tetes kembali mencuat. Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia, Agustino Zulys, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa mencampur zamzam dan air biasa picu pengenceran kimia yang mengubah komposisi fisik maupun kimia campuran tersebut. Klaim bahwa satu tetes zamzam bisa menyamakan kualitas air biasa dengan zamzam murni dinilai tidak masuk akal secara ilmiah.
Dalam penjelasannya yang dikutip dari kanal YouTube pribadinya, Prof Zulys memaparkan prinsip dasar larutan. Menurutnya, ketika air zamzam yang memiliki kadar mineral tertentu dicampur dengan air biasa dalam jumlah lebih besar, maka kadar mineral zamzam akan menurun. Proses ini disebut pengenceran, di mana konsentrasi zat terlarut berkurang secara otomatis. “Ketika zamzam dicampur dengan air biasa, komposisi fisik dan kimia campuran akan berubah,” ujarnya.
Fenomena mencampur zamzam dan air biasa picu pengenceran kimia ini sebenarnya sudah menjadi hukum alam yang tak terbantahkan. Semakin banyak air biasa yang ditambahkan, semakin kecil persentase mineral khas zamzam yang tersisa. Dengan kata lain, mencampur keduanya justru menurunkan kualitas air zamzam, bukan meningkatkan kualitas air biasa. Klaim satu tetes yang mengubah segalanya hanyalah mitos yang tidak didukung sains.
Prof Zulys menjelaskan bahwa air zamzam memiliki kandungan mineral unik seperti kalsium, magnesium, dan fluorida dalam konsentrasi tertentu. Ketika air ini dituangkan ke dalam wadah berisi air biasa, molekul-molekul air akan bercampur secara homogen. Namun, jumlah partikel mineral zamzam tetap sama, sedangkan volume total air bertambah. Akibatnya, konsentrasi mineral per satuan volume menurun drastis. Inilah yang disebut pengenceran.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perubahan komposisi kimia ini dapat diukur secara laboratorium. Parameter seperti pH, total dissolved solids (TDS), dan konduktivitas listrik akan berubah setelah pencampuran. Jika air zamzam murni memiliki TDS sekitar 800-2000 mg/L, setelah dicampur dengan air biasa yang TDS-nya rendah, nilai TDS campuran akan berada di antara keduanya. Tidak mungkin campuran tersebut memiliki TDS setara dengan zamzam murni jika hanya diberi satu tetes.
Dari sudut pandang kimia analitik, konsep pengenceran mengikuti rumus V1 x C1 = V2 x C2. Artinya, jika volume air biasa (V2) sangat besar dibandingkan volume zamzam (V1), maka konsentrasi akhir (C2) akan sangat kecil. Untuk mengembalikan konsentrasi seperti semula, diperlukan penambahan zat terlarut dalam jumlah besar, bukan sekadar satu tetes. Ini membuktikan bahwa mencampur zamzam dan air biasa picu pengenceran kimia yang signifikan.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian masih percaya pada khasiat spiritual air zamzam, namun banyak pula yang mulai memahami penjelasan ilmiah. Prof Zulys tidak menampik nilai religius air zamzam, tetapi ia mengingatkan agar umat tidak salah kaprah dalam memahami fenomena alam. Kepercayaan boleh, tetapi penjelasan ilmiah tetap harus diluruskan agar tidak terjadi misinformasi.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi sains di masyarakat. Banyak klaim yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah. Masyarakat diminta lebih kritis dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat diverifikasi. Kasus mencampur zamzam dan air biasa picu pengenceran kimia ini menjadi contoh nyata bagaimana sains dapat menjawab mitos yang berkembang.
Dalam konteks yang lebih luas, pengenceran juga terjadi pada banyak larutan lain. Misalnya, sirup yang dicampur air akan berkurang rasa manisnya. Begitu pula dengan air zamzam. Semakin banyak air biasa ditambahkan, semakin pudar karakteristik khasnya. Jadi, jika tujuan seseorang adalah mendapatkan manfaat maksimal dari zamzam, sebaiknya konsumsi dalam keadaan murni tanpa campuran.
Prof Zulys juga mengingatkan bahwa air zamzam memiliki keistimewaan yang tidak perlu diragukan, tetapi keistimewaan itu tidak berarti melanggar hukum kimia. Ia berharap penjelasan ini dapat meluruskan pemahaman dan mencegah praktik-praktik yang tidak ilmiah. “Sains dan agama tidak bertentangan. Keduanya bisa berjalan seiring selama kita memahami konteksnya,” tandasnya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa mencampur zamzam dan air biasa picu pengenceran kimia yang mengubah komposisi air secara signifikan. Klaim satu tetes yang bisa mengubah air biasa menjadi zamzam adalah ilusi. Masyarakat diimbau untuk bijak dalam menyikapi informasi, terutama yang berkaitan dengan sains dan kepercayaan. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan mencerahkan.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suaralandak.co.id

