Kalimantan Update – 08 Oktober 2026 | Gempa bali kembali mengguncang pada Rabu dini hari, 7 Oktober 2026, ketika getaran berkekuatan magnitudo 5,0 berpusat di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, dan terasa hingga ke Bali. Peristiwa ini sontak membangunkan warga di Mataram, Denpasar, dan sekitarnya, namun para ahli memastikan gempa bali kali ini bukan disebabkan oleh aktivitas sesar aktif dangkal di daratan. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia, Daryono, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa intraslab, yaitu deformasi internal pada Lempeng Australia yang menunjam ke bawah kawasan Lombok-Bali.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episenter gempa berada di koordinat 8,81° LS dan 116,16° BT, sekitar 14 kilometer tenggara Lombok Barat, dengan kedalaman 82 kilometer. Meski berpusat di darat, mekanisme sumber menunjukkan pergerakan turun (normal fault) di dalam tubuh lempeng samudra, bukan pergeseran sesar aktif di Pulau Lombok. “Gempa ini bukan gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di Pulau Lombok, melainkan termasuk gempa intraslab,” tegas Daryono. Ia menambahkan bahwa akumulasi tegangan pada slab lempeng yang menunjam telah melampaui daya tahan batuan, memicu patahan internal yang memancarkan gelombang seismik dengan daya sebar guncangan sangat luas.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, mengonfirmasi bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun. Gempa yang terjadi pada pukul 04.15 WITA ini tidak berpotensi tsunami. Guncangan paling kuat dirasakan di Kota Mataram dengan intensitas IV hingga V Modified Mercalli Intensity (MMI), di mana getaran dapat dirasakan hampir seluruh penduduk dan membuat banyak orang terbangun. Sementara itu, di Lombok Tengah, guncangan tercatat pada skala III hingga IV MMI. Di Bali, terutama Denpasar dan sekitarnya, getaran juga dirasakan meski lebih lemah, menambah daftar panjang gempa bali yang pernah terjadi sebelumnya.
Peta guncangan (shakemap) BMKG memperlihatkan sebaran guncangan yang cukup luas, mencakup Lombok, Sumbawa, hingga Bali. Meski demikian, tidak ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa akibat peristiwa ini. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Gempa intraslab seperti ini memang kerap terjadi di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah busur Sunda, termasuk wilayah Lombok-Bali.
Di sisi lain, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan senilai Rp 450 juta untuk korban terdampak gempa di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bantuan diserahkan langsung oleh istri Menteri Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, didampingi istri Wakil Mensos, Intan Nurul Fadhilah, Hetty Andika Perkasa, dan Ketua Bhayangkari Cabang Manggarai, Tantri Levi. Kegiatan bakti sosial ini menyantuni 58 jiwa dan merupakan bagian dari upaya mempererat kepedulian serta semangat gotong royong. “Besar harapan kami, bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat serta meringankan kebutuhan masyarakat penerima bantuan,” ujar Tantri Levi. Meski berbeda lokasi, kedua peristiwa ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa, termasuk gempa bali yang berasal dari aktivitas lempeng.
Dengan memahami karakteristik gempa intraslab, masyarakat diharapkan tidak panik dan tetap waspada. Gempa bali yang terjadi kali ini menjadi pengingat bahwa wilayah Indonesia, khususnya Lombok dan Bali, berada di zona rawan gempa. Edukasi tentang mitigasi bencana harus terus digalakkan agar korban jiwa dan kerugian material dapat diminimalisasi. BMKG dan IABI terus melakukan pemantauan serta penelitian untuk memberikan informasi akurat kepada publik. Sebagai kesimpulan, gempa bali magnitudo 5,0 yang berpusat di Lombok Barat merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi, namun dapat diantisipasi dengan pengetahuan yang tepat. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari BMKG dan tidak menyebarkan berita hoaks.

