Robert Christian Tanoko Borong 1,79 Juta Saham AVIA, Sinyal Optimisme di Tengah Tekanan Pasar
Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Langkah jajaran direksi PT Avia Avian Tbk (AVIA) kembali mencuri perhatian pasar modal Indonesia. Direktur perseroan, Robert Christian Tanoko, diketahui menambah kepemilikan sahamnya di emiten produsen cat tersebut melalui transaksi pembelian di pasar. Aksi korporasi bersifat personal ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah kondisi indeks harga saham gabungan yang sedang tertekan.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Robert Christian Tanoko membeli sebanyak 1.797.300 saham biasa AVIA pada 2 Oktober 2026. Transaksi dilakukan di level harga Rp 330 per saham, sehingga total nilai pembelian mencapai sekitar Rp 593,10 juta hingga Rp 593,11 juta. Dalam dokumen tersebut, tujuan transaksi dinyatakan secara tegas sebagai investasi dengan status kepemilikan langsung.
Seorang anak dari konglomerat Hermanto Tanoko ini memang bukan nama baru di bursa. Sebelum transaksi, Robert Christian Tanoko tercatat menggenggam 1.428.906.300 saham AVIA atau setara 2,3064 persen dari total saham beredar. Setelah pembelian tersebut, jumlah kepemilikannya naik menjadi 1.430.703.600 saham, yang setara dengan 2,3093 persen hak suara di perseroan.
Meski persentase kenaikannya terbilang tipis, yakni sekitar 0,0029 poin, aksi penambahan saham oleh orang dalam perusahaan kerap dibaca pasar sebagai sinyal keyakinan terhadap prospek jangka panjang emiten. Apalagi, transaksi ini dilakukan ketika harga saham AVIA sedang berada dalam fase koreksi.
Pada perdagangan 7 Oktober 2026, harga saham AVIA melemah 1,74 persen ke level Rp 338 per saham. Sepanjang sesi tersebut, saham AVIA bergerak di rentang terendah Rp 338 dan tertinggi Rp 348 per saham. Kapitalisasi pasar perseroan tercatat sekitar Rp 20,85 triliun. Sementara itu, pada perdagangan berikutnya, harga saham AVIA sempat turun 1,16 persen ke angka Rp 340 per saham pada pukul 15.01 WIB dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 21,06 triliun.
Tekanan yang dialami saham AVIA sejalan dengan kondisi pasar secara keseluruhan. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 0,75 persen ke level 6.146,72. Indeks LQ45 juga terperosok 0,40 persen menjadi 605,72. Dari 11 sektor saham, hanya sektor keuangan yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan tipis 0,02 persen, sedangkan sektor energi justru mencatat koreksi terbesar, turun 1,56 persen.
Berikut ringkasan data transaksi dan posisi kepemilikan saham yang perlu dicermati:
- Tanggal transaksi: 2 Oktober 2026
- Jumlah saham dibeli: 1.797.300 lembar
- Harga beli: Rp 330 per saham
- Nilai transaksi: sekitar Rp 593,10 juta
- Kepemilikan sebelum transaksi: 1.428.906.300 saham (2,3064 persen)
- Kepemilikan setelah transaksi: 1.430.703.600 saham (2,3093 persen)
- Tujuan transaksi: investasi
Dalam sepekan perdagangan, tekanan di bursa memang cukup merata. Sebanyak 378 saham melemah dan membebani IHSG, sementara 258 saham menguat dan 157 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan tercatat 1.534.151 kali dengan volume 48,4 miliar saham serta nilai transaksi harian mencapai Rp 36,2 triliun. Posisi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp 17.856.
Di tengah dinamika tersebut, langkah Robert Christian Tanoko menjadi semacam pesan tidak langsung kepada investor ritel. Aksi beli oleh direksi biasanya diartikan sebagai bentuk komitmen manajemen terhadap kinerja perusahaan ke depan, terutama ketika valuasi saham dinilai sudah menarik secara fundamental.
PT Avia Avian Tbk sendiri merupakan salah satu pemain utama di industri cat dan pelapis di Indonesia dengan jaringan distribusi yang luas. Kinerja perseroan sangat dipengaruhi oleh permintaan sektor properti, ritel bahan bangunan, serta daya beli masyarakat. Karena itu, pergerakan harga saham AVIA sering kali menjadi cermin dari ekspektasi pasar terhadap sektor konsumen dan properti nasional.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati bahwa transaksi pembelian saham oleh direksi tidak selalu menjadi jaminan kenaikan harga di jangka pendek. Fluktuasi IHSG, sentimen global, dan kebijakan suku bunga masih menjadi faktor eksternal yang menentukan arah pasar. Namun, dalam jangka panjang, konsistensi kepemilikan orang dalam bisa menjadi indikator positif bagi stabilitas harga saham.
Dengan bertambahnya porsi kepemilikan Robert Christian Tanoko menjadi 2,3093 persen, publik kini menanti apakah aksi serupa akan diikuti oleh jajaran direksi maupun komisaris lainnya. Jika tren ini berlanjut, sinyal akumulasi di saham AVIA berpotensi memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek emiten cat kebanggaan Tanoko Group tersebut.
Pada akhirnya, keputusan berinvestasi tetap berada di tangan masing-masing investor. Aksi korporasi Robert Christian Tanoko setidaknya memberikan satu gambaran bahwa di tengah koreksi pasar, masih ada pihak yang melihat peluang jangka panjang pada saham AVIA. Kombinasi antara harga yang tertekan, fundamental perseroan, dan keyakinan manajemen menjadi tiga hal yang patut dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan di pasar modal.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Liputan6.com dan CNBC Indonesia
