Foto: Istimewa

BBRI Terseret Aksi Jual Asing Rp207 Miliar, IHSG Justru Ditutup Menguat 1,04% ke 6.093,75

Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Jakarta — Pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI menjadi salah satu sorotan utama di bursa saham domestik pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup naik 1,04 persen atau 62,47 poin ke level 6.093,75, saham BBRI justru mencatatkan tekanan jual yang cukup dalam dari investor asing. Kondisi ini menjadikan BBRI sebagai salah satu saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas asing pada sesi tersebut.

Berdasarkan data perdagangan RTI Infokom, IHSG bergerak fluktuatif sejak pembukaan pasar. Pada pukul 09.11 WIB, indeks dibuka di zona hijau pada level 6.039,01, namun sempat berbalik melemah 0,2 persen ke level 6.019,15. Memasuki akhir sesi pertama, IHSG kembali menguat ke level 6.052,51 atau naik 0,35 persen. Penguatan berlanjut hingga penutupan, membawa IHSG berakhir di level 6.093,75, lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang melemah 1,88 persen ke level 6.031,28.

Pada penutupan perdagangan kali ini, mayoritas saham mencatatkan penguatan. Sebanyak 381 saham naik, 238 saham melemah, dan 172 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat mencapai Rp10.724 triliun. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan tersebut.

Tekanan Jual Asing pada BBRI dan Saham Perbankan

Meski IHSG menguat, investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih. Di pasar reguler, nilai net sell mencapai Rp848,28 miliar, sedangkan di seluruh pasar tercatat Rp867,27 miliar. Tekanan jual asing terutama terlihat pada BBRI, BMRI, dan AMMN dengan nilai sekitar Rp461,93 miliar. Khusus untuk BBRI, nilai jual investor asing dilaporkan mencapai Rp207,28 miliar.

Sejumlah saham lain masih mencatatkan kenaikan, seperti AMRT yang naik 2,04 persen, KLBF menguat 2,65 persen, dan ASII bertambah 0,42 persen. Namun, di sisi lain, BBRI turun 3,50 persen, AMMN melemah 6,40 persen, dan BMRI terkoreksi 3,50 persen. Saham BBRI, BMRI, dan BBCA juga masuk dalam jajaran 10 saham yang paling menekan pergerakan indeks.

Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berakhir di zona merah. Sektor Industrial menjadi yang mengalami penurunan paling dalam, yakni 2,86 persen. Sementara sektor Health menjadi satu dari dua sektor yang menguat dengan kenaikan 0,70 persen. Pergerakan bursa Amerika Serikat juga berlangsung beragam. Dow Jones naik 0,10 persen ke 51.231, sedangkan S&P 500 turun 0,47 persen ke 7.765 dan Nasdaq melemah 1,25 persen ke 27.193.

Sentimen eksternal turut memberi gambaran tekanan pada aset Indonesia. ETF EIDO turun 1,60 persen dan MSCI Indonesia melemah 1,96 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun IHSG berhasil bangkit, arus dana asing masih cenderung berhati-hati terhadap saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BBRI.

Aksi Korporasi di Tengah Dinamika Pasar

Di tengah dinamika pasar tersebut, sejumlah emiten mengumumkan aksi korporasi. WBSA menambah armada untuk mengembangkan bisnis angkutan laut melalui anak usaha tidak langsungnya, Beruang Maritim Indonesia (BMI). Perseroan akan menambah lima set armada yang terdiri dari lima tugboat dan lima barge. Penambahan armada tersebut diperkirakan meningkatkan kapasitas angkutan WBSA hingga sekitar 1,50 juta metric ton per tahun.

Dari lima set yang direncanakan, dua set telah diperoleh pada 5 dan 7 Oktober 2026. Armada tersebut dibeli dari Buana Cipta Mandala dan Amnor Shipyard yang merupakan pihak non-afiliasi, dengan nilai transaksi sedikitnya Rp48 miliar. Adapun tiga set lainnya akan didatangkan secara bertahap. Pengadaan armada tersebut turut didukung fasilitas pinjaman berjangka dari Bank OCBC NISP dengan plafon Rp75 miliar dan tenor 60 bulan, yang perjanjiannya ditandatangani pada 14 September 2026.

Selain itu, PTBA dilaporkan melakukan eksplorasi tambang, sementara BUAH menebar dividen kepada para pemegang saham. Rangkaian aksi korporasi ini menjadi warna tersendiri di tengah tekanan jual yang masih membayangi saham perbankan seperti BBRI.

Dampak bagi Investor dan Arah Pasar Berikutnya

Bagi investor, pergerakan BBRI pada perdagangan kali ini menjadi sinyal penting bahwa saham perbankan masih menghadapi tantangan dari sisi arus dana asing. Meski demikian, penguatan IHSG yang ditopang oleh saham TLKM dan BUMI menunjukkan bahwa pasar masih memiliki tenaga untuk bangkit dari koreksi sehari sebelumnya.

Secara keseluruhan, kombinasi antara penguatan IHSG dan tekanan jual pada BBRI mencerminkan pasar yang sedang mencari keseimbangan baru. Investor disarankan mencermati perkembangan arus dana asing, pergerakan bursa global, serta aksi korporasi emiten sebelum mengambil keputusan. Dengan kapitalisasi pasar yang besar dan likuiditas tinggi, BBRI tetap menjadi salah satu barometer utama untuk membaca arah pasar saham Indonesia ke depan.