Pindad Maung Garuda Jadi Mobil Dinas Presiden dan Menteri, Harga Capai Rp1 Miliar
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Presiden Prabowo Subianto secara resmi memulai distribusi Pindad Maung Garuda sebagai mobil dinas bagi presiden, wakil presiden, menteri, dan wakil menteri pada Oktober 2026. Kendaraan taktis ini menjadi sorotan publik karena menggantikan sedan mewah yang biasanya digunakan para pejabat negara. Presiden Prabowo bahkan sempat mengungkapkan bahwa mobil yang ia gunakan memiliki harga sekitar Rp700 juta hingga Rp1 miliar, tergantung spesifikasi yang dipesan.
Pindad Maung Garuda, yang juga dikenal sebagai MV3 Garuda Limousine, merupakan SUV buatan PT Pindad yang dirancang dengan standar keamanan tinggi. Mobil ini menggunakan composite armor, kaca antipeluru level B5/B6, serta ban run-flat yang memungkinkan kendaraan tetap berjalan meski dalam kondisi darurat. Interiornya dilengkapi dengan kursi elektronik, kamera 360 derajat, LED Smart TV, dan Wi-Fi portable, menjadikannya sebagai kendaraan dinas yang modern dan nyaman.
Harga Pindad Maung Garuda yang mencapai Rp1 miliar memang terbilang fantastis, namun Presiden menegaskan bahwa nilai tersebut sebanding dengan fitur keamanan yang disematkan. “Mobil yang saya pakai dibekali bodi anti peluru, jadi harganya memang lebih tinggi dari Rp700 jutaan, sekitar Rp1 miliar tapi tidak mencapai Rp8 miliar,” ujar Presiden dalam sebuah kesempatan di Hambalang, Bogor. Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi publik yang menyebut harga mobil dinas presiden mencapai angka puluhan miliar.
Distribusi Pindad Maung Garuda menandai babak baru dalam pengadaan kendaraan dinas pejabat negara. Jika sebelumnya mobil dinas identik dengan sedan low profile, kini SUV taktis yang bentuknya mengotak justru menjadi pilihan utama. Langkah ini dianggap sebagai upaya pemerintah untuk mendukung produk dalam negeri sekaligus meningkatkan standar keamanan para pejabat tinggi negara.
Di sisi lain, dinamika politik nasional juga diwarnai oleh isu yang melibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Gibran diadukan ke Bareskrim Polri terkait dugaan pemalsuan surat keterangan penyetaraan pendidikan yang digunakan saat pendaftaran Pilpres 2024. Aduan ini dilayangkan oleh Tim Advokasi Penegak Etika, Moral dan Integritas Bangsa pada Rabu (7/10/2026). Kuasa hukum pelapor, Ahmad Khozinudin, menyatakan bahwa objek yang dipersoalkan adalah suket yang diterbitkan Kemendikbud pada Agustus 2019.
“Kami melaporkan dugaan tindak pidana pemalsuan surat dan/atau penggunaan surat yang isinya tidak benar dalam kaitannya dengan pemenuhan syarat pencalonan wakil presiden,” kata Ahmad di Bareskrim Polri. Ia menambahkan bahwa laporan ini muncul setelah putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan Gibran tidak memiliki ijazah setara SMA. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut diadukan dalam perkara ini.
Sementara itu, di kancah internasional, posisi presiden juga menjadi perbincangan hangat. Mantan bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega, secara resmi mengumumkan pencalonannya sebagai presiden FIFA, menantang Gianni Infantino yang saat ini menjabat. Vega menjadi kandidat pertama yang berani maju melawan Infantino, memanfaatkan ketidakpuasan federasi Eropa terhadap kepemimpinan FIFA. “Sepakbola bukan milik presiden, konfederasi, atau administrator. Sepakbola lebih besar daripada jabatan apa pun,” tegas Vega.
Di Burkina Faso, Presiden Ibrahim Traore mengancam akan mengambil alih federasi sepak bola nasional setelah timnas negaranya dipermalukan Argentina 7-0 dalam laga persahabatan. Ancaman ini berpotensi memicu sanksi FIFA karena melanggar Pasal 14 Statuta FIFA yang melarang campur tangan pihak ketiga. Traore menyatakan bahwa pemerintah tidak punya pilihan selain turun tangan untuk membenahi sepak bola negaranya.
Kembali ke Tanah Air, sejarah mencatat bahwa mantan ajudan presiden pernah menduduki kursi Wakil Presiden RI. Try Sutrisno, yang memulai karier sebagai perwira Zeni, dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974. Setelah empat tahun mendampingi Soeharto, kariernya terus menanjak hingga akhirnya menjabat sebagai Panglima ABRI dan kemudian Wakil Presiden RI pada 1993. Kisah ini menunjukkan bahwa peran ajudan presiden bisa menjadi batu loncatan menuju posisi tertinggi dalam pemerintahan.
Dengan berbagai peristiwa yang melibatkan sosok presiden, baik di dalam maupun luar negeri, isu kepemimpinan dan kebijakan publik tetap menjadi pusat perhatian. Penggunaan Pindad Maung Garuda sebagai mobil dinas presiden dan menteri diharapkan dapat meningkatkan citra kendaraan buatan dalam negeri, sekaligus memastikan keamanan para pemimpin negara. Sementara itu, polemik yang melibatkan wakil presiden dan dinamika organisasi internasional menjadi pengingat bahwa jabatan presiden selalu berada di bawah sorotan publik.
