Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa penguatan kapasitas keluarga memegang peranan krusial dalam mensukseskan pendidikan inklusif bagi anak penyandang disabilitas. Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (11/10/2026), Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif sebagai fondasi utama yang harus berjalan seiring dengan peran pemerintah dan sekolah. Menurutnya, akses pendidikan semata tidak cukup untuk memenuhi hak anak penyandang disabilitas; lingkungan belajar juga harus mampu memberikan dukungan sesuai kebutuhan agar anak dapat berkembang dan berpartisipasi secara optimal.
“Pemenuhan hak anak penyandang disabilitas tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah atau sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan dukungan emosional, membangun rasa percaya diri, dan mendampingi anak mengembangkan potensinya,” ujar Lestari. Pernyataan ini menegaskan bahwa Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif menjadi agenda strategis yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Dalam konteks pendidikan inklusif, keluarga berperan sebagai pendidik pertama dan utama. Mereka tidak hanya memberikan kasih sayang, tetapi juga menjadi advokat bagi anak agar mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Lestari menilai bahwa tanpa dukungan keluarga yang kuat, upaya pemerintah dan sekolah dalam menyediakan fasilitas inklusif akan kurang efektif. Oleh karena itu, program penguatan kapasitas keluarga perlu terus didorong, misalnya melalui pelatihan parenting, konseling, dan akses informasi tentang hak-hak anak disabilitas.
Peran Keluarga dalam Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif bertujuan memastikan semua anak, termasuk penyandang disabilitas, dapat belajar bersama di sekolah reguler dengan dukungan yang sesuai. Namun, implementasinya sering terkendala oleh kurangnya pemahaman dan keterlibatan keluarga. Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif sebagai respons terhadap tantangan tersebut. Ia menekankan bahwa keluarga harus dibekali pengetahuan tentang cara mendampingi anak, mengenali kebutuhan khusus, serta berkomunikasi dengan guru dan tenaga ahli.
Selain itu, keluarga juga berperan dalam membangun rasa percaya diri anak. Anak penyandang disabilitas sering menghadapi stigma dan diskriminasi. Dukungan emosional dari keluarga menjadi tameng yang memperkuat mental mereka. “Keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang cinta dan penerimaan. Jika keluarga mampu memberikan dukungan penuh, anak akan lebih siap menghadapi dunia luar,” tambah Lestari.
Sinergi Pemerintah, Sekolah, dan Keluarga
Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga. Pemerintah bertanggung jawab menyediakan regulasi, anggaran, dan fasilitas yang ramah disabilitas. Sekolah harus menyediakan guru pendamping, kurikulum yang adaptif, serta lingkungan yang inklusif. Sementara keluarga menjadi mitra aktif dalam proses belajar anak.
Data dari berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak disabilitas berkorelasi positif dengan peningkatan prestasi akademik dan sosial. Namun, masih banyak keluarga yang merasa sendirian dan kurang mendapatkan dukungan. Oleh karena itu, Lestari mendorong adanya program pendampingan keluarga yang terintegrasi dengan layanan pendidikan dan kesehatan.
Langkah Konkret yang Dibutuhkan
Untuk mewujudkan pendidikan inklusif yang optimal, diperlukan langkah konkret. Berikut beberapa di antaranya:
- Meningkatkan sosialisasi dan edukasi tentang pendidikan inklusif kepada keluarga.
- Menyediakan pusat sumber daya keluarga yang dapat diakses secara mudah.
- Melatih guru dan tenaga kependidikan tentang pendekatan inklusif.
- Membangun jaringan dukungan antar keluarga penyandang disabilitas.
- Memastikan anggaran untuk program penguatan keluarga berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan semakin banyak anak penyandang disabilitas yang mendapatkan hak pendidikannya secara penuh. Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif menjadi panggilan bagi semua pihak untuk tidak hanya fokus pada akses, tetapi juga kualitas dukungan yang diberikan.
Kesimpulan
Penguatan keluarga adalah kunci sukses pendidikan inklusif. Tanpa dukungan keluarga, upaya pemerintah dan sekolah tidak akan maksimal. Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Keluarga untuk Pendidikan Inklusif mengingatkan kita bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua anak, tanpa terkecuali.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak
