Darurat Karhutla Membara: 793 Titik Api Menggila, Malaysia Telepon Prabowo hingga Bantuan Brazil Tiba

Foto: Istimewa

Darurat Karhutla Membara: 793 Titik Api Menggila, Malaysia Telepon Prabowo hingga Bantuan Brazil Tiba

Kalimantan Update – 12 Oktober 2026 | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 21.00 WIB, Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan drastis titik api menjadi 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Angka ini melonjak 356 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 437 titik. Kalimantan Tengah menjadi episentrum dengan 288 titik api, disusul Sumatera Selatan (60), Kalimantan Barat (44), Kalimantan Selatan (28), Jambi (1), dan Riau yang nihil. Pemerintah pun bergerak cepat di berbagai lini, mulai dari rapat terbatas di Istana Kepresidenan hingga komunikasi internasional dengan Malaysia dan bantuan teknis dari Brazil.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan TNI, Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan seluruh masyarakat untuk bersinergi memadamkan karhutla. “Presiden telah memerintahkan TNI, Polri, pemerintah daerah termasuk Manggala Agni, masyarakat semua untuk bersama-sama menyelesaikan dan melakukan langkah-langkah terbaik untuk penyelesaian karhutla,” ujar Listyo di Istana Kepresidenan, Minggu (11/10/2026). Ia menambahkan bahwa pemerintah telah membentuk satuan tugas (satgas) darat dan udara, serta mendorong perbaikan regulasi dan penguatan Badan Restorasi Gambut.

Menko Polkam Dudung Abdurachman membenarkan bahwa Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah menelepon Presiden Prabowo terkait kabut asap lintas batas. “Informasinya demikian. Tapi kita masih maksimal lah berupaya,” kata Dudung. Indonesia juga menerima bantuan dari Brazil berupa cairan pemadam api yang disebar melalui udara dan darat. Cairan tersebut telah diujicobakan di Sumatra Selatan dan Kalimantan. “Mudah-mudahan ini kita akan terus berlanjut dan segeralah bisa dipadamkan,” harapnya. Sebanyak lebih dari 60 ribu personel, 48 helikopter, dan pesawat dikerahkan untuk operasi pemadaman.

Di lapangan, petugas Manggala Agni memastikan siaga 24 jam, terutama saat api mendekati permukiman. Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam jika warga membutuhkan bantuan. “Kadang-kadang kan sudah pulang dipanggil juga, apalagi kalau kebakaran itu sudah dekat-dekat pemukiman, kita dimintai bantuan, enggak mungkin kita diam saja,” ujarnya. Sementara itu, di Mamuju, Sulawesi Barat, kebakaran lahan gambut dan hutan seluas 20 hektare di Desa Buanasakti, Kecamatan Tommo, masih belum berhasil dipadamkan sejak Minggu (4/10). Kepala BPBD Mamuju, Muhammad Taslim Sukirno, mengungkapkan kendala utama adalah kurangnya sumber air. “Kami sudah all out melakukan penanganan bahkan teman-teman Manggala Agni dari Palu didatangkan,” tegasnya. Api dikhawatirkan meluas hingga 55 hektare lahan sawit dan 5 hektare hutan.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mengoperasikan 17 unit operasi modifikasi cuaca dan 44 unit pemboman air. Kementerian Kehutanan juga menekankan bahwa titik panas yang terdeteksi satelit tidak selalu identik dengan luas kebakaran, namun tetap menjadi indikator dini yang memerlukan verifikasi lapangan. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar mengingat kondisi cuaca kering yang ekstrem.

Dengan lonjakan titik api yang signifikan, sinergi lintas instansi dan dukungan internasional menjadi kunci. Pemerintah terus berupaya maksimal mencegah karhutla meluas, melindungi permukiman, dan menekan dampak kabut asap. Keberhasilan penanganan karhutla akan sangat bergantung pada konsistensi patroli, penegakan hukum, serta partisipasi aktif masyarakat untuk tidak membakar lahan.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo

Sumber Berita: VIVA, IDN Times, Metro TV, Tirto.id, Kementerian Kehutanan