Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Dunia sepak bola nasional kembali dihebohkan dengan polemik administrasi yang melibatkan para penggawa Timnas Indonesia yang berkarier di liga belanda. Kasus yang kemudian dikenal sebagai ‘paspor gate’ ini mencuat setelah Dinas Imigrasi Naturalisasi Belanda merilis daftar 25 pemain yang bermasalah dengan izin kerja. Nama-nama seperti Dean James, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, dan Tim Geypens harus menerima kenyataan pahit tidak bisa membela klubnya masing-masing di kompetisi liga belanda untuk sementara waktu.
Kabar mengejutkan ini bermula dari sebuah podcast bertajuk de Derde Helft yang menyebut bahwa Dean James, bek sayap Go Ahead Eagles, disinyalir masih menggunakan status pemain Belanda dalam kontraknya musim ini. Laporan tersebut kemudian sampai ke manajemen NAC Breda, yang langsung melayangkan surat protes kepada operator kompetisi liga belanda. Breda mempertanyakan keabsahan status James saat timnya menelan kekalahan telak 0-6 dari Go Ahead Eagles pada 15 Maret lalu. Dalam laga itu, James tampil sebagai starter selama 75 menit sebelum digantikan Eus Waayers.
Jika terbukti status James tidak sah, NAC Breda menuntut agar pertandingan diulang. Sikap ini pun memicu reaksi berantai dari klub lain. TOP Oss, yang dikalahkan Willem II dengan skor 1-3 pada 14 Maret, turut menuntut hal serupa karena dalam laga tersebut Nathan Tjoe-A-On bermain sebagai starter. Situasi ini semakin memanas setelah empat nama pemain Indonesia resmi masuk daftar hitam imigrasi Belanda, yang membuat mereka tidak hanya absen dari pertandingan, tetapi juga dilarang mengikuti sesi latihan bersama klub.
Menariknya, tiga pemain Timnas Indonesia lainnya yang juga berkarier di liga belanda, yaitu Maarten Paes (Ajax Amsterdam), Miliano Jonathans (Excelsior), dan Mees Hilgers (FC Twente), tidak masuk dalam daftar tersebut. Maarten Paes, yang baru didatangkan Ajax pada putaran kedua, dikabarkan lolos dari masalah ini berkat kejelian administrasi klubnya. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan ini murni terkait kelengkapan dokumen, bukan kualitas permainan para pemain.
PSSI melalui Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, angkat bicara terkait polemik ini. Saat dihubungi awak media di Jakarta, Sumardji hanya memberikan pernyataan singkat, ‘Ya nanti akan saya rilis.’ Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa PSSI sedang menyiapkan langkah resmi untuk menyelesaikan permasalahan yang mengancam karier para pemain di liga belanda tersebut.
Di sisi lain, dampak dari kasus ini sangat terasa bagi para pemain. Nathan Tjoe-A-On, misalnya, sebelumnya tampil impresif bersama Willem II. Dalam laga melawan Utrecht di Stadion Galgenwaard, ia bermain selama 81 menit dengan catatan 50 sentuhan, 25 umpan (20 di antaranya akurat), serta delapan aksi defensif yang mencakup lima pemulihan penguasaan bola, tiga intersep, dan tiga sapuan. Performa apiknya itu kini terhenti karena masalah administrasi yang tidak ia duga.
Dean James juga mengalami nasib serupa. Sepekan sebelumnya, ia menjadi pahlawan Timnas Indonesia dengan mencetak gol perdananya dan membawa Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Gol tersebut tercipta melalui tendangan bebas dari tepi kotak penalti pada menit ke-84, yang membawa Indonesia unggul atas Thailand. Kini, ia harus berjuang di meja hijau untuk membuktikan keabsahan statusnya di liga belanda.
Kasus ini juga mencoreng citra kompetisi liga belanda yang selama ini dikenal sebagai liga pengembangan pemain muda. Operator kompetisi dihadapkan pada tuntutan dari beberapa klub untuk mengulang pertandingan, yang tentu saja akan mengacaukan jadwal dan integritas kompetisi. Di sisi lain, para pemain Indonesia yang menjadi korban hanya bisa pasrah menunggu keputusan resmi dari otoritas terkait.
PSSI diharapkan segera memberikan solusi konkret, mengingat empat pemain tersebut merupakan aset berharga bagi Timnas Indonesia. Langkah diplomasi dan komunikasi dengan pihak imigrasi Belanda serta operator liga menjadi kunci untuk menyelesaikan polemik ini. Tanpa penyelesaian yang cepat, karier para pemain di Eropa bisa terancam, dan persiapan Timnas Indonesia untuk ajang internasional mendatang juga akan terganggu.
Sebagai kesimpulan, kasus ‘paspor gate’ ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak tentang pentingnya kepatuhan administrasi dalam sepak bola profesional. Para pemain, agen, dan klub harus lebih teliti dalam mengurus dokumen, terutama yang berkaitan dengan status kewarganegaraan dan izin kerja. Dukungan dari PSSI dan pemerintah Indonesia sangat dibutuhkan untuk melindungi kepentingan para pemain di liga belanda. Semoga polemik ini segera berakhir dengan solusi yang adil bagi semua pihak, sehingga para pemain dapat kembali fokus berlaga di lapangan hijau dan mengharumkan nama bangsa.
