Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Nama mauresmo hinoke kembali mencuri perhatian publik sepak bola Tanah Air, bukan karena proses naturalisasinya yang berjalan mulus, melainkan karena performa tajamnya bersama klub Belanda, TOP Oss. Winger berdarah Maluku itu kini menjadi mesin gol di Eerste Divisie, meski harapannya membela Timnas Indonesia harus kandas di tengah jalan akibat aturan FIFA. Kisah mauresmo hinoke menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana bakat besar bisa terhambat oleh regulasi yang tak bisa ditawar.
Pemain berusia 21 tahun itu sebenarnya sempat menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia U-20 asuhan Indra Sjafri pada 2024. Ia tampil dalam rangkaian uji coba di Prancis, menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Ukraina, Panama, Italia, dan Korea Selatan. Momen paling dikenang terjadi saat ia mencetak gol ke gawang Jepang, yang membuat namanya semakin dikenal pencinta sepak bola nasional. Namun, jalur naturalisasi yang sempat terbuka akhirnya tertutup.
Penelusuran latar belakang keluarga yang dilakukan manajer tim saat itu, Ahmed Zaki Iskandar, mengungkap fakta bahwa darah Indonesia mauresmo hinoke berasal dari generasi keempat, yakni buyutnya. Sementara itu, aturan FIFA membatasi kelayakan pemain melalui jalur keturunan hingga generasi kakek atau nenek kandung. Pemain dengan garis keturunan lebih jauh tidak memenuhi syarat melalui jalur tersebut, sehingga peluang Hinoke memperkuat Garuda melalui jalur darah harus pupus.
Meski demikian, karier profesional mauresmo hinoke justru terus menanjak. Bersama TOP Oss, ia tampil impresif pada awal musim 2026/2027. Dalam sepuluh pertandingan, ia telah mengoleksi lima gol dan menjadi pencetak gol terbanyak sementara klub. Penampilan gemilangnya saat menghadapi MVV Maastricht dengan mencetak hattrick dalam kemenangan 4-1, serta dua gol ke gawang Helmond Sport dalam kemenangan 3-1, membuatnya masuk dalam Elftal van de Week atau Tim Terbaik Pekan Keuken Kampioen Divisie untuk dua pekan berturut-turut.
Kasus mauresmo hinoke bukanlah satu-satunya. Sejumlah pemain keturunan Indonesia lain juga menghadapi hambatan serupa dalam proses membela Timnas Indonesia. Berikut empat nama yang sempat dikaitkan dengan skuad Garuda namun terhambat regulasi FIFA:
- Dean Zandbergen — Penyerang Dinamo Bucuresti berusia 25 tahun ini disebut memiliki darah Indonesia dari generasi buyut. Pelatih Timnas Indonesia John Herdman mengungkap bahwa penelusuran tim kepelatihan menemukan Zandbergen tidak memenuhi persyaratan jalur keturunan. Sebelumnya ia sempat dipandang sebagai opsi tambahan di lini depan.
- Mauresmo Hinoke — Winger TOP Oss dengan garis keturunan generasi keempat. Meski jalur keturunan tertutup, ia masih berpeluang melalui jalur domisili sesuai regulasi FIFA, dengan persyaratan yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
- Jairo Riedewald — Mantan gelandang Crystal Palace dan Ajax Amsterdam ini terkendala kelengkapan dokumen administrasi. Pada Februari 2025, mantan Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut pihaknya belum menemukan dasar administrasi yang cukup kuat untuk meneruskan proses. Riedewald juga tercatat tiga kali tampil bersama Timnas Belanda senior di Kualifikasi Piala Eropa 2016, sehingga proses alih asosiasi perlu ditangani dengan teliti.
- Mitchel Bakker — Bek kiri yang pernah bermain untuk Paris Saint-Germain, Bayer Leverkusen, dan Atalanta ini disebut memiliki akar keluarga dari wilayah Maluku. Namun, pemeriksaan awal PSSI menunjukkan garis keturunan Indonesia Bakker kemungkinan hanya berada di generasi buyut, seperti disampaikan anggota Komite Eksekutif PSSI Arya Sinulingga pada Januari 2025.
Berdasarkan ketentuan FIFA yang diperjelas dalam dokumen September 2026, pemain yang memperoleh kewarganegaraan baru harus memenuhi persyaratan tertentu untuk membela tim nasional. Jalur keturunan umumnya mensyaratkan orang tua atau kakek-nenek kandung lahir di negara yang bersangkutan, sementara jalur domisili memiliki ketentuan tersendiri. Keempat kasus tersebut memiliki persoalan berbeda dan tidak semuanya telah menerima keputusan penolakan resmi dari FIFA.
Bagi mauresmo hinoke, kegagalan membela Timnas Indonesia melalui jalur keturunan tak menyurutkan semangatnya. Ia memilih fokus mengembangkan kemampuan bersama TOP Oss dan terus menunjukkan ketajamannya sebagai pemain sayap. Produktivitas golnya yang terus meningkat menjadi bukti bahwa kualitasnya tak perlu diragukan, terlepas dari status kewarganegaraannya.
Kasus Hinoke dan tiga pemain lainnya menjadi pelajaran penting bagi PSSI dalam memetakan pemain keturunan. Penelusuran silsilah keluarga dan kelengkapan dokumen administrasi harus dilakukan secara cermat sejak awal, agar harapan besar tidak berakhir dengan kekecewaan. Di sisi lain, performa mauresmo hinoke di Liga Belanda menjadi pengingat bahwa sepak bola Indonesia kehilangan sosok potensial akibat batasan regulasi yang berlaku.

