DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM, 1 Kg Plastik Hasilkan 1 Liter Bahan Bakar

Foto: Istimewa

DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM, 1 Kg Plastik Hasilkan 1 Liter Bahan Bakar

Kalimantan Update – 03 Oktober 2026 | Inovasi pengelolaan sampah terus dikembangkan di berbagai daerah, salah satunya yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Melalui program bertajuk Osama Adem, DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM dengan memanfaatkan sampah anorganik, khususnya plastik, sebagai bahan baku utama. Langkah ini menjadi terobosan penting di tengah persoalan sampah yang terus meningkat sekaligus kebutuhan energi yang kian mendesak.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengungkapkan bahwa inovasi tersebut mampu mengubah sekitar 1 kilogram sampah plastik menjadi hingga 1 liter bahan bakar minyak. Capaian itu dinilai cukup menjanjikan karena sekaligus memberikan solusi ganda, yakni mengurangi timbunan sampah dan menghasilkan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“DLHK Kabupaten Kutai Kartanegara tahun ini mempunyai inovasi yang kami beri judul Osama Adem, yaitu mengolah sampah menjadi energi atau BBM,” ungkap Tri Joko saat ditemui di Tenggarong, Rabu (30/9/2026).

Mesin Pirolisis Jadi Kunci Pengolahan

Proses pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar tersebut menggunakan mesin pirolisis. Teknologi ini bekerja dengan memanaskan sampah plastik pada suhu tertentu tanpa oksigen sehingga menghasilkan bahan bakar dengan karakteristik menyerupai pertalite maupun solar. Penerapannya pun mulai dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk TPS 3R dan beberapa tempat pengelolaan sampah di wilayah Kukar.

Keberadaan mesin pirolisis menjadi kunci keberhasilan program DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM. Dengan teknologi ini, sampah plastik yang sebelumnya hanya menumpuk di tempat pembuangan akhir kini memiliki nilai tambah yang signifikan. Hasil pengolahan tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang bisa langsung digunakan oleh masyarakat.

Sebagian hasil pengolahan bahkan telah dimanfaatkan oleh kalangan nelayan dengan harga sekitar Rp10 ribu per liter. Menurut Tri Joko, produk tersebut dapat menjadi alternatif ketika masyarakat kesulitan memperoleh solar, terutama di wilayah-wilayah yang akses bahan bakar minyaknya terbatas.

“Ini bisa menjadi bahan bakar alternatif yang kurang lebih setara solar, terutama ketika kebutuhan solar sulit diperoleh,” katanya.

Kelompok Tani Ikut Manfaatkan Sampah Jadi Energi

Kebutuhan bahan bakar yang tinggi juga mendorong kelompok tani di salah satu kecamatan di Kukar untuk memanfaatkan sampah sebagai bahan baku energi. Kelompok tersebut mengalami kesulitan mendapatkan solar untuk kebutuhan operasional, sehingga muncul gagasan memproduksi bahan bakar secara mandiri.

“Karena kebutuhan solar sulit, mereka punya keinginan membuat solar sendiri dari sampah. Kami memberikan edukasi terkait hal tersebut,” tutur Tri Joko.

Menanggapi hal itu, DLHK Kukar memberikan pendampingan dan edukasi kepada kelompok tani mengenai tata cara pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Meski demikian, rencana tersebut masih membutuhkan sejumlah persiapan teknis sebelum dapat direalisasikan secara penuh, mulai dari penyediaan mesin, pelatihan sumber daya manusia, hingga kesiapan sarana pendukung lainnya.

Langkah DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM ini dinilai sejalan dengan upaya pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Selain itu, program ini juga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan.

Solusi Ganda bagi Lingkungan dan Energi

Inovasi yang dikembangkan DLHK Kukar menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang. Dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan baku BBM, dua permasalahan besar dapat ditekan sekaligus, yaitu pencemaran lingkungan akibat timbunan plastik dan keterbatasan akses bahan bakar minyak di daerah.

Tri Joko menegaskan bahwa program ini merupakan salah satu solusi yang relevan dengan kondisi saat ini. “Ini salah satu solusi. Kondisi BBM, khususnya solar, yang masih agak sulit, teman-teman petani dan nelayan juga sangat memerlukan itu,” tuturnya.

Ke depan, DLHK Kukar berencana memperluas penerapan teknologi ini ke lebih banyak lokasi. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang terlibat dan merasakan manfaat langsung dari pengolahan sampah menjadi energi. Edukasi kepada kelompok tani dan nelayan akan terus dilakukan agar mereka mampu mengelola sampah secara mandiri dan produktif.

Dengan keberhasilan DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM, daerah ini membuktikan bahwa inovasi sederhana berbasis teknologi tepat guna mampu menjawab tantangan lingkungan dan energi secara bersamaan. Program Osama Adem pun menjadi contoh nyata bagaimana sampah yang selama ini dianggap masalah dapat berubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomis.

Pada akhirnya, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat luas. Jika dikelola dengan baik, pengolahan sampah plastik menjadi BBM dapat menjadi model pengelolaan lingkungan yang layak direplikasi di daerah lain, sekaligus memperkuat ketahanan energi di tingkat lokal.