Pembangunan Hatchery Udang Muara Badak Dilanjutkan 2027, Kukar Kejar Kemandirian Benur

Foto: Istimewa

Pembangunan Hatchery Udang Muara Badak Dilanjutkan 2027, Kukar Kejar Kemandirian Benur

Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan Pembangunan Hatchery Udang Muara Badak Dilanjutkan 2027 setelah sempat tertunda akibat efisiensi anggaran. Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi solusi kemandirian benur bagi pembudidaya sekaligus sumber pendapatan asli daerah (PAD) baru. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengungkapkan bahwa pembangunan yang dimulai sejak 2023-2024 baru mencapai sekitar 35 persen. Keterbatasan anggaran membuat proyek ini tidak berlanjut pada 2025 dan 2026.

“Kalau menurut master plan yang kita rencanakan, total kebutuhan anggarannya kurang lebih Rp39,5 miliar. Sampai 2025, anggaran yang sudah dikeluarkan Rp15,8 miliar, sehingga masih kurang sekitar Rp23,7 miliar,” jelas Muslik kepada media ini, Senin (12/10/2026).

Sejumlah pekerjaan awal telah dilakukan, termasuk pembangunan beberapa bagian bangunan dan betonisasi. Namun, fasilitas pendukung seperti instalasi air dan listrik, gedung perkantoran, rumah jaga, rumah karyawan, bak penampungan air, serta pagar keliling masih perlu diselesaikan. DKP Kukar berharap alokasi anggaran kembali tersedia pada 2027. Pemerintah daerah juga membahas opsi pembiayaan melalui skema tahun jamak atau multiyears agar kebutuhan anggaran dapat dipenuhi secara bertahap.

“Yang jelas kita berharap bahwa hatchery ini nantinya bisa berfungsi dengan baik sesuai dengan target kita,” ucap Muslik. Ia menegaskan, penyelesaian fasilitas dasar menjadi prioritas agar hatchery dapat segera difungsikan. Instalasi air dan listrik menjadi bagian penting untuk mendukung operasional, sementara pembangunan pagar diperlukan untuk menunjang keamanan kawasan. “Tinggal instalasi air dan instalasi listrik. Itu sebenarnya sudah bisa jalan. Tetapi untuk keamanan, pagar harus kita bangun terlebih dahulu,” ujarnya.

Dari sisi kapasitas, hatchery Muara Badak dirancang mampu memproduksi sekitar 180 juta hingga 200 juta ekor benur. Produksi tersebut diharapkan dapat memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan benur di Kukar dan mendukung peningkatan hasil budidaya udang. “Target produksi paling tidak bisa mencapai 200 juta ekor, kalau tepatnya sekitar 180 juta ekor. Dari jumlah tersebut, diperkirakan bisa menghasilkan sekitar 65 juta ekor udang setelah dibudidayakan dan memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan kita,” jelasnya.

Muslik menyebutkan, produksi benur dalam jumlah besar diharapkan dapat mendukung pengembangan budidaya udang di Kukar. Dengan demikian, keberadaan hatchery tidak hanya menunjang kebutuhan pembudidaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah. “Produksi tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan benih udang bagi pembudidaya di Kukar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, memastikan Pembangunan Hatchery Udang Muara Badak Dilanjutkan 2027. Ia menyebut efisiensi anggaran menjadi alasan proyek itu belum dapat dilanjutkan tahun ini. “Karena efisiensi, batal. Jadi, tahun depan kita lanjutkan,” kata Aulia di Tenggarong, Jumat (9/10/2026). Aulia menegaskan, pemerintah daerah akan mengupayakan kelanjutan pembangunan agar fasilitas tersebut dapat segera beroperasi sesuai perencanaan. Selain memenuhi kebutuhan benur bagi sektor perikanan, hatchery juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan daerah apabila dikelola secara optimal.

Proyek Pembangunan Hatchery Udang Muara Badak Dilanjutkan 2027 menjadi angin segar bagi para pembudidaya udang di Kukar. Pasalnya, selama ini mereka masih bergantung pada pasokan benur dari luar daerah yang seringkali harganya tidak stabil dan kualitasnya bervariasi. Dengan adanya hatchery ini, diharapkan biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas budidaya meningkat. Selain itu, kehadiran hatchery juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, terutama dalam hal operasional dan pemeliharaan fasilitas.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini secara bertahap. Skema multiyears menjadi pilihan agar pembangunan tidak terhambat oleh keterbatasan anggaran tahunan. DKP Kukar juga akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan seluruh kebutuhan teknis dan administratif terpenuhi. Dengan demikian, target operasional pada 2027 dapat tercapai dan memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian daerah.

Ke depan, hatchery Muara Badak diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi benur, tetapi juga pusat pelatihan dan pengembangan teknologi budidaya udang. Hal ini sejalan dengan visi Kukar untuk menjadi lumbung udang di Kalimantan Timur. Dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat dan pelaku usaha, sangat diperlukan agar proyek ini sukses dan berkelanjutan. Pembangunan Hatchery Udang Muara Badak Dilanjutkan 2027 adalah bukti nyata keseriusan pemerintah dalam memajukan sektor kelautan dan perikanan.

Sebagai penutup, pembangunan hatchery udang Muara Badak merupakan proyek strategis yang patut didukung. Meskipun sempat tertunda, komitmen pemerintah untuk melanjutkan pada 2027 patut diapresiasi. Dengan kapasitas produksi hingga 200 juta ekor benur, fasilitas ini berpotensi besar dalam memenuhi kebutuhan domestik, mengurangi impor, dan meningkatkan pendapatan daerah. Mari kita awasi bersama agar proyek ini berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Kukar.