CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah, Golkar Beri Tanggapan Menyusul Survei Kabinet Prabowo

Foto: Istimewa

CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah, Golkar Beri Tanggapan Menyusul Survei Kabinet Prabowo

Kalimantan Update – 14 Oktober 2026 | Center of Economic and Law Studies (CELIOS) baru saja merilis hasil survei kinerja menteri di lingkungan Pemerintahan Prabowo Subianto yang menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai pada posisi terendah. Isu CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan pun langsung mencuri perhatian publik nasional, terutama karena Partai Golkar sebagai kendaraan politik Bahlil bergerak cepat memberikan respons resmi terhadap temuan lembaga riset independen tersebut.

Survei yang dirilis pada 13 Oktober 2026 itu disebut berlangsung sejak 15 September hingga 9 Oktober 2026. CELIOS melibatkan 1.142 responden yang terdiri dari kalangan ahli dan masyarakat umum, dengan pendekatan analisis pemeringkatan kinerja kabinet. Hasilnya, Bahlil memperoleh skor -159, sementara Natalius Pigai mendapatkan skor -158. Keduanya berada di dasar klasemen persepsi kinerja menteri dalam kabinet saat ini.

Metodologi yang dipakai CELIOS terbilang berlapis. Survei terhadap masyarakat umum menggunakan non-probability sampling melalui Meta Ads yang dilengkapi pembobotan, sedangkan survei ahli menggunakan teknik snowball sampling. Pendekatan campuran ini dimaksudkan untuk menangkap persepsi publik sekaligus penilaian kalangan berpengalaman terhadap efektivitas kerja para menteri.

Respons Cepat Partai Golkar

Menanggapi hasil survei tersebut, Partai Golkar tidak tinggal diam. Mereka menilai pemeringkatan yang dilakukan CELIOS perlu dibaca secara kritis, terutama karena metode non-probability sampling dinilai tidak sepenuhnya merepresentasikan suara nasional. Golkar menegaskan bahwa Bahlil Lahadalia memiliki rekam jejak kerja yang terukur, khususnya di sektor energi yang menjadi tulang punggung penerimaan negara.

Dalam pernyataan yang disampaikan ke publik, pihak Golkar menekankan bahwa indikator kinerja menteri tidak bisa direduksi hanya pada satu survei. Mereka menyoroti sejumlah capaian sektor ESDM, mulai dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi, percepatan transisi energi, hingga pengelolaan tata kelola tambang yang terus dibenahi. Menurut Golkar, narasi CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan seharusnya menjadi ruang dialog konstruktif, bukan ajang saling menyerang.

Di sisi lain, CELIOS bersikeras bahwa hasil survei merupakan potret objektif dari persepsi yang berkembang di masyarakat dan kalangan ahli. Lembaga ini menegaskan tidak memiliki kepentingan politik praktis dan hanya menjalankan fungsi pengawasan publik terhadap jalannya pemerintahan. Isu CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan pun semakin ramai diperbincangkan di ruang digital.

Data dan Metodologi Survei

Untuk memahami hasil survei ini secara utuh, penting melihat bagaimana CELIOS menyusun pemeringkatan. Berikut ringkasan metodologi yang digunakan:

  • Periode survei: 15 September hingga 9 Oktober 2026.
  • Jumlah responden: 1.142 orang, terdiri dari ahli dan masyarakat umum.
  • Metode masyarakat umum: non-probability sampling melalui Meta Ads dengan pembobotan.
  • Metode kalangan ahli: snowball sampling.
  • Pendekatan analisis: pemeringkatan kinerja kabinet.
Nama Menteri Jabatan Skor
Bahlil Lahadalia Menteri ESDM -159
Natalius Pigai Menteri HAM -158

Angka negatif dalam skor ini menunjukkan dominasi penilaian yang cenderung kritis terhadap kinerja kedua menteri. Meski demikian, CELIOS tidak merinci sebaran responden per wilayah maupun latar belakang profesi secara terbuka, sehingga sebagian pihak menilai hasil ini masih menyisakan ruang debat akademik.

Dinamika Politik di Balik Survei

Isu CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan tidak bisa dilepaskan dari konteks politik yang lebih luas. Bahlil merupakan salah satu figur sentral di Partai Golkar sekaligus pembantu utama Presiden Prabowo Subianto di sektor energi. Setiap hasil survei yang menyentuh namanya berpotensi mengguncang peta kekuatan internal partai maupun koalisi pemerintah.

Pengamat menilai respons Golkar yang cepat mencerminkan kesadaran bahwa persepsi publik adalah modal politik yang mahal. Bagi partai besar, survei semacam ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal elektoral menjelang agenda-agenda politik berikutnya. Karena itu, wajar jika Golkar berupaya membingkai hasil survei sebagai masukan, bukan vonis.

Namun, publik juga menuntut transparansi. Sejumlah kalangan mendorong agar setiap kementerian mempublikasikan capaian kerja secara berkala, sehingga penilaian tidak bergantung pada survei sesaat. Dengan begitu, diskursus CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan dapat berkembang menjadi evaluasi kebijakan yang sehat, bukan sekadar polemik politik.

Menakar Kinerja dan Ekspektasi Publik

Survei CELIOS menyentuh persoalan mendasar: bagaimana publik mengukur kinerja menteri? Di sektor energi, misalnya, masyarakat kerap menilai dari harga dan ketersediaan pasokan, sementara kalangan ahli menyoroti tata kelola, transparansi kontrak, dan keberlanjutan investasi. Perbedaan lensa ini menjelaskan mengapa skor bisa sangat bervariasi antar kelompok responden.

Bagi Golkar, tantangan terbesarnya adalah mengubah persepsi menjadi kepercayaan. Jika Bahlil mampu menunjukkan capaian nyata di lapangan, kritik dari survei bisa berbalik menjadi pijakan legitimasi. Sebaliknya, jika respons hanya bersifat retoris, publik akan semakin kritis pada periode penilaian berikutnya.

Yang jelas, hasil survei ini menegaskan bahwa ruang publik Indonesia semakin aktif mengawasi jalannya pemerintahan. Lembaga riset, partai politik, dan masyarakat kini terlibat dalam ekosistem saling mengoreksi yang menyehatkan demokrasi. Isu CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan menjadi cermin bahwa akuntabilitas kinerja pejabat publik kini berada di bawah sorotan yang lebih tajam.

Kesimpulan

Survei CELIOS yang menempatkan Bahlil Lahadalia dan Natalius Pigai pada posisi terendah telah memicu respons cepat dari Partai Golkar. Di satu sisi, CELIOS menegaskan hasil pemeringkatan sebagai potret objektif persepsi publik dan kalangan ahli. Di sisi lain, Golkar menilai metodologi non-probability sampling perlu dibaca secara kritis dan mengingatkan bahwa kinerja menteri tidak bisa diukur hanya dari satu survei. Dinamika CELIOS Nilai Bahlil Berkinerja Terendah Golkar Beri Tanggapan menunjukkan bahwa akuntabilitas publik kini menjadi medan pertarungan narasi yang menuntut transparansi, data yang terbuka, serta capaian kerja yang nyata. Pada akhirnya, publik akan menilai bukan dari pernyataan, melainkan dari bukti kinerja di lapangan.

Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak