Inter Milan Dihantam Badai Krisis: Tresoldi Bersinar, Chivu di Ujung Tanduk

Foto: Istimewa

Inter Milan Dihantam Badai Krisis: Tresoldi Bersinar, Chivu di Ujung Tanduk

Kalimantan Update – 15 Oktober 2026 | Inter Milan kembali menelan pil pahit di ajang Liga Champions. Bermain di hadapan publik sendiri di San Siro, pasukan Cristian Chivu takluk 3-4 dari Club Brugge pada matchday kedua. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Inter Milan yang belum sekalipun meraih poin di fase liga musim ini. Lebih buruk lagi, ini adalah kekalahan kedua beruntun, dan yang ketujuh dari delapan pertandingan terakhir mereka di kompetisi Eropa. Krisis yang nyata.

Pertandingan berjalan dramatis. Inter Milan sempat bangkit lewat dua gol Lautaro Martinez, namun pertahanan mereka kacau balau. Kesalahan individu, terutama dari kiper Josep Martinez, menjadi sorotan. Gol ketiga Tresoldi lahir dari blunder sang penjaga gawang. Meski Bonny sempat memperkecil kedudukan di akhir laga, Inter Milan tetap harus mengakui keunggulan lawan. Kekalahan ini memicu gelombang kritik dari media dan tifosi.

Nicolò Tresoldi, Pahlawan Brugge yang Ternyata Tifoso Milan

Di balik gemilangnya Club Brugge, ada nama Nicolò Tresoldi. Penyerang muda ini mencetak hattrick ke gawang Inter Milan, sebuah pencapaian luar biasa di stadion sebesar San Siro. Yang membuat cerita semakin menarik, Tresoldi adalah penggemar berat AC Milan, rival sekota Inter. Ayahnya, Emanuele, mengaku kepada media bahwa putranya memang sangat termotivasi tampil baik di kandang Inter. “Dia sangat senang, apalagi melawan Inter di stadion terpenting di Italia,” ujar sang ayah.

Tresoldi lahir di Cagliari, Italia, namun ia meniti karier di Jerman bersama Hannover 96. Ia kini menjadi rebutan antara Federasi Sepak Bola Jerman dan Italia. Meski memiliki darah Italia, Tresoldi telah memperkuat Jerman U-21 dan menjadi top skor kualifikasi Euro U-21 dengan 10 gol. Pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini, dikabarkan tertarik memanggilnya. Namun sang ayah menegaskan bahwa keputusan ada di tangan Nicolò. “Saya tidak pernah memaksakan pilihan, tetapi seorang ayah tentu bangga,” tambahnya.

Krisis Inter Milan: Bukan Sekadar Salah Chivu

Kekalahan dari Brugge memperpanjang daftar masalah Inter Milan di Eropa. Statistik menunjukkan Inter hanya menang sekali dalam delapan laga terakhir Liga Champions. Media Italia seperti Gazzetta dello Sport menyoroti “kesalahan, kebingungan, dan kerapuhan” tim. Tuttosport menyebutnya sebagai “humiliasi baru”. Penggemar di media sosial menuntut evaluasi besar-besaran, termasuk posisi pelatih Cristian Chivu. Banyak yang menilai Chivu belum mampu membawa Inter Milan bersaing di level tertinggi Eropa.

Namun, masalah tidak hanya terletak pada kursi pelatih. Manajemen dianggap kurang memperkuat lini pertahanan pada bursa transfer musim panas. Perekrutan Curtis Jones dinilai tidak menjawab kebutuhan mendesak akan bek tangguh. Lini belakang Inter Milan sering terlihat terputus dan mudah dieksploitasi. Chivu sendiri mengakui perlu ada perbaikan taktik dan mental. “Kami harus segera menemukan solusi,” ujarnya usai laga.

Tekanan di Serie A dan Peta Persaingan

Meski terpuruk di Eropa, Inter Milan masih memimpin klasemen Serie A. Mereka baru saja menghancurkan Parma 3-0 di San Siro. Namun, tekanan dari rival-rival terus mengintensifkan. AS Roma, Lazio, dan Como tampil konsisten dan siap menyalip. AC Milan, yang kini dilatih Ruben Amorim, justru sedang goyah setelah hanya bermain imbang melawan Sassuolo. Amorim berada di bawah tekanan besar.

Di sisi lain, AC Milan tengah mencari direktur teknik baru. Legenda Milan, Carlo Pellegatti, menyarankan agar Milan mendekati Piero Ausilio, mantan direktur Inter Milan yang telah mengabdi 28 tahun. Meski terkesan kontroversial, Pellegatti yakin waktu akan menghapus masa lalu jika hasilnya positif. Langkah ini bisa menjadi babak baru dalam rivalitas Milan dan Inter di luar lapangan.

Kesimpulan

Kekalahan Inter Milan dari Club Brugge bukan sekadar insiden tunggal. Ini adalah puncak dari serangkaian masalah yang mengakar: pertahanan rapuh, kesalahan individu, dan keraguan taktik. Sementara Nicolò Tresoldi bersinar sebagai bintang muda yang memperkuat dilema antara Jerman dan Italia, Inter Milan harus segera berbenah. Chivu memiliki waktu terbatas untuk membalikkan keadaan, dimulai dari laga melawan Bologna di Serie A. Jika tidak, krisis ini bisa menghancurkan ambisi mereka di Eropa dan domestik. Tifosi berhak bertanya: apakah proyek Eropa Inter Milan masih layak dipercaya?