Kalimantan Update – 16 Oktober 2026 | Kota Padang kembali dilanda padang banjir bandang pada Sabtu, 10 Oktober 2026, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah itu sejak pukul 12.00 WIB. Air sungai tiba-tiba meluap di Kecamatan Kuranji sekitar pukul 12.52 WIB dan dengan cepat meluas ke Kecamatan Koto Tangah serta Nanggalo. Peristiwa ini menegaskan bahwa ancaman padang banjir bandang bukan sekadar dipicu curah hujan lebat, melainkan berkaitan erat dengan kondisi topografi pegunungan, jaringan sungai, karakteristik tanah, dan dinamika sedimen.
Dua lokasi yang terdampak paling parah adalah Perumahan Lumin Park di kawasan Lubuk Minturun dan Kampung Guo di Kecamatan Kuranji. Bagi warga Lumin Park, bencana ini bukan pengalaman pertama. Belum genap satu tahun sebelumnya, tepatnya 26–27 November 2025, pemukiman itu juga diterjang banjir bandang yang membawa material dari hulu. Pada kejadian Oktober 2026, ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter dan derasnya arus menyeret sejumlah kendaraan warga ke area belakang kompleks yang berbatasan langsung dengan alur sungai.
Analisis hidrogeomorfologi berbasis Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) resolusi 30 meter menunjukkan wilayah Padang memiliki kontras topografi yang sangat tajam. Pegunungan di sebelah timur memiliki elevasi hingga 1.864 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara kawasan barat merupakan dataran rendah yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Sekitar 48,84 persen daratan valid di Padang memiliki kemiringan lereng lebih dari 15 derajat. Bahkan pada zona elevasi 500–1.000 mdpl, porsi wilayah dengan lereng curam mencapai 78,66 persen. Kemiringan terjal ini mempercepat konsentrasi aliran air hujan dari pegunungan menuju kawasan lembah dalam waktu singkat.
Meski demikian, banjir justru menggenangi kawasan landai. Perumahan Lumin Park berada pada elevasi 36,1 mdpl dengan kemiringan lereng hanya 0,62 derajat, sedangkan Kampung Guo berada di elevasi 22,7 mdpl dengan kemiringan 1,17 derajat. Walaupun relatif datar, kedua kawasan ini menerima limpasan air yang sangat besar dari daerah tangkapan air hulu. Ketika debit air melampaui kapasitas tampung alur utama sungai, luapan air secara otomatis melimpah ke dataran banjir sekitar.
Bencana padang banjir bandang ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur vital. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat bergerak cepat menangani sejumlah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak. Tiga titik utama yang mengalami gangguan serius adalah SPAM Guo Kuranji, SPAM Palukahan, dan SPAM Gunung Pangilun. Kerusakan cukup parah tercatat pada SPAM Guo Kuranji, di mana derasnya arus banjir menyebabkan bangunan intake jebol serta terputusnya beberapa jalur pipa transmisi utama. SPAM ini memiliki kapasitas produksi 80 liter per detik dan melayani sekitar 10.000 sambungan rumah, sehingga kerusakannya berpotensi mengganggu distribusi air bersih harian warga.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan fokus penanganan pascabencana tidak hanya memperbaiki prasarana fisik, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar. “Pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar,” tegasnya.
Perumda Air Minum Kota Padang turut menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak. Direktur Utama Perumda Air Minum Padang, Hendra Pebrizal, mengatakan bantuan diberikan di dua lokasi, yakni Kelurahan Koto Panjang Ikur Koto, Kecamatan Koto Tangah, dan Kelurahan Guo, Kecamatan Kuranji, masing-masing lebih dari 50 paket sembako berisi telur, beras, dan kebutuhan pokok lainnya. “Walaupun saat ini Perumda Air Minum Padang juga terdampak bencana berupa banyaknya fasilitas air bersih kami yang rusak, ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat yang menjadi korban banjir bandang,” ungkapnya.
Lurah Koto Panjang Ikur Koto, Doni MS, mengapresiasi bantuan tersebut. Ia menjelaskan banjir bandang sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi warga dan memaksa 165 kepala keluarga atau 615 jiwa mengungsi selama dua hari. “Saat ini korban telah kembali ke rumah masing-masing,” katanya. Warga Guo, Ida (50), juga menyampaikan rasa syukur atas bantuan sembako yang dinilai sangat dibutuhkan setelah bencana.
Kementerian Sosial melalui BBPPKS Padang dan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, makanan anak, selimut, kasur, family kit, dan kidsware. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menekankan pentingnya kepekaan terhadap kebutuhan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. “Jangan sampai ada yang kesulitan mendapatkan makanan, perlengkapan sehari-hari, atau tempat istirahat yang layak,” ujarnya.
Berdasarkan laporan penanganan per Rabu, 14 Oktober 2026, tercatat 743 jiwa terdampak. Sebanyak 120 rumah terendam, satu rumah rusak berat, dan empat rumah rusak sedang. Tanggul Sungai Lapau Munggu jebol dan akses jalan sepanjang sekitar 100 meter terputus di kawasan PDAM Guo, Kecamatan Kuranji. Hingga pembaruan terakhir, air telah surut, tetapi lumpur dan material sisa masih menutupi kawasan terdampak.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut juga bergerak cepat menyalurkan paket bantuan sembako, LPG untuk dapur umum, serta kebutuhan ibu dan anak. Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyampaikan terima kasih atas kepedulian Pertamina yang dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat. Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut Pertamina Patra Niaga, Silvani Maiyestuhariani, menegaskan komitmen perusahaan untuk hadir di tengah masyarakat sebagai mitra sosial yang peduli.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa padang banjir bandang merupakan persoalan kompleks yang memerlukan penanganan terpadu, mulai dari tata ruang berbasis risiko, konservasi daerah tangkapan air, normalisasi sungai, hingga penguatan sistem peringatan dini. Tanpa langkah struktural dan nonstruktural yang berkelanjutan, potensi banjir berulang di lokasi yang sama akan terus mengintai warga.

