Kalimantan Update – 16 Oktober 2026 | Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan fenomena langit berwarna oranye yang menyelimuti sejumlah daerah di Indonesia. Warna jingga yang pekat itu bukanlah senja yang indah, melainkan pertanda buruk bagi kualitas udara. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah wilayah tercatat melonjak drastis hingga masuk kategori berbahaya, seiring dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda beberapa provinsi.
Pantauan terbaru dari Stasiun Pemantauan ISPU Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada Kamis pukul 12.05 WIB menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan. Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, menempati posisi teratas dengan nilai ISPU mencapai 1.551. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas normal dan menandakan bahwa udara di wilayah itu sangat tidak sehat bagi seluruh populasi.
Parameter pencemar kritis yang terdeteksi di Katingan adalah PM2.5, yaitu partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Tingginya konsentrasi PM2.5 inilah yang menjadi biang keladi munculnya kabut asap pekat dan langit oranye yang viral di berbagai platform digital.
Tak hanya Katingan, dua wilayah lain di Kalimantan Tengah juga mencatat angka ISPU yang fantastis. Palangka Raya berada di peringkat kedua dengan nilai 1.294, disusul Kabupaten Gunung Mas dengan angka 1.006. Ketiga daerah ini menjadi episentrum pencemaran udara di Pulau Borneo pada periode pemantauan tersebut.
Daftar lengkap 10 lokasi pemantauan dengan ISPU tertinggi pada Kamis (15/10/2026) pukul 12.05 WIB adalah sebagai berikut:
- Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah: 1.551
- Palangka Raya, Kalimantan Tengah: 1.294
- Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah: 1.006
- Banjarmasin, Kalimantan Selatan: 740
- Palembang, Sumatera Selatan: 644
Data tersebut memperlihatkan bahwa kualitas udara buruk tidak hanya terpusat di Kalimantan Tengah. Banjarmasin di Kalimantan Selatan dengan ISPU 740 dan Palembang di Sumatera Selatan dengan angka 644 turut merasakan dampak serupa. Kedua kota besar itu masuk dalam kategori berbahaya karena nilai ISPU di atas 300 sudah tergolong sangat ekstrem.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan. Penggunaan masker N95 atau setidaknya masker medis menjadi langkah minimal yang harus dilakukan ketika terpaksa beraktivitas di luar rumah. Pemerintah daerah juga didorong untuk segera mengaktifkan posko kesehatan dan menyediakan ruang udara bersih bagi warga.
Fenomena langit oranye yang ramai dibicarakan warganet sejatinya adalah akibat dari hamburan cahaya matahari oleh partikel asap. Ketika konsentrasi PM2.5 sangat tinggi, gelombang cahaya biru dan hijau terserap, sementara cahaya merah dan jingga diteruskan sehingga langit tampak berwarna oranye. Peristiwa ini pernah terjadi di beberapa negara lain dan kini kembali menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan di Indonesia belum usai.
Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya melakukan pemadaman karhutla melalui operasi udara dan darat. Namun, tantangan besar masih menghadang, mulai dari lahan gambut yang mudah terbakar hingga faktor cuaca kering. Tanpa penanganan serius dan kesadaran kolektif, langit oranye serta ISPU yang melampaui batas berbahaya akan terus menghantui masyarakat Indonesia.
Kesimpulannya, lonjakan ISPU di Katingan, Palangka Raya, Gunung Mas, Banjarmasin, dan Palembang menjadi alarm keras bagi semua pihak. Kualitas udara yang memburuk bukan hanya soal angka, tetapi menyangkut kesehatan jutaan jiwa. Diperlukan langkah nyata, kolaborasi lintas sektor, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan agar tragedi kabut asap tidak terus berulang setiap tahun.

