UCL dalam Sorotan: Dari Kecerdasan Buatan Retina Hingga Jejak Mahatma Gandhi

Foto: Istimewa

UCL dalam Sorotan: Dari Kecerdasan Buatan Retina Hingga Jejak Mahatma Gandhi

Kalimantan Update – 04 Oktober 2026 | Universitas College London (UCL) kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai belahan dunia. Lembaga pendidikan bergengsi di Inggris itu tidak hanya dikenal sebagai pusat riset dan inovasi, tetapi juga menyimpan jejak sejarah penting bagi tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi. Dalam beberapa pekan terakhir, nama UCL muncul dalam berbagai konteks, mulai dari proyek kecerdasan buatan di bidang kesehatan mata hingga peringatan Gandhi Jayanti.

Pada Kongres EURETINA 2026 yang berlangsung di Wina, Austria, seorang peneliti dari UCL, Paul Nderitu, memaparkan perkembangan proyek ambisius bernama Global RETFound. Proyek ini digadang-gadang sebagai model fondasi medis global pertama di dunia yang berfokus pada retina. Nderitu, yang juga merupakan konsultan oftalmologi di Moorfields, menjelaskan bahwa proyek ini telah menjalin kemitraan dengan 108 mitra dari lebih dari 40 negara. Tiga perempat mitra telah berbagi model generatif yang dilatih pada kumpulan data lokal, sementara sisanya memberikan data riil. Tim berencana mensintesis sekitar 100 juta gambar fundus berwarna dan menggabungkannya dengan data nyata, yang diharapkan menjadi peningkatan seratus kali lipat dari model RETFound awal.

Lebih dari 20 lokasi sedang menguji kasus penggunaan untuk memvalidasi model, mulai dari deteksi retinopati diabetik dan degenerasi makula hingga tugas okulomik dan deteksi retinopati prematuritas. Nderitu menekankan bahwa validasi dalam beberapa bulan mendatang menjadi prioritas utama, dan tim berupaya menjadikan model ini akses terbuka untuk riset. Ia juga menyoroti pentingnya representasi dan inklusivitas dalam AI untuk meningkatkan kesetaraan kesehatan, karena model yang hanya dilatih pada populasi tertentu akan merugikan kelompok lain. Kolaborasi yang melibatkan UCL ini menunjukkan komitmen kampus tersebut terhadap riset medis yang berdampak global.

Selain itu, UCL juga menjadi bagian dari diskusi internasional tentang sejarah pendidikan Mahatma Gandhi. Dalam peringatan Gandhi Jayanti yang jatuh pada 2 Oktober, muncul pertanyaan tentang di mana sebenarnya Gandhi menempuh pendidikan hukum. UCL dan Inner Temple sama-sama mengklaim Gandhi sebagai alumni. Menurut situs resmi UCL, Gandhi terdaftar untuk program hukum pada sesi 1888-89. Sementara itu, Inner Temple, yang merupakan salah satu Inn of Court di London, juga mencatat Gandhi sebagai anggotanya. Perbedaan ini sebenarnya dapat dijelaskan karena UCL adalah universitas yang memberikan gelar, sedangkan Inner Temple adalah lembaga profesional tempat para mahasiswa hukum bergabung untuk pelatihan bar. Gandhi sendiri dalam otobiografinya menyebutkan bahwa ia mengambil pendidikan di Inner Temple. Fakta ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara UCL dan sejarah tokoh kemerdekaan India tersebut.

Di sisi lain, UCL juga menjadi tujuan studi bagi banyak pelajar internasional. Sebuah catatan pribadi dari seorang perempuan asal Okinawa, Haru, mengungkapkan pengalamannya menempuh MA Education di UCL setelah sebelumnya belajar di Kanada. Ia tertarik pada sistem pendidikan berbagai negara dan bagaimana hal itu membentuk rasa memiliki. Pengalaman Haru menunjukkan bahwa UCL tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga wadah untuk merenungkan identitas dan akar budaya. Hal ini sejalan dengan reputasi UCL sebagai universitas yang mendorong mahasiswanya untuk berpikir kritis dan global.

Namun, tidak semua berita tentang UCL bersifat positif. Sebuah studi yang melibatkan Institute for Environmental Design and Engineering UCL menemukan bahwa kebisingan di kantor, terutama suara percakapan, sangat mengganggu konsentrasi kerja. Survei terhadap 1.000 pekerja kantor di Inggris menunjukkan bahwa 65% responden merasa kebisingan memengaruhi kemampuan mereka menyelesaikan pekerjaan secara akurat dan tepat waktu. Penelitian ini menyoroti pentingnya desain ruang kerja yang lebih baik untuk mengurangi dampak negatif kebisingan terhadap produktivitas. Temuan ini menjadi pengingat bahwa kontribusi UCL tidak hanya sebatas riset medis dan pendidikan, tetapi juga dalam memahami faktor lingkungan yang memengaruhi kesejahteraan manusia.

Dari proyek AI retina hingga diskusi sejarah Gandhi, UCL terus menunjukkan perannya sebagai institusi yang multidisiplin dan berpengaruh. Keterlibatan UCL dalam berbagai inisiatif global mencerminkan semangat inovasi dan inklusivitas yang menjadi ciri khasnya. Sebagai universitas yang telah berdiri hampir dua abad, UCL tetap relevan dan adaptif terhadap tantangan zaman. Ke depannya, berbagai proyek yang melibatkan UCL diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dunia, baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun teknologi. Dengan demikian, UCL bukan sekadar nama besar, tetapi juga motor penggerak perubahan positif di tingkat global.