Kalimantan Update – 17 Oktober 2026 | Universitas Diponegoro (Undip) kembali menorehkan inovasi di bidang teknologi lingkungan. Kali ini, Undip Kembangkan Mesin Pengolah Plastik Berkapasitas 200 Kg yang diberi nama Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3). Mesin pirolisis ini dirancang untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar cair, sebuah terobosan yang diharapkan mampu menjawab persoalan limbah plastik yang kian menggunung di Indonesia.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro menjadi otak di balik pengembangan teknologi ini. Menurut Didi, peningkatan kapasitas menjadi salah satu pembaruan utama pada mesin tersebut. Jika prototipe pertama hanya mampu mengolah 5 kilogram plastik sekali produksi, lalu generasi kedua meningkat menjadi 100 kilogram, maka versi terbaru ini melesat hingga 200 kilogram. “Peningkatan kapasitas ini kami lakukan agar mesin lebih efisien dan dapat digunakan dalam skala yang lebih luas,” ujarnya.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan proporsi sampah plastik di Indonesia terus meningkat dari 11 persen pada 2010 menjadi hampir 20 persen pada 2024. Jika tidak ditangani dengan serius, proporsinya diproyeksikan mencapai 50 persen dari total sampah pada 2050. Kondisi ini mendorong Undip Kembangkan Mesin Pengolah Plastik Berkapasitas 200 Kg sebagai langkah konkret untuk mengurangi beban lingkungan.
Mesin pirolisis Dipofuel Gen 3 bekerja dengan memanaskan plastik pada suhu tinggi tanpa oksigen, sehingga memecah molekul plastik menjadi bahan bakar cair yang dapat dimanfaatkan kembali. Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan sumber energi alternatif. “Kami berharap mesin ini dapat diadopsi oleh pemerintah daerah, industri, maupun masyarakat luas,” tambah Didi.
Pengembangan mesin ini melalui perjalanan panjang. Generasi pertama yang berkapasitas 5 kilogram menjadi awal pembuktian konsep. Kemudian generasi kedua dengan kapasitas 100 kilogram menunjukkan peningkatan signifikan. Kini, Undip Kembangkan Mesin Pengolah Plastik Berkapasitas 200 Kg sebagai penyempurnaan, dengan desain yang lebih efisien dan mudah dioperasikan. Tim peneliti juga terus melakukan uji coba untuk memastikan keamanan dan kualitas bahan bakar yang dihasilkan.
Berikut perbandingan kapasitas mesin pirolisis Dipofuel dari generasi ke generasi:
| Generasi | Kapasitas (kg) | Keterangan |
|---|---|---|
| Gen 1 | 5 | Prototipe awal |
| Gen 2 | 100 | Peningkatan kapasitas |
| Gen 3 | 200 | Versi terbaru, lebih efisien |
Inovasi Undip Kembangkan Mesin Pengolah Plastik Berkapasitas 200 Kg mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Guru besar teknik kimia tersebut menegaskan bahwa mesin ini merupakan hasil riset multidisiplin yang melibatkan mahasiswa dan peneliti dari berbagai bidang. Ke depan, Undip berencana menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak untuk komersialisasi dan penerapan teknologi ini di masyarakat.
Selain itu, mesin ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi daerah-daerah yang kesulitan mengelola sampah plastik. Dengan kapasitas 200 kilogram per produksi, mesin dapat dioperasikan secara kontinu untuk mengolah timbulan sampah harian di tingkat kecamatan atau kota kecil. Bahan bakar cair yang dihasilkan pun dapat digunakan untuk kebutuhan industri kecil, seperti genset atau kompor.
Keberhasilan Undip Kembangkan Mesin Pengolah Plastik Berkapasitas 200 Kg menunjukkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan lingkungan. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci agar teknologi tepat guna ini dapat diterapkan secara luas. Dengan demikian, persoalan sampah plastik yang diproyeksikan membengkak pada 2050 dapat ditekan sejak dini.
Sebagai penutup, langkah Undip melalui Dipofuel Gen 3 patut menjadi contoh bagi institusi lain. Inovasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata akan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi. Masyarakat pun diharapkan turut mendukung dengan memilah sampah plastik agar dapat diolah menjadi energi yang bermanfaat.

