Skor TKA 2026 Kini 200-800, Benarkah Nilai 600 Sudah Termasuk Tinggi? Ini Penjelasannya

Foto: Istimewa

Skor TKA 2026 Kini 200-800, Benarkah Nilai 600 Sudah Termasuk Tinggi? Ini Penjelasannya

Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Jelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2026, sejumlah sekolah di berbagai daerah mulai mematangkan persiapan. Ujian yang menjadi salah satu syarat penting untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi ini kini memakai sistem penilaian baru yang membuat banyak siswa penasaran, terutama soal bagaimana cara membaca hasil TKA nantinya. Perubahan skala penilaian dari semula 0–100 menjadi 200–800 menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa perubahan skala tersebut berkaitan dengan cara kemampuan akademik dilaporkan, bukan berarti tingkat kesulitan soal otomatis meningkat. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa penilaian TKA menggunakan pendekatan statistik untuk mengukur kemampuan peserta secara terstandar. Dengan demikian, hasil tes tidak hanya bergantung pada jumlah jawaban yang benar, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik soal yang dikerjakan.

Pertanyaan yang kemudian muncul di kalangan siswa adalah apakah skor TKA 2026 sebesar 600 termasuk tinggi. Angka ini tidak bisa langsung dianggap sebagai nilai 60 dari 100 ataupun diartikan sebagai persentase jawaban benar. Skor 600 perlu dipahami berdasarkan sistem pengukuran kemampuan akademik yang digunakan dalam tes tersebut, sehingga untuk menilai capaian peserta, hasil TKA harus dibaca sesuai mekanisme penskoran dan kategori yang ditetapkan dalam penyelenggaraan tes.

Gladi Bersih di Berbagai Sekolah Berjalan Lancar

Di lapangan, sejumlah sekolah telah menggelar gladi bersih untuk memastikan kesiapan siswa. SMAN 1 Mataram, misalnya, ikut berpartisipasi menyelenggarakan gladi TKA gelombang II tahun 2026. Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMAN 1 Mataram, Patrawi, menyampaikan bahwa pelaksanaan gladi telah memasuki hari keempat gelombang kedua dan berlangsung tertib tanpa hambatan berarti.

Ia menuturkan, kesiapan seluruh perlengkapan dan fasilitas pendukung telah dipenuhi, seperti komputer atau laptop, serta jaringan internet yang dipastikan lancar. Kesiapan fasilitas ini telah dimatangkan sebelum pelaksanaan tes dimulai agar tidak ada kekurangan saat gladi berlangsung. Selain itu, siswa juga menjadi aspek yang diprioritaskan melalui proses pemantapan. Guru telah diarahkan untuk mengintegrasikan mata pelajaran TKA ke dalam pembelajaran.

Menurut Patrawi, gladi ini juga bertujuan memastikan kesesuaian mata pelajaran pilihan yang diambil siswa selaras dengan jurusan yang akan dipilih pada perguruan tinggi. Pasalnya, hasil TKA akan menjadi salah satu syarat untuk mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).

Hal serupa dilakukan SMA Janamarga. Staf Bagian Tata Usaha, Bakri, mengatakan pelaksanaan gladi bersih TKA berjalan lancar. Pihaknya mulai melaksanakan gladi pada 7–11 Oktober. Kendati sempat ada kendala terkait pengawas, ia memastikan hal itu akan disesuaikan saat pelaksanaan TKA nanti.

Bakri menyebut jumlah siswa yang berpartisipasi pada TKA 2026 bertambah menjadi 15 orang, meningkat dibandingkan penyelenggaraan tahun 2025 yang hanya mencapai 7 siswa. Sekolah pun telah memberikan pengarahan kepada siswa agar lebih siap menghadapi tes, termasuk bagaimana guru memberikan materi terkait apa saja yang dipelajari.

Mapel Pilihan IPS dan Wajib Jadi Fokus Belajar

Dalam TKA, siswa mengerjakan tiga mata pelajaran wajib, yakni matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Selain itu, siswa dapat memilih mata pelajaran IPS seperti ekonomi, sejarah, geografi, dan sosiologi. Sejumlah soal menguji pemahaman konsep hingga kemampuan menganalisis peristiwa dan fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai gambaran, salah satu contoh soal ekonomi meminta siswa menentukan biaya peluang ketika seseorang memilih membeli buku pelajaran seharga Rp60.000 dan mengorbankan kesempatan menonton film seharga Rp50.000. Jawabannya adalah Rp50.000, yakni nilai alternatif terbaik yang dikorbankan. Contoh lain menguji pemahaman hukum permintaan dan penawaran ketika harga kopi naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 per kemasan.

Bagi siswa, kumpulan soal semacam ini bermanfaat untuk mengukur pemahaman materi sekaligus mengenali tipe pertanyaan yang mungkin muncul saat ujian. Dengan latihan yang rutin, kemampuan membaca, menghitung, dan menganalisis siswa diharapkan semakin terasah menjelang pelaksanaan TKA.

Harapan Besar pada Hasil TKA

Meski tidak menargetkan angka tertentu, pihak sekolah berharap siswa dapat melaksanakan tes dengan maksimal. Bakri berharap nilai anak-anak mencapai target yang mereka harapkan sehingga dapat membantu melanjutkan ke jenjang sekolah tinggi, tanpa kendala pada aplikasi TKA.

Dengan persiapan yang matang, pemahaman terhadap sistem penilaian baru, serta latihan soal yang konsisten, siswa diharapkan lebih percaya diri menghadapi TKA 2026. Skor tinggi bukan sekadar angka, melainkan cerminan kesiapan akademik yang akan menjadi bekal berharga menuju pendidikan tinggi.

Penulis: Syaifullah
Editor: Tri Widodo
Sumber Berita: detikEdu, Suara NTB, AKURAT.CO