Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Indeks KOSPI kembali menjadi sorotan pasar keuangan global setelah terpuruk ke level 5.400-an untuk pertama kalinya sejak Juli, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan investor domestik maupun asing. Tekanan jual yang datang bertubi-tubi dari investor asing tidak lagi menemukan penyerap yang memadai, sementara ‘tameng’ pembelian kembali saham (share buyback) dari raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix kini telah menghilang. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang tajam di bursa saham Korea Selatan, dengan indeks volatilitas KOSPI 200 (V-KOSPI) menembus ambang zona ketakutan di angka 50 pada 15 Oktober, level tertinggi sejak akhir Agustus.
Data dari Asosiasi Investasi Keuangan Korea menunjukkan bahwa deposito investor tercatat sebesar 96,91 triliun won pada 15 Oktober, turun di bawah 100 triliun won untuk pertama kalinya sejak 21 September. Angka ini mencerminkan berkurangnya ‘amunisi’ tunai yang tersisa di rekening sekuritas untuk berinvestasi saham. Sebaliknya, saldo pinjaman margin justru melonjak menjadi 32,74 triliun won, setelah sempat menyusut ke kisaran 27 triliun won pada 4 Agustus dan menembus 34 triliun won pada 13 Oktober. Fenomena ini menandakan bahwa dana cadangan di pasar saham kian menipis sementara beban investasi dengan leverage terus membengkak.
Ekspansi perdagangan margin ibarat ‘bom waktu’ yang dapat memicu likuidasi paksa ketika harga saham anjlok. Jika nilai agunan menurun, perusahaan sekuritas menuntut jaminan tambahan, dan kegagalan investor memenuhinya dalam tenggat waktu berujung pada penjualan paksa saham yang dimiliki. Proses ini berpotensi menciptakan lingkaran setan di mana banjir tekanan jual semakin menekan harga saham. Likuidasi paksa mencuat selama tiga hari perdagangan sejak 13 Oktober, saat sidecar jual pasar KOSPI (circuit breaker pasar berjangka) terpicu. Nilai likuidasi paksa tercatat 59,4 miliar won (5,6 persen) pada 13 Oktober, 89,3 miliar won (7,2 persen) pada 14 Oktober, dan 80,5 miliar won (5,9 persen) pada 15 Oktober, menandai pertama kalinya sejak akhir Juli nilai dan proporsinya melampaui 80 miliar won dan 7 persen.
Peneliti Eugene Investment & Securities, Lee Jun-young, mengungkapkan bahwa harga beli rata-rata investor ritel terbentuk pada kisaran indeks KOSPI 6.000-an tinggi hingga 7.000-an rendah. Dengan penurunan tajam yang membuat indeks KOSPI anjlok sekitar 15-20 persen, likuidasi mencapai skala terbesar sejak akhir Juli. Ia menambahkan bahwa investor margin berpotensi menghadapi tuntutan jaminan tambahan dan likuidasi paksa berkelanjutan bila rasio margin pemeliharaan mereka jatuh di bawah standar akibat penurunan harga saham.
Meski likuidasi paksa juga meningkat signifikan pada Mei dan Juni, situasi saat itu berbeda karena masih terdapat pembelian aktif dari investor ritel. Sejak awal Mei, ketika investor asing melakukan penjualan bersih selama 24 hari perdagangan berturut-turut dengan total 76 triliun won, investor ritel melakukan pembelian bersih 60 triliun won untuk mempertahankan indeks. Euforia investor sempat meningkat berkat ekspektasi tinggi terhadap kenaikan saham semikonduktor dan peluncuran ETF leverage saham tunggal. Namun kini, sentimen investor terhadap saham teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk semikonduktor, membeku cepat akibat peluncuran produk baru Changxin Memory dari China dan kekhawatiran atas kesehatan keuangan perusahaan cloud CoreWeave.
Dukungan pasokan dari buyback Samsung Electronics dan SK Hynix juga menyusut. Samsung Electronics menyelesaikan buyback pada 6 Oktober, sementara SK Hynix berada di tahap akhir. Dana pensiun yang biasanya berperan sebagai pembeli di pasar yang melemah pun sulit meningkatkan pembelian karena tertundanya rebalancing alokasi aset. Peneliti Yuanta Securities, Lee Jae-won, menganalisis bahwa 80-90 persen penjualan bersih kumulatif asing sejak awal tahun terkonsentrasi pada Samsung Electronics dan SK Hynix, sementara buyback yang menopang lantai indeks bulan lalu menurun tajam setelah Samsung mengakhiri pembeliannya. Investor ritel yang melakukan pembelian bersih lebih dari 100 triliun won sejak awal tahun kini mengalami stagnasi pertumbuhan deposito, dan kapasitas pertahanan pasokan dana pensiun terbatas.
Namun, pada 16 Oktober, KOSPI berhasil bangkit 2,05 persen ke level 5.668,05 setelah tujuh sesi penurunan berturut-turut, didorong aksi buru saham murah (bargain hunting) pasca anjlok lebih dari 7 persen sehari sebelumnya. Indeks KOSDAQ bahkan melonjak 4,46 persen ke 794,78 dan sempat memicu sidecar beli. Investor asing akhirnya berbalik menjadi pembeli bersih untuk pertama kalinya dalam delapan sesi dengan nilai 341-343 miliar won, sementara individu dan institusi mencatat penjualan bersih. Saham semikonduktor kapitalisasi besar ikut rebound, dengan Samsung Electronics naik 2,62 persen dan SK Hynix naik 0,79 persen. Peredaan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperbaiki sentimen investor.
Di tengah gejolak pasar, produsen material OLED, SFC, justru memperoleh persetujuan pra-peninjauan pencatatan dari Bursa Korea pada 15 Oktober dan menargetkan IPO di KOSPI pada akhir November. Perusahaan yang mengantongi pendapatan 160,8 miliar won dan laba operasi 21,7 miliar won tahun lalu ini akan memulai presentasi investor relations untuk investor institusi domestik dan asing, dengan Mirae Asset Securities sebagai penjamin utama dan Korea Investment & Securities sebagai penjamin bersama.
Secara keseluruhan, gejolak yang melanda KOSPI lebih banyak dipicu oleh absennya pembeli ketimbang kerusakan fundamental ekonomi. Pemulihan indeks pada 16 Oktober memberikan secercah harapan bahwa aksi buru saham murah dan kembalinya minat asing dapat meredakan kepanikan jangka pendek. Namun, untuk rebound yang berkelanjutan, pasar membutuhkan keseimbangan pasokan-permintaan yang lebih sehat, penurunan beban perdagangan margin, serta kejelasan sentimen terhadap sektor semikonduktor dan AI. Tanpa itu, volatilitas KOSPI diperkirakan masih akan menjadi tantangan utama bagi investor di masa mendatang.

