BMRI Melonjak 8%! Saham Bank Jumbo Bangkit Berjemaah, IHSG Terbang ke 5.204
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Kabar gembira datang dari lantai bursa. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (bmri) memimpin kebangkitan saham bank jumbo dengan lonjakan mencapai 8,63 persen ke level 3.660 pada perdagangan sesi pertama Selasa, 20 Oktober 2026. Penguatan bmri ini menjadi salah satu pemicu utama melesatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 5.204, naik tajam 208,01 poin atau 4,16 persen.
Berdasarkan data Market Update Phintraco Sekuritas, IHSG dibuka pada level 4.980 dan bergerak dalam rentang 4.982 hingga 5.211 sepanjang sesi pertama. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp16,92 triliun dengan volume perdagangan 38,27 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1.598.028 kali. Sementara itu, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah tercatat melemah 23 poin atau 0,13 persen menjadi Rp18.007.
Kebangkitan saham perbankan berkapitalisasi besar terjadi secara berjemaah. Selain bmri, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 8,27 persen ke level 2.750, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 4,25 persen ke level 5.025. Pada data intraday pukul 11.05 WIB, saham bmri bahkan sempat melonjak 8,33 persen ke level Rp3.640, disusul BBRI yang naik 6,69 persen ke Rp2.710 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menguat 7,09 persen ke Rp3.170.
Penguatan ini menjadi titik balik setelah saham-saham bank jumbo tertekan selama dua hari perdagangan berturut-turut. Tekanan tersebut menyusul pengumuman penyedia indeks global MSCI pada Jumat, 16 Oktober 2026 pekan lalu. Hingga pukul 11.16 WIB, IHSG melonjak 3,62 persen ke level 5.166,47 dengan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat menjadi Rp9.025 triliun dan nilai transaksi Rp8,62 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai saham BBNI mengalami technical rebound setelah memantul dari area major support Rp2.865 hingga Rp3.000. Pergerakan tersebut disertai lonjakan volume transaksi yang mengindikasikan respons beli di area tersebut. Meski demikian, harga BBNI masih berada di bawah moving average 20 hari (MA20) pada level Rp3.380, dan indikator MACD masih negatif sehingga tren jangka pendek masih bearish. Rebound berpotensi berlanjut menuju area resisten Rp3.128 hingga Rp3.310.
Di jajaran saham dengan kenaikan tertinggi dalam indeks LQ45, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memimpin dengan kenaikan 13,56 persen ke level 2.010. Berikutnya, saham PT PGE Tbk (PGEO) naik 12,65 persen ke level 935 dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat 11,52 persen ke level 1.210. Di sisi lain, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi saham dengan penurunan terdalam dalam daftar top losers LQ45, turun 2,98 persen ke level 5.700, disusul PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melemah 2,57 persen ke level 492 dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 1,33 persen ke level 2.230.
Di tengah euforia pasar, bmri juga tengah menjadi sorotan publik terkait penyaluran kredit kepada bos Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Transaksi itu dilakukan melalui mekanisme gadai saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dua emiten milik Isam. Dikatakan bahwa pembiayaan tersebut akan digunakan untuk menebus biaya akuisisi 30,25 persen saham milik Low Tuck Kwong di PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bursa tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan transaksi yang telah disepakati antara Jhonlin Group dan bmri. Menurutnya, boleh atau tidaknya penyaluran kredit dengan jaminan saham merupakan ranah pengaturan sektor perbankan, bukan pasar modal. BEI berfokus pada pemenuhan ketentuan keterbukaan informasi oleh perusahaan tercatat, termasuk apakah nilai transaksi tersebut memenuhi kriteria material bagi perseroan.
Sebelumnya, Senior Vice President Bank Mandiri, Adhika Vista, menjelaskan bahwa fasilitas kredit kepada PT Jhonlin Baratama tidak ditujukan untuk aktivitas perdagangan saham. Kredit tersebut digunakan untuk mendukung belanja modal dan kebutuhan pembiayaan perusahaan serta grup usaha di industri batu bara dan bisnis penunjangnya.
Dengan lonjakan bmri dan saham bank jumbo lainnya, pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah berbagai dinamika. Meski momentum penguatan masih perlu dikonfirmasi karena tekanan bearish belum sepenuhnya mereda, kembalinya minat beli investor terhadap saham perbankan menjadi sinyal positif bagi pergerakan IHSG ke depan. Investor tetap disarankan mencermati perkembangan sentimen global dan kebijakan sektor keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.
