Kalimantan Update – 04 Oktober 2026 | Lamine Yamal terus menjadi sorotan dunia sepak bola. Penyerang muda Barcelona itu baru saja mencetak gol dalam kemenangan 3-1 Spanyol atas Republik Ceko di UEFA Nations League, memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain paling bersinar di generasinya. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, bahkan menyebut Lamine Yamal sedang dalam perjalanan menuju status legenda.
Gol pembuka Yamal pada menit keenam ke gawang Ceko menjadi gol ketiga secara beruntun di tiga pertandingan internasional. Sebelumnya, ia mencetak gol saat Spanyol mengalahkan Inggris 3-2 di Wembley dan dua gol plus satu assist ketika Spanyol menghancurkan Kroasia 4-1. Total, pemain berusia 19 tahun itu telah mengoleksi 11 gol untuk timnas senior Spanyol.
De la Fuente mengungkapkan kekagumannya atas perkembangan pesat Yamal. Menurutnya, pemain muda itu mewujudkan identitas taktik Spanyol yang agresif dan berenergi tinggi. “Lamine tidak pernah berhenti membuat kami terkejut. Dia punya begitu banyak talenta, begitu banyak kemungkinan, dia terus berkembang dengan lompatan besar,” kata De la Fuente. “Lamine sedang menuju status ‘Legenda’. Dia mencetak gol lebih awal dalam tiga pertandingan terakhir kami, dan gol-gol cepatnya menunjukkan sikap seluruh tim.”
Pujian juga datang dari legenda sepak bola Swedia, Zlatan Ibrahimovic. Dalam acara peluncuran FC27 di New York, Ibrahimovic secara terbuka menjagokan Lamine Yamal untuk meraih Ballon d’Or 2026. “Dia adalah pemain terbaik di dunia. Dia pemain yang spesial. Setiap kali mendapatkan bola, dia akan menciptakan sesuatu, tidak peduli apakah ada dua atau tiga pemain bertahan di depannya,” ujar Ibrahimovic. Penghargaan bergengsi itu akan diumumkan di London pada 26 Oktober 2026, bersaing dengan nama-nama besar seperti Harry Kane, Ousmane Dembele, dan Kylian Mbappe.
Namun, di balik gemerlap prestasi, ada sisi gelap yang mengintai. Psikolog Lara Ferreiro memperingatkan tentang dampak psikologis dari ketenaran dini yang dialami Lamine Yamal. Menurut Ferreiro, sekitar 60% atlet elit mengalami perfeksionisme maladaptif, kondisi yang membuat setiap kesalahan kecil terasa seperti ancaman eksistensial terhadap karier. “Banyak anak muda seperti Lamine Yamal merasa tidak punya izin untuk gagal dan bahwa nilai mereka bergantung pada terus bersinar,” jelasnya.
Ferreiro menjelaskan bahwa fenomena yang disebut adultisasi dini terjadi ketika remaja mengambil tanggung jawab orang dewasa tanpa persiapan emosional yang memadai. Korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab atas kontrol impuls, baru matang sekitar usia 25 tahun. Sementara itu, atlet muda seperti Yamal harus menjalani latihan, perjalanan, dan komitmen profesional yang menghabiskan 10-15 jam yang seharusnya digunakan untuk aktivitas sosial normal. Hal ini menyebabkan isolasi emosional yang mendalam.
Tekanan untuk tampil sempurna juga memunculkan gejala fisik dan emosional seperti kecemasan umum, gangguan tidur, serangan panik, dan kelelahan ekstrem. Selain itu, sindrom kekayaan mendadak menambah kompleksitas. Uang memberikan kebahagiaan sementara yang hanya bertahan sekitar tiga bulan, setelah itu muncul keraguan tentang ketulusan hubungan interpersonal. Atlet pun bertanya-tanya apakah orang-orang di sekitarnya peduli pada dirinya atau hanya pada statusnya sebagai bintang.
Meski demikian, De la Fuente tetap optimistis. Ia yakin perjalanan Lamine Yamal masih panjang dan potensinya belum tergali sepenuhnya. “Dia masih memiliki banyak hal untuk diberikan kepada kami. Perjalanan untuk melihat Lamine dalam performa terbaiknya masih panjang, meskipun dia terus mencetak gol-gol luar biasa seperti ini,” tuturnya. Spanyol sendiri saat ini memuncaki Grup 3 dengan sembilan poin dan memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 41 pertandingan.
Kombinasi antara bakat luar biasa, pujian dari legenda, dan dukungan untuk meraih Ballon d’Or menunjukkan bahwa Lamine Yamal memang sedang menuju puncak. Namun, penting untuk tidak mengabaikan kesehatan mentalnya. Dukungan psikologis yang tepat sangat diperlukan agar ia dapat terus bersinar tanpa mengorbankan kesejahteraan pribadinya. Dengan bimbingan yang tepat, Lamine Yamal tidak hanya akan menjadi legenda di lapangan, tetapi juga contoh bagi atlet muda lainnya tentang bagaimana mengelola tekanan dan ekspektasi.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber: Goal Indonesia, RRI, detikSport, Bola.com, Itatiaia

