Kalimantan Update – 04 Oktober 2026 | Insiden mengejutkan terjadi di dunia penerbangan internasional ketika seorang kopilot Flydubai yang merupakan warga negara Oman, Hamam al-Hammami, menyerang kapten pesawat dalam penerbangan dari Dubai, Uni Emirat Arab, menuju Tel Aviv, Israel. Peristiwa ini menyita perhatian dunia dan menyoroti ketegangan yang melibatkan uni emirat arab vs oman dalam konteks keamanan penerbangan dan radikalisasi. Serangan yang terjadi pada Rabu (30/9/2026) tersebut menggunakan kapak darurat di kokpit, memicu kepanikan di antara 174 penumpang yang mayoritas warga Israel.
Menurut otoritas Uni Emirat Arab, al-Hammami berusaha membajak pesawat dan menabrakkannya di Israel. Aksi tersebut digagalkan setelah kapten, Smit Machchhar, melawan balik dan mendapat bantuan dari penumpang. Pesawat kemudian dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi, untuk pendaratan darurat. Dalam penyelidikan yang melibatkan berbagai badan keamanan, terungkap bahwa al-Hammami sebelumnya telah dilarang menerbangkan pesawat oleh Oman karena kekhawatiran pandangan ekstremis. Ia kemudian dipindahkan ke posisi administratif di Oman Air sebelum akhirnya direkrut oleh Flydubai. Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius tentang proses pemeriksaan latar belakang yang dilakukan maskapai asal Uni Emirat Arab tersebut.
Kasus ini juga menyoroti dinamika uni emirat arab vs oman dalam hal kerja sama keamanan. Pemerintah UEA yang memimpin penyelidikan menyebut insiden sebagai tindakan terorisme. Sementara itu, sumber dari Oman mengonfirmasi bahwa al-Hammami pernah dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena indikasi radikalisasi. Hubungan bilateral antara kedua negara Teluk ini pun menjadi sorotan, terutama terkait pertukaran informasi intelijen dan pengawasan terhadap individu yang berpotensi ekstremis. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh al-Hammami telah menjalani indoktrinasi radikal Islamis, menambah lapisan kompleksitas pada hubungan regional.
Profil al-Hammami mengungkap bahwa ia lahir di UEA dari ayah berkebangsaan Oman dan ibu berkebangsaan Suriah. Ia menghabiskan sebagian hidupnya di UEA dan sempat bekerja selama tujuh tahun di Oman Air hingga Februari 2025. Setelah itu, ia bergabung dengan Royal Air Maroc pada Juni 2025 dan keluar pada Januari 2026, sebelum akhirnya bekerja di Flydubai selama delapan bulan. Jejak karier ini menunjukkan pola perpindahan yang mencurigakan dan mempertanyakan efektivitas vetting maskapai. Penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan apakah al-Hammami bertindak sendiri atau memiliki kaitan dengan kelompok ekstremis.
Dalam konteks uni emirat arab vs oman, insiden ini dapat memengaruhi kerja sama keamanan dan penerbangan di kawasan Teluk. Oman, yang dikenal sebagai negara netral dan sering menjadi mediator, kini menghadapi tekanan untuk memperketat pengawasan terhadap warganya yang bekerja di luar negeri. Di sisi lain, UEA sebagai pusat penerbangan internasional dituntut meningkatkan standar pemeriksaan latar belakang awak pesawat. Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat turut membantu penyelidikan, menandakan betapa seriusnya ancaman terorisme di sektor penerbangan.
Kesimpulannya, serangan kopilot Flydubai asal Oman ini tidak hanya mengguncang industri penerbangan tetapi juga membuka tabir kerentanan sistem keamanan di maskapai dan lemahnya koordinasi antarnegara. Kasus ini menjadi pengingat bahwa radikalisasi dapat menyusup ke lingkungan profesional, dan diperlukan langkah pencegahan yang lebih ketat. Dengan penyelidikan yang masih berjalan, dunia menantikan kejelasan motif dan kemungkinan jaringan yang lebih luas. Uni emirat arab vs oman dalam konteks ini bukan sekadar rivalitas, melainkan cerminan tantangan bersama dalam menghadapi ekstremisme.

