Skandal Logistik Jelang Argentina vs Burkina Faso: Kemenangan 7-0 yang Ternoda dan Bayang-Bayang Perpisahan Messi

Foto: Istimewa

Skandal Logistik Jelang Argentina vs Burkina Faso: Kemenangan 7-0 yang Ternoda dan Bayang-Bayang Perpisahan Messi

Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Pertandingan Argentina vs Burkina Faso di Estadio Monumental, Buenos Aires, Minggu (4/10/2026), berakhir dengan skor telak 7-0 untuk tuan rumah. Namun, kemenangan besar tersebut justru tercoreng oleh skandal logistik yang menimpa tim tamu. Burkina Faso tiba di Argentina hanya beberapa jam sebelum kick-off setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Casablanca, Maroko. Akibatnya, mereka terpaksa menurunkan skuad U-23 dan langsung dibantai oleh pasukan Lionel Scaloni. Insiden ini menjadi sorotan dunia dan mencoreng reputasi Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) menjelang laga perpisahan Lionel Messi.

Kekacauan yang menimpa Burkina Faso bukanlah kasus tunggal. Beberapa hari kemudian, giliran tim nasional Benin yang mengalami nasib serupa. Benin, yang dijadwalkan menghadapi Argentina dalam laga perpisahan Messi pada Selasa (6/10/2026), harus menempuh penerbangan komersial selama sekitar 25 jam untuk sampai ke Buenos Aires. Perjalanan panjang itu membuat anggota staf analis video mereka, Jonas Bidé, pingsan akibat kelelahan. Setibanya di hotel, delegasi Benin mendapati satu lantai tanpa air panas, sauna rusak, dan gym hanya memiliki dua treadmill serta dua sepeda statis. Sebagian perlengkapan tim bahkan belum tiba, dan tiga pemain sempat tidak mendarat di Buenos Aires.

Jurnalis investigasi asal Prancis, Romain Molina, kembali menyoroti buruknya manajemen AFA. Dalam laporannya, ia mempertanyakan aspek ekonomi dari laga persahabatan ini. Menurut Molina, Federasi Argentina akan mengantongi seluruh pendapatan dari pertandingan, sementara Benin tidak menerima bayaran sepeser pun. Isu ini memunculkan pertanyaan etis: siapa yang bertanggung jawab atas kesejahteraan tim tamu dalam sebuah laga yang sarat kepentingan komersial?

Di sisi lain, kemenangan Argentina vs Burkina Faso tetap meninggalkan jejak positif di atas lapangan. Lautaro Martínez membuka skor pada menit ke-4 melalui rebound penalti yang ditepis. Empat menit berselang, gol bunuh diri Moumouni Diallo menambah keunggulan. Gianluca Prestianni mencetak gol pertamanya untuk tim senior pada menit ke-12, disusul Nico Paz (35′), dan Julián Álvarez (36′). Di babak kedua, Franco Mastantuono (57′) dan Giuliano Simeone (93′) melengkapi pesta gol. Pertandingan ini disiarkan Telefe dan mencapai puncak rating 17,1 poin, membuktikan tingginya antusiasme publik Argentina.

Enzo Fernández, gelandang Manchester City yang kembali memperkuat Argentina setelah absen melawan Bolivia, menyita perhatian lewat unggahan di media sosial. Ia mengunggah foto dirinya saat pertandingan dengan latar bendera bertuliskan “Todo River”, memberi kode keras kepada klub masa kecilnya. Sebelum laga, Enzo juga menyempatkan diri mengunjungi Rumah Sakit Garrahan dan membagikan hadiah kepada anak-anak yang dirawat. Aksi sosial ini menambah dimensi humanis di tengah sorotan negatif terhadap penyelenggaraan turnamen.

Kritik terhadap AFA semakin keras. Media internasional menyebut peristiwa ini sebagai skandal kemanusiaan dalam sepak bola. Tim Burkina Faso yang tampil dengan pemain muda sebenarnya layak mendapat apresiasi. Pelatih Lionel Scaloni bahkan angkat topi untuk perjuangan mereka. Namun, di balik itu, ada pertanyaan besar tentang standar profesionalisme federasi tuan rumah. Jika tim-tim Afrika terus diperlakukan secara tidak adil, bukan tidak mungkin hubungan diplomatik olahraga akan terganggu.

Menjelang laga melawan Benin, kondisi mulai berangsur membaik setelah adanya protes keras dari berbagai pihak. Beberapa pemain kunci Benin seperti Junior Olaitan (Besiktas), Charlemagne Azongnitode, dan Sahid Ngobi sempat absen, tetapi situasi perlahan normal. Meski demikian, bekas luka dari insiden Argentina vs Burkina Faso dan kasus Benin akan sulit dihapus. PSSI dan federasi lain di dunia tentu mencatat bagaimana AFA mengelola logistik tim tamu.

Perpisahan Lionel Messi dengan tim nasional Argentina pada 6 Oktober 2026 seharusnya menjadi momen bersejarah yang bersih dari kontroversi. Namun, skandal logistik ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap sepak bola modern, masih ada celah besar dalam hal tata kelola dan penghormatan terhadap lawan. Kemenangan 7-0 atas Burkina Faso boleh saja tercatat di buku sejarah, tetapi cara kemenangan itu diraih akan selalu dikenang dengan nada getir. Sepak bola sejatinya bukan hanya soal gol, melainkan juga soal integritas dan kemanusiaan.

Penulis: Syaifullah, Oktavianus A, Rudi Hamdani
Editor: Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Fútbol Fórmula 1 Básquet Tenis E-Sports, LPM, detikSport, LA 100, dan media internasional.