Kopilot Flydubai Penyerang Pilot Pernah Dipecat karena Radikalisme, Investigasi Terorisme Dimulai

Foto: Istimewa

Kopilot Flydubai Penyerang Pilot Pernah Dipecat karena Radikalisme, Investigasi Terorisme Dimulai

Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Insiden mengerikan di dalam kokpit pesawat Flydubai FZ1073 rute Dubai menuju Tel Aviv mengungkap fakta mengejutkan mengenai rekam jejak pelaku. Kopilot Flydubai penyerang pilot pernah dipecat karena radikalisme dari maskapai Oman Air, jauh sebelum tragedi berdarah yang mengguncang dunia penerbangan internasional tersebut terjadi. Fakta ini menambah dimensi baru dalam penyelidikan yang kini mengarah pada dugaan tindakan terorisme.

Pelaku yang diidentifikasi bernama Hamam al-Hammami tersebut menyerang Kapten Smit Machchhar menggunakan kapak darurat di dalam kokpit. Serangan brutal itu menyebabkan kapten menderita luka-luka serius dan memicu pergulatan berdarah yang berlangsung menegangkan di ruang sempit kokpit pesawat. Situasi semakin kritis ketika pesawat sempat anjlok lebih dari 17.000 kaki sebelum akhirnya berhasil mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.

Rekam Jejak Kelam Pelaku

Penelusuran otoritas penerbangan mengungkap bahwa Hamam al-Hammami sebelumnya bekerja sebagai kopilot di Oman Air. Namun, ia diberhentikan dari maskapai tersebut karena kekhawatiran mendalam terkait pandangan radikal yang dimilikinya. Fakta bahwa kopilot Flydubai penyerang pilot pernah dipecat karena radikalisme ini menimbulkan pertanyaan serius tentang proses seleksi dan pemantauan latar belakang awak pesawat di industri penerbangan Timur Tengah.

Bagaimana seseorang dengan rekam jejak radikalisme yang terdokumentasi bisa kembali bekerja sebagai kopilot di maskapai internasional menjadi fokus utama yang harus dijawab oleh regulator penerbangan. Kasus kopilot Flydubai penyerang pilot pernah dipecat karena radikalisme ini menunjukkan adanya celah berbahaya dalam sistem verifikasi latar belakang personel penerbangan lintas negara.

Kronologi Serangan di Kokpit

Insiden bermula ketika pesawat berada di ketinggian jelajah dalam perjalanan menuju Tel Aviv. Tanpa peringatan, al-Hammami tiba-tiba menyerang Kapten Smit Machchhar dengan kapak darurat yang seharusnya digunakan hanya dalam situasi darurat evakuasi. Serangan mendadak tersebut mengakibatkan kapten mengalami luka-luka dan memicu pertarungan sengit di dalam kokpit yang sempit.

Dalam kekacauan tersebut, pesawat kehilangan kendali dan anjlok lebih dari 17.000 kaki dari ketinggian jelajahnya. Situasi berpotensi menjadi bencana besar jika tidak segera ditangani. Beruntung, penumpang dan kru tambahan berhasil melumpuhkan pelaku sebelum ia mengambil alih kendali penuh atas pesawat. Aksi heroik mereka mencegah tragedi yang lebih besar.

Pesawat akhirnya berhasil mendarat darurat di Bandara Tabuk, Arab Saudi. Proses evakuasi berjalan dengan pengamanan ketat mengingat sifat insiden yang diduga kuat sebagai aksi terorisme.

Investigasi Resmi dan Kerja Sama Internasional

Penyelidikan resmi kini dipimpin oleh otoritas Uni Emirat Arab dengan keterlibatan tim penyidik dari Israel. Jaksa Agung UEA secara tegas menyatakan bahwa aksi penyerangan dan upaya mengambil alih kendali pesawat tersebut diselidiki sebagai dugaan tindakan terorisme. Keterlibatan penyidik Israel menunjukkan tingkat kerja sama internasional yang serius dalam menangani kasus ini.

Fakta bahwa kopilot Flydubai penyerang pilot pernah dipecat karena radikalisme menjadi salah satu fokus utama penyidikan. Penyidik berupaya mengungkap apakah ada jaringan yang lebih luas di balik aksi tunggal ini atau apakah pelaku bertindak atas motivasi ideologis tertentu. Rekam jejak al-Hammami di Oman Air akan ditelusuri secara menyeluruh untuk memahami pola radikalisasi yang dialaminya.

Otoritas penerbangan Uni Emirat Arab juga diminta untuk mengevaluasi ulang prosedur pemeriksaan latar belakang awak pesawat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat bekerja di beberapa maskapai berbeda. Kasus ini menjadi pukulan telak bagi industri penerbangan yang selama ini mengandalkan sistem verifikasi lintas negara.

Implikasi bagi Keamanan Penerbangan Global

Insiden ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang efektivitas sistem pemantauan awak pesawat di seluruh dunia. Bagaimana mungkin seseorang dengan riwayat pemecatan karena radikalisme bisa lolos seleksi dan kembali bertugas di kokpit pesawat komersial internasional? Celah inilah yang harus segera ditutup oleh regulator penerbangan global.

Para ahli keamanan penerbangan menyerukan adanya database terpusat yang dapat diakses lintas negara untuk melacak riwayat personel penerbangan. Dengan begitu, maskapai dapat melakukan verifikasi menyeluruh sebelum mempekerjakan awak baru. Kasus kopilot Flydubai penyerang pilot pernah dipecat karena radikalisme ini menjadi alarm bagi seluruh industri.

Selain itu, prosedur keamanan di dalam kokpit juga perlu dievaluasi. Keberadaan kapak darurat yang seharusnya hanya dapat diakses dalam kondisi tertentu ternyata bisa disalahgunakan oleh awak pesawat sendiri. Pembatasan akses dan pengawasan tambahan mungkin diperlukan untuk mencegah insiden serupa terulang.

Respons Maskapai dan Otoritas Terkait

Flydubai belum memberikan pernyataan resmi yang rinci mengenai rekam jejak al-Hammami. Namun, pihak maskapai menyatakan akan bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas penyidik. Oman Air juga diharapkan memberikan keterangan mengenai alasan pemecatan pelaku dan apakah ada laporan yang pernah diajukan kepada otoritas terkait.

Kementerian Luar Negeri Israel dan Uni Emirat Arab terus berkoordinasi dalam penyelidikan ini. Kedua negara memiliki kepentingan besar untuk mengungkap motif di balik serangan yang hampir menimbulkan bencana penerbangan ini. Kerja sama bilateral di bidang keamanan penerbangan diperkirakan akan semakin diperketat pasca insiden.

Para penumpang yang selamat dari insiden ini masih menjalani pemulihan dan pendampingan psikologis. Beberapa di antaranya menjadi saksi kunci yang memberikan kesaksian tentang detik-detik mencekam ketika pesawat nyaris kehilangan kendali.

Kesimpulan

Insiden penyerangan di kokpit Flydubai FZ1073 mengungkap fakta bahwa kopilot Flydubai penyerang pilot pernah dipecat karena radikalisme dari Oman Air. Fakta ini menegaskan perlunya reformasi menyeluruh dalam sistem verifikasi latar belakang awak pesawat di industri penerbangan internasional. Investigasi yang melibatkan otoritas Uni Emirat Arab dan Israel diharapkan dapat mengungkap motif dan jaringan di balik aksi terorisme ini. Kejadian ini menjadi peringatan serius bahwa radikalisme dapat menyusup ke sektor penerbangan jika tidak ada pengawasan yang ketat dan kerja sama lintas negara yang solid. Industri penerbangan global harus segera berbenah untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo

Sumber Berita: Suara Landak