FTSE 100 Merangkak Naik ke 10.701, Sinyal Pasar Global Mulai Mereda di Tengah Gejolak
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Indeks FTSE 100 mencatat kenaikan tipis 10,68 poin ke level 10.701,5 pada perdagangan awal pekan ini, sebuah pergerakan yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal awal meredanya tekanan global. Kenaikan indeks acuan saham utama Inggris tersebut terjadi ketika para investor menyambut positif penyempitan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat, sekaligus mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah yang masih bergejolak. Pergerakan FTSE 100 ini menjadi cermin bagaimana sentimen pasar global bergerak saling silang antara optimisme data ekonomi dan kekhawatiran geopolitik.
Dari sisi komoditas, harga minyak mentah Brent berjangka turun 1,26 persen menjadi 115,3 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,72 persen ke 101,5 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak ini turut memberi ruang bagi pasar saham untuk bernapas, meski para pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi gejolak lanjutan di kawasan penghasil energi utama dunia.
Di pasar valuta, sterling diperdagangkan pada level 1,3375 dolar AS pada Senin pagi, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi 1,3376 dolar AS saat penutupan bursa London pada Jumat. Terhadap euro, poundsterling juga melemah ke 1,1916 euro dari sebelumnya 1,1946 euro. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,97 persen dari 5,02 persen seiring naiknya harga obligasi, dan yield tenor 30 tahun melemah ke 5,30 persen dari 5,33 persen.
Saham Pemenang dan Pecundang di Bursa London
Pada jajaran saham yang menguat, Computacenter melesat 6,32 persen ke 4.880,00 pence, disusul Fresnillo yang naik 2,73 persen ke 2.372,00 pence. IG Group Holdings menanjak 2,46 persen ke 959,50 pence, 3i Group menguat 1,99 persen ke 2.357,00 pence, Antofagasta bertambah 1,64 persen ke 3.098,00 pence, dan Barclays mencatat kenaikan 1,51 persen ke 413,15 pence.
Sebaliknya, sejumlah saham tertekan. Experian turun 1,74 persen ke 3.054,00 pence, Smith & Nephew melemah 1,60 persen ke 1.134,50 pence, Ithaca Energy terkoreksi 1,40 persen ke 296,60 pence, dan Diageo turun 1,12 persen ke 1.770,50 pence. SSE melemah 1,11 persen ke 2.494,00 pence, sedangkan Sage Group kehilangan 1,05 persen ke 1.174,50 pence.
Dari dalam negeri Inggris, Menteri Keuangan John Healey tengah bersiap mengumumkan tambahan dana sebesar 20,4 miliar poundsterling untuk National Wealth Fund dan British Business Bank dalam anggaran pemerintah pada Rabu mendatang. Dana yang tersebar selama sekitar lima tahun itu diperkirakan akan menciptakan dan menopang 100.000 lapangan kerja di sektor-sektor seperti kecerdasan buatan, pertahanan, dan energi hijau hingga 2035.
FTSE Russell dan Sorotan terhadap Pasar Modal Indonesia
Di sisi lain, nama FTSE kembali mencuat dalam konteks pasar modal Tanah Air. Penyedia indeks global FTSE Russell menegaskan bahwa Indonesia tetap berada dalam kategori secondary emerging market dan tidak dimasukkan ke dalam daftar pantauan (watchlist). Kepastian ini disampaikan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik usai pertemuan daring dengan FTSE Russell pada Jumat, 23 Oktober 2026.
“FTSE tetap menetapkan Indonesia berada di kategori secondary emerging market, bahkan Indonesia tidak dimasukkan ke dalam daftar pantau,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026. Menurutnya, FTSE Russell mengapresiasi langkah reformasi pasar modal Indonesia, khususnya dalam aspek transparansi, likuiditas, dan pengawasan pasar.
Keputusan FTSE Russell ini kontras dengan sikap MSCI yang pada 15 Oktober lalu mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi indeks Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Perbedaan pendekatan kedua lembaga pun menjadi sorotan, mengingat FTSE Russell menggunakan kerangka Quality of Markets Assessment Matrix yang menilai lingkungan regulasi, pembatasan kepemilikan asing, transaksi valuta asing, sistem perdagangan, kustodian, dan penyelesaian transaksi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menegaskan bahwa reformasi yang dijalankan bukan respons jangka pendek terhadap penilaian lembaga indeks global, melainkan bagian dari agenda struktural yang konsisten sejak awal 2026. FTSE Russell sendiri menyatakan akan terus memantau implementasi reformasi integritas pasar modal Indonesia, termasuk keterbukaan kepemilikan saham, klasifikasi investor yang lebih rinci, persyaratan free float minimum, dan pengawasan pasar yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, pergerakan FTSE 100 yang menguat tipis mencerminkan keseimbangan rapuh antara harapan akan meredanya tekanan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran geopolitik yang belum sepenuhnya sirna. Bagi pasar Indonesia, konfirmasi FTSE Russell menjadi sinyal positif di tengah upaya memperkuat kredibilitas pasar modal, meski tantangan untuk menerjemahkan reformasi menjadi praktik perdagangan yang lebih andal masih membentang. Pasar kini menanti bagaimana langkah lanjutan dari regulator dan respons investor global terhadap dinamika yang terus berkembang.
