Gempa Beruntun Guncang Tanggamus, Warga Berhamburan Keluar Gedung
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Gempa bumi beruntun mengguncang Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Rabu sore (28/10/2026), memicu kepanikan warga dan pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus. Dua guncangan yang terjadi dalam waktu berdekatan membuat banyak orang berhamburan keluar gedung untuk menyelamatkan diri. Hingga pukul 16.14 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 20 gempa susulan, namun tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa.
Menurut data BMKG, gempa pertama terjadi pukul 15.22.47 WIB dengan magnitudo 3,9. Episenter berada pada koordinat 5,40 Lintang Selatan dan 104,67 Bujur Timur, tepatnya di darat sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus, dengan kedalaman 4 kilometer. Satu menit kemudian, gempa kedua berkekuatan magnitudo 4,1 mengguncang wilayah yang sama. Kedua gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif dangkal.
Gandanu, warga Pugung, Tanggamus, yang juga pegawai magang di Pemkab Tanggamus, menuturkan bahwa guncangan terasa cukup kuat. “Iya, tadi kerasa gempanya, jadi pada keluar semua,” ujarnya. Ia juga merasakan plafon kantor ikut bergetar. Meski sempat panik, kondisi berangsur normal setelah guncangan berhenti. “Kalau sekarang sudah nggak, dah gak lagi guncangannya,” tambahnya. Situasi di lingkungan perkantoran pun kembali kondusif, dan tidak ditemukan kerusakan bangunan.
Di tempat terpisah, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan peningkatan. Pada Kamis (29/10/2026) dini hari hingga pukul 06.00 WIB, tercatat empat kali gempa dengan durasi bervariasi, salah satunya gempa hembusan dengan amplitudo 44 mm dan lama gempa 38 detik. Meski demikian, status gunung belum berubah. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mendekati kawasan rawan.
Sementara itu, gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang Tanimbar, Maluku, pada Kamis (29/10/2026) pukul 05.06 WIB. Pusat gempa berada di koordinat 6,34 Lintang Selatan dan 130,52 Bujur Timur, dengan kedalaman 160 kilometer. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat gempa di Maluku tersebut. Masyarakat diminta tetap waspada dan memantau informasi resmi dari BMKG.
Di sisi lain, upaya pemulihan pascagempa di Flores, Nusa Tenggara Timur, terus berjalan. Tahir Foundation menyiapkan dana sekitar Rp30 miliar untuk membangun 200 unit rumah bagi warga terdampak gempa. Bantuan tunai senilai Rp1 miliar juga disalurkan kepada 1.000 warga, masing-masing Rp1 juta. Penyerahan bantuan dilakukan di Kantor Bupati Manggarai Barat, Labuan Bajo, Selasa (27/10/2026), dihadiri Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi. Pendiri Tahir Foundation, Dato Sri Tahir, menyatakan pembangunan rumah akan segera dimulai dengan target selesai dalam enam bulan.
Rangkaian peristiwa gempa ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di zona rawan seismik. Masyarakat diimbau selalu meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan BMKG, dan memastikan bangunan tempat tinggal memenuhi standar aman gempa. Meskipun gempa di Tanggamus dan Maluku tidak menimbulkan kerusakan berarti, kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.
