Carlos Alcaraz di Antara Kemenangan, Duka Toledo, dan Bayang-Bayang Perpecahan dengan Ferrero
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Carlos Alcaraz kembali menjadi sorotan dunia tenis dalam sepekan yang penuh warna. Petenis muda asal Murcia, Spanyol, itu membuka perjalanannya di ATP 500 Wina dengan kemenangan dramatis, menyampaikan pesan duka atas tragedi kereta api di Toledo, sekaligus terus dihantui kisah perpecahan dengan mantan pelatihnya, Juan Carlos Ferrero. Dalam sebuah periode yang menegangkan, Carlos Alcaraz menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya seorang juara di lapangan, tetapi juga figur publik yang peka terhadap peristiwa di sekitarnya.
Kemenangan Dramatis atas Khachanov
Di lapangan, Carlos Alcaraz memulai kiprahnya di Vienna Open dengan kemenangan 6-4, 7-6(5) atas Karen Khachanov. Unggulan kedua itu sempat berada dalam tekanan serius ketika gagal mengonversi tiga match point saat memimpin 5-4 di set kedua. Khachanov memanfaatkan peluang tersebut untuk mematahkan servisnya dan memimpin 6-5, nyaris memaksa laga berlanjut ke set penentu. Namun, Alcaraz merespons dengan cepat, membalas break dan bangkit dari ketertinggalan 1-3 di tiebreak untuk mengunci kemenangan setelah dua jam empat menit.
Hasil ini memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya di turnamen ATP 500 menjadi 22 pertandingan, terhitung sejak kekalahan dari Holger Rune di final Barcelona pada April lalu. Kemenangan tersebut juga menandai kembalinya Alcaraz ke Wina untuk pertama kalinya sejak 2021, saat ia masih berusia 18 tahun dan mencapai semifinal. Kini, ia berupaya membangun momentum di lapangan indoor setelah tersingkir dini di Shanghai Masters.
Pesan Duka untuk Korban Tragedi Toledo
Di luar lapangan, Carlos Alcaraz menyampaikan keprihatinan mendalam atas kecelakaan kereta api fatal di Toledo, Spanyol, yang menewaskan puluhan orang dan melukai banyak lainnya. Melalui media sosial, petenis berusia 23 tahun itu mengungkapkan rasa duka cita dan solidaritasnya kepada para korban dan keluarga yang terdampak. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik ambisi sportifnya, ia tetap menyadari realitas di luar dunia tenis. Bagi publik Spanyol, momen ini memperlihatkan sisi humanis dari sosok yang biasanya tampil penuh energi di lapangan.
Tantangan Berikutnya: Basilashvili
Langkah Carlos Alcaraz di babak 16 besar Wina akan diuji oleh Nikoloz Basilashvili, petenis Georgia berusia 34 tahun yang kini menempati peringkat 95 dunia. Basilashvili melaju setelah mengalahkan tuan rumah Jurij Rodionov dalam dua set. Meski tengah meniti performa yang naik-turun, ia baru saja mencapai final di Almaty pekan lalu sebelum kalah dari Daniil Medvedev. Basilashvili dikenal sebagai pahlawan tenis di negaranya, dengan lima gelar ATP sepanjang karier, termasuk di Hamburg dan Beijing pada 2018, Hamburg lagi pada 2019, serta Doha dan Munich pada 2021. Peringkat terbaiknya, nomor 16 dunia, diraih pada pertengahan 2019.
Secara head-to-head, Carlos Alcaraz unggul dengan dua kemenangan atas Basilashvili, masing-masing di Roland Garros 2021 dan Madrid Masters 2022. Keduanya berakhir tanpa kehilangan set. Meski demikian, Alcaraz tetap harus waspada karena Basilashvili tengah dalam momentum positif dan berambisi mencatat kejutan di Wina.
Bayang-Bayang Perpecahan dengan Ferrero
Di tengah sorotan prestasi, kisah perpisahan Carlos Alcaraz dengan Juan Carlos Ferrero masih menjadi perbincangan. Ferrero, yang telah membimbing Alcaraz meraih enam gelar Grand Slam, baru-baru ini meluncurkan buku berjudul ‘Mentalidad Ganadora’. Dalam wawancaranya, ia mengaku tidak menonton final Australian Open dan menepis anggapan bahwa sikapnya yang terlalu keras menjadi penyebab perpecahan. “Hubungan saya dengannya bukan seperti ayah dan anak, sama sekali bukan,” ujarnya. Ferrero juga mengungkap sisi pribadinya, termasuk pengalaman depresi setelah ibunya meninggal, dan menyatakan sedang menyiapkan kembalinya ke dunia tenis pada 2027 dengan petenis baru.
Meski perpisahan itu menyisakan tanda tanya, Ferrero tetap menegaskan bahwa sikap disiplin bukanlah penyebab utama keretakan. Ia menyebut dirinya sebagai pribadi pemalu, kompetitif, dan metodis, yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak asuhnya.
Rivalitas dengan Sinner
Di sisi lain, Jannik Sinner memberikan pandangannya tentang rivalitasnya dengan Carlos Alcaraz. Petenis Italia itu menilai perbedaan karakter justru menjadi daya tarik utama pertemuan mereka. “Dia lebih ekstrovert dan ekspresif, sementara saya mungkin dilihat sebagai juara yang disiplin dan keras kepala,” kata Sinner. Menurutnya, kontras itulah yang membuat tenis begitu memikat, karena setiap orang dapat menemukan sosok yang ingin ditiru atau ditandingi. Sinner dijadwalkan kembali bertanding pada Desember di Six Kings Slam setelah lama absen akibat cedera.
Kesimpulan
Pekan ini menjadi cerminan kompleksitas perjalanan Carlos Alcaraz. Di satu sisi, ia masih menunjukkan kelasnya sebagai salah satu petenis terbaik dunia dengan kemenangan beruntun yang mengesankan. Di sisi lain, ia dihadapkan pada duka nasional, tantangan berat di lapangan, serta bayang-bayang perpecahan dengan sosok yang membesarkan namanya. Bagi penggemar tenis, dinamika ini justru menambah dimensi manusiawi dari seorang bintang muda yang terus belajar menghadapi tekanan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
