Hasil Pemilu Israel 2026: Netanyahu Unggul Tipis, Parlemen Tanpa Mayoritas
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Hasil pemilu Israel 2026 menunjukkan persaingan sengit antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot. Dengan hampir 90 persen suara telah dihitung, blok Netanyahu diperkirakan meraih 53 kursi di Knesset, sementara blok Eisenkot mengumpulkan 48 kursi. Hasil pemilu Israel ini menandai belum adanya pemenang mayoritas karena keduanya belum mencapai ambang 61 kursi dari total 120 kursi parlemen.
Komite Pemilihan Pusat Israel (CEC) melaporkan bahwa hingga Rabu malam, 89,8 persen suara telah dihitung, mencakup hampir seluruh kotak suara dari tempat pemungutan suara reguler. Data terbaru menunjukkan Partai Likud pimpinan Netanyahu sebagai partai tunggal terbesar dengan 26 kursi, disusul Partai Yashar pimpinan Eisenkot dengan 21 kursi. Partai B’Yachad pimpinan Naftali Bennett dan The Joint List pimpinan Yousef Jabareen masing-masing meraih 12 kursi, sedangkan Partai Demokrat berhaluan kiri memperoleh 8 kursi.
Menariknya, dua partai yang dipimpin kelompok Arab diproyeksikan meraih total 19 kursi, jumlah tertinggi sepanjang sejarah pemilu Israel. Perolehan ini menjadi faktor krusial dalam pembentukan koalisi, karena Eisenkot harus menggandeng partai-partai Arab untuk mencapai mayoritas. Sementara itu, blok Netanyahu yang berbasis sayap kanan dan partai religius diperkirakan akan kesulitan tanpa dukungan tambahan.
Perkembangan ini berbeda dari jajak pendapat yang dirilis sejumlah lembaga penyiaran Israel setelah pemungutan suara ditutup pada Selasa pukul 22.00 waktu setempat. Exit poll sebelumnya menunjukkan blok Eisenkot unggul dua hingga tiga kursi atas blok Netanyahu. Namun, hasil penghitungan suara riil justru membalikkan prediksi tersebut, dengan blok Netanyahu kini unggul tipis. Hal ini memicu spekulasi tentang efektivitas jajak pendapat dan potensi perubahan dinamika politik.
Di hadapan para pendukungnya di Tel Aviv, Eisenkot mengklaim bahwa hasil tersebut mencerminkan keinginan rakyat untuk menentang Netanyahu. Ia menegaskan akan berupaya membentuk pemerintahan yang mewakili perubahan. Sementara itu, Netanyahu dalam pidatonya menegaskan akan membentuk pemerintahan baru yang kuat dari kelompok sayap kanan dan menyerukan persatuan di antara kelompok mayoritas Yahudi. Keduanya masih memiliki peluang untuk membentuk koalisi, tergantung pada negosiasi dengan partai-partai kecil.
Pemilu Israel kali ini juga mendapat perhatian internasional, termasuk dari pemimpin Hizbullah Naim Qassem yang menegaskan perlawanan terhadap Israel akan terus berlanjut terlepas dari hasil pemilu. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengklaim bahwa dukungannya telah mendorong keunggulan Netanyahu. Situasi ini menunjukkan bahwa hasil pemilu Israel tidak hanya berdampak pada politik domestik, tetapi juga pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dengan belum adanya mayoritas, Israel menghadapi kemungkinan kebuntuan politik yang dapat berujung pada pemilu ulang, seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Namun, jika salah satu blok berhasil membentuk koalisi, arah kebijakan Israel dalam beberapa tahun ke depan akan ditentukan. Hasil pemilu Israel ini menjadi sorotan karena kompleksitas koalisi yang melibatkan partai Arab dan partai sayap kanan yang memiliki agenda berbeda.
Secara keseluruhan, hasil pemilu Israel 2026 menunjukkan fragmentasi politik yang semakin dalam. Meskipun Netanyahu unggul tipis, ia belum aman untuk membentuk pemerintahan. Eisenkot sebagai penantang utama juga masih memiliki peluang jika mampu merangkul partai-partai Arab dan tengah. Publik Israel kini menanti babak baru negosiasi koalisi yang akan menentukan arah negara selama beberapa tahun mendatang.
Penulis: Syaifullah
Editor: Rudi Hamdani
Sumber: Times of Israel, Kompas TV, detikcom, MINA
