Radja Nainggolan Terancam 2 Tahun Penjara: Eks Bintang AS Roma Dituntut Rp2 Miliar dalam Kasus Pencucian Uang
Kalimantan Update – 02 November 2026 | Kabar mengejutkan datang dari dunia sepak bola internasional. Radja Nainggolan, mantan gelandang Timnas Belgia yang memiliki darah Batak dari Indonesia, kini harus berhadapan dengan hukum di negaranya. Pemain berusia 38 tahun itu resmi dituntut oleh Kejaksaan Brussels dengan hukuman dua tahun penjara serta denda sebesar 105.000 euro atau setara kurang lebih Rp2 miliar dalam kasus dugaan pencucian uang. Tuntutan ini menjadi pukulan telak bagi karier Radja Nainggolan yang sebelumnya gemilang bersama sejumlah klub besar Eropa.
Perkara yang menjerat Radja Nainggolan bermula dari penyelidikan aparat penegak hukum Belgia pada Maret 2023. Saat itu, kepolisian berupaya membongkar jaringan perdagangan narkotika internasional jenis kokain yang diduga menyelundupkan barang haram dari Amerika Selatan ke Eropa. Pelabuhan Antwerpen disebut menjadi salah satu jalur penting dalam aktivitas ilegal tersebut. Puncaknya terjadi pada Januari 2025, ketika Kepolisian Yudisial Federal Brussels menggelar operasi besar-besaran dengan sekitar 30 penggeledahan di wilayah Antwerpen dan Brussels.
Operasi tersebut berhasil meringkus 18 orang tersangka, termasuk Radja Nainggolan yang sempat mendekam di tahanan selama satu malam. Polisi bahkan sempat menderek mobil pribadinya dalam rangkaian penggerebekan itu. Namun, dalam perkembangan terbaru, pihak kejaksaan menegaskan bahwa Radja Nainggolan tidak didakwa terlibat langsung dalam jaringan narkotika maupun organisasi kriminal yang menjadi bagian dari penyelidikan. Tuduhan terkait kelompok kriminal dan perdagangan narkoba terhadap mantan pemain AS Roma dan Inter Milan itu telah digugurkan.
Meski demikian, masalah hukum Radja Nainggolan belum sepenuhnya usai. Penyidik menilai ia tetap harus mempertanggungjawabkan dugaan penerimaan dan pengelolaan dana ilegal senilai lebih dari 100.000 euro. Dalam persidangan, jaksa mengungkapkan bahwa Radja Nainggolan diduga menerima uang tunai sebesar 105.000 euro dari Nasr-Eddine Sekkaki, yang disebut sebagai temannya sekaligus adik dari penjahat terkenal di Belgia, Ashraf Sekkaki.
“Nainggolan menerima uang tunai sebesar 105.000 euro dari Sekkaki, yang memintanya untuk mentransfer uang tersebut ke rekening ibunya,” kata jaksa saat memaparkan rincian transaksi di hadapan pengadilan Brussels.
Menanggapi tudingan tersebut, Radja Nainggolan konsisten menyatakan dirinya tidak bersalah. Kepada penyidik, ia mengaku hanya meminjam uang dari Sekkaki untuk membiayai gaya hidup pribadinya. Ia juga menyebut rekening banknya saat itu dibekukan setelah proses perceraian dengan mantan istrinya. Sang pemain tidak menghadiri sidang awal perkara tersebut, namun tim kuasa hukumnya menyatakan akan memperjuangkan pembebasan penuh. Pengacaranya, Mounir Souidi, menilai tuduhan terhadap kliennya tidak memiliki dasar yang kuat.
Di tengah tekanan hukum yang mendera, Radja Nainggolan justru menunjukkan performa apik di lapangan. Sehari setelah sidang yang tidak ia hadiri, ia mencetak gol untuk klubnya, Patro Eisden, saat menghadapi Lokeren pada pertandingan lanjutan kasta kedua Liga Belgia. Patro Eisden akhirnya menang 3-1 dalam laga tersebut. Namun, euforia kemenangan itu sempat diwarnai cemoohan dari suporter klub rival, Beerschot, yang menyanyikan lagu bernada sindiran, “Radja in den bak” atau “Radja di penjara” selama pertandingan.
Radja Nainggolan pun tidak tinggal diam. Melalui akun Instagram pribadinya, ia membagikan ulang video yang memperlihatkan suporter Beerschot menyanyikan lagu tersebut, disertai komentar bernada sarkastik dengan emoji tertawa. “Dan itu dinyanyikan oleh para pecandu… Puncak kecerdasan,” tulisnya. Reaksi ini menunjukkan bahwa meski tengah menghadapi masalah hukum berat, mantan pemain yang dijuluki Il Ninja itu masih berusaha menunjukkan sikap tegar.
Sebagai informasi, Radja Nainggolan merupakan salah satu gelandang paling tangguh yang pernah dimiliki Eropa. Namanya melejit bersama Cagliari, AS Roma, hingga Inter Milan. Ia bahkan sempat empat kali masuk dalam Tim Terbaik Serie A dan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik AS Roma. Setelah malang melintang di Italia dan Belgia, ia juga sempat berkarier di Indonesia bersama Bhayangkara FC sebelum kembali ke Belgia. Kini, ia memperkuat Patro Eisden dengan nilai transfer yang jauh menurun dibandingkan masa jayanya.
Agenda persidangan lanjutan dijadwalkan digelar pada 13 November mendatang. Pada kesempatan itu, tim hukum Radja Nainggolan akan menyampaikan argumen pembelaan di hadapan pengadilan Brussels, dan sang pemain diperkirakan bakal hadir langsung di ruang sidang. Publik sepak bola, khususnya di Indonesia yang mengenal Radja Nainggolan sebagai sosok berdarah Batak, tentu menantikan bagaimana akhir dari proses hukum ini.
Kasus yang menjerat Radja Nainggolan menjadi pengingat bahwa perjalanan karier seorang pesepak bola tidak selalu mulus di atas lapangan hijau. Bagi Radja Nainggolan, vonis pengadilan pada November mendatang akan menjadi penentu apakah kariernya bisa kembali bersinar atau justru berakhir di balik jeruji besi. Terlepas dari hasil akhirnya, publik berharap proses hukum berjalan adil dan transparan, sementara sang pemain tetap dapat membuktikan bahwa tuduhan terhadapnya tidak berdasar. Kisah Radja Nainggolan pun menjadi cermin bahwa ketenaran dan prestasi di dunia olahraga tak serta-merta menjauhkan seseorang dari jerat masalah hukum.
