Perang Lawan Narkoba Harus Dilakukan Konsisten dan Berkelanjutan, DPR Apresiasi Polri
Kalimantan Update – 03 November 2026 | Perang Lawan Narkoba Harus Dilakukan Konsisten dan Berkelanjutan menjadi pesan tegas yang disampaikan Anggota Komisi III DPR RI, Adang Daradjatun, menyusul penggerebekan kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang diduga kuat menjadi salah satu titik peredaran narkotika. Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (1/11/2026), Adang memberikan apresiasi dan penghargaan kepada jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), khususnya Polda Metro Jaya, atas langkah tegas dan berani dalam operasi tersebut.
Ia menilai, operasi yang melibatkan unsur Badan Narkotika Nasional (BNN), Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Brimob tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antarlembaga dalam menghadapi kejahatan narkotika yang memiliki jaringan, pola operasi, dan sumber pendanaan yang terorganisasi. Dalam penggerebekan pada Minggu (1/11/2026), aparat mengamankan 29 orang serta menyita sejumlah barang bukti, di antaranya sabu, ganja, alat isap, senjata tajam, dan mesin pencetak ekstasi. Dalam pelaksanaan operasi, petugas juga sempat menghadapi perlawanan dari pihak-pihak di lokasi.
“Saya memahami bahwa memberantas jaringan narkoba bukan pekerjaan mudah. Bahkan, aparat di lapangan harus menghadapi berbagai bentuk perlawanan. Karena itu, keberanian, profesionalisme, dan ketegasan anggota Polri patut kita apresiasi. Negara tidak boleh kalah oleh jaringan bandar narkoba,” tegas politisi Fraksi PKS ini.
Namun demikian, Adang mengingatkan bahwa keberhasilan operasi penggerebekan harus diikuti dengan langkah penegakan hukum yang menyeluruh. Menurutnya, penangkapan para pelaku di lapangan harus menjadi pintu masuk untuk mengungkap jaringan yang lebih besar, terutama bandar, pemasok, pengendali, dan pihak-pihak yang diduga menjadi pelindung aktivitas peredaran narkotika. “Jangan hanya berhenti pada pengguna atau pelaku yang berada di lapangan. Bandar besar dan jaringan pemasoknya harus dikejar sampai tuntas. Penelusuran aliran dana hasil kejahatan juga penting dilakukan agar jaringan narkoba tidak memiliki kemampuan untuk kembali membangun bisnis ilegalnya,” lanjut mantan Wakapolri itu.
Lebih jauh, Adang menekankan bahwa penanganan kawasan rawan narkoba seperti Kampung Bahari membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Penindakan hukum harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan, rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika, pemberdayaan masyarakat, serta pemulihan lingkungan sosial. Ia juga mendorong agar masyarakat setempat tidak dipandang sebagai bagian dari persoalan, melainkan harus dilibatkan sebagai mitra strategis dalam memutus mata rantai peredaran narkoba.
“Jangan sampai masyarakat yang sebenarnya ingin hidup aman dan terbebas dari narkoba justru menjadi korban atau berada dalam tekanan jaringan bandar. Negara harus hadir melindungi warga. Kita perlu mengembalikan lingkungan Kampung Bahari menjadi kawasan yang aman, produktif, dan ramah bagi tumbuh kembang anak-anak serta generasi muda,” ungkapnya.
Sebagai mantan polisi berpangkat Komjen Pol., Adang Daradjatun menegaskan bahwa pihaknya mendukung langkah-langkah profesional dan terukur yang dilakukan Polri dalam pemberantasan narkotika. “Apresiasi ini harus menjadi penyemangat bagi Polri untuk terus bekerja secara profesional, tegas, dan berintegritas. Perang melawan narkoba bukan sekadar operasi sesaat, melainkan perjuangan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi seluruh aparat penegak hukum dan dukungan masyarakat,” tutup Adang.
Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan Adang ini sejalan dengan semangat bahwa Perang Lawan Narkoba Harus Dilakukan Konsisten dan Berkelanjutan. Ia berharap operasi seperti di Kampung Bahari tidak menjadi langkah terakhir, melainkan awal dari rangkaian penindakan yang sistematis dan berkesinambungan. Menurutnya, keberhasilan di lapangan harus diikuti dengan penguatan koordinasi antarlembaga, transparansi penegakan hukum, serta edukasi masyarakat mengenai bahaya narkotika.
Adang juga menyoroti pentingnya penelusuran aset dan aliran dana hasil kejahatan narkotika. Dengan begitu, jaringan bandar tidak memiliki ruang untuk bangkit kembali. Ia mendorong Polri untuk terus meningkatkan kapasitas penyidik dalam mengungkap sindikat lintas negara, mengingat peredaran narkotika sering kali melibatkan jaringan internasional. Sinergi dengan BNN, Bea Cukai, dan lembaga terkait lainnya dinilai krusial.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pendekatan represif harus diimbangi dengan pendekatan preventif dan rehabilitatif. Kampung Bahari, menurutnya, perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal pemberdayaan ekonomi masyarakat, penyediaan ruang publik yang sehat, serta program rehabilitasi bagi warga yang terjerat penyalahgunaan narkotika. “Jangan sampai stigma negatif melekat pada warga. Mereka adalah korban yang perlu dibantu, bukan dimusuhi,” ujarnya.
Adang juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh pemuda, dan lembaga swadaya masyarakat, untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan. Menurutnya, perang melawan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Partisipasi masyarakat dalam melaporkan aktivitas mencurigakan dan mendukung program rehabilitasi sangat diperlukan. Dengan demikian, Perang Lawan Narkoba Harus Dilakukan Konsisten dan Berkelanjutan dapat terwujud secara nyata.
Sebagai penutup, pernyataan Adang Daradjatun ini menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkotika adalah tanggung jawab bersama. Apresiasi kepada Polri harus diikuti dengan pengawasan dan dukungan agar setiap langkah yang diambil benar-benar efektif. Konsistensi dan keberlanjutan menjadi kunci utama. Tanpa itu, upaya besar yang telah dilakukan di Kampung Bahari hanya akan menjadi operasi sesaat yang mudah dilupakan. Masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang aman dan bebas dari narkoba, dan negara wajib hadir untuk mewujudkannya.
