Kalimantan Update – 07 Oktober 2026 | Kawasan Permukiman yang Kebakaran di Tenggarong Minim Sumber Air menjadi sorotan setelah insiden besar melanda Jalan A.M. Alimuddin, RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), pada Senin sore, 5 Oktober 2026. Peristiwa ini membuka kembali catatan lama bahwa wilayah tersebut memang telah dipetakan sebagai zona rawan kebakaran oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar. Kepadatan bangunan yang didominasi material kayu serta keterbatasan pasokan air menjadikan kawasan ini seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengungkapkan bahwa lokasi kejadian termasuk dalam kawasan yang mereka sebut sebagai Segitiga Tenggarong Aji. Wilayah ini sejak awal telah menjadi perhatian khusus karena tingkat kerawanannya yang tinggi. “Kawasan yang terkena musibah itu termasuk kawasan yang kami sebut Segitiga Tenggarong Aji. Dari awal memang sudah kita jaga dan kita perhatikan,” ujar Fida saat ditemui di Tenggarong, Selasa, 6 Oktober 2026.
Kepadatan Bangunan dan Keterbatasan Air Jadi Kendala Utama
Kondisi permukiman yang padat menjadi salah satu faktor utama yang membuat kawasan tersebut memiliki tingkat kerawanan tinggi. Jarak antar rumah yang berhimpitan, mayoritas berbahan kayu, serta akses jalan yang sempit membuat petugas pemadam kesulitan bergerak cepat. Persoalan lain yang dihadapi adalah keterbatasan sumber air saat proses pemadaman berlangsung. “Memang sudah kita petakan tingkat kerawanannya. Karena memang minim sumber air. Kalau terjadi sesuatu, itu menjadi kendala kita,” tegas Fida.
Sebagai langkah mitigasi, Disdamkarmatan sebenarnya telah menyiapkan sejumlah fasilitas di kawasan tersebut. Di antaranya hidran kering yang berfungsi mempermudah akses pengisian air ketika terjadi kebakaran. Selain itu, beberapa tandon air berkapasitas 5.000 liter telah ditempatkan di sejumlah titik kawasan. Namun, insiden kali ini menunjukkan bahwa fasilitas tersebut belum cukup untuk menghadapi skala kebakaran yang begitu besar. Kondisi Kawasan Permukiman yang Kebakaran di Tenggarong Minim Sumber Air ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah.
“Kejadian kebakaran ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk memperkuat pola mitigasi, khususnya di kawasan padat penduduk yang memiliki keterbatasan sumber air,” kata Fida. Ia menuturkan bahwa pihaknya akan menyampaikan evaluasi tersebut kepada Bupati Kukar agar penanganan risiko kebakaran di kawasan rawan dapat ditingkatkan. Ke depan, ia berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk menambah pola hidran di kawasan tersebut.
Kronologi dan Upaya Pemadaman
Penyebab pasti kebakaran belum diketahui secara resmi. Namun menurut keterangan saksi awal, api mula-mula muncul dari bagian dapur rumah kontrakan bangsalan milik Sdr. T yang dihuni oleh Sdri. N. Saat peristiwa terjadi, Sdri. N sedang tidak berada di rumah. Para saksi melihat kepulan asap tebal disertai api yang sudah menjulang tinggi sehingga mereka bersama warga berusaha memadamkan. Namun api sulit dikendalikan karena sudah membesar, sehingga warga meminta bantuan kepada BPBD Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pada pukul 17.20 WITA, tim pemadam kebakaran BPBD Kabupaten Kutai Kartanegara tiba di lokasi dan berupaya melakukan pemadaman dengan mengerahkan seluruh unit dan peralatan yang tersedia. Kegiatan tersebut juga dibantu oleh para relawan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara maupun Relawan Balakarcana dari Kota Samarinda. Api dengan cepat membesar dikarenakan cuaca panas dan disertai angin kencang. Lokasi kebakaran yang merupakan kawasan padat rumah penduduk dengan mayoritas bahan bangunan dari kayu membuat api sangat sulit dikendalikan.
Setelah dilakukan upaya pemadaman selama kurang lebih tiga jam, api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada sekitar pukul 20.00 WITA. Sejumlah unit pemadam yang terlibat langsung antara lain AWC Sat Samapta Polres Kutai Kartanegara, lima unit truk Damkar Kutai Kartanegara, tiga unit truk BPBD Kutai Kartanegara, dua unit mobil pickup dan satu unit Viar Relawan Sangaji Tenggarong, satu unit mobil pickup Relawan Mangkuraja Loa Lemas, satu unit mobil pickup Relawan Revolusi Samarinda, satu unit mobil pickup Relawan RNY Samarinda, satu unit mobil pickup Relawan Cempaka Samarinda, serta relawan dari Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda.
Daftar Warga yang Kehilangan Tempat Tinggal
Berdasarkan informasi sementara, tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun puluhan warga kehilangan tempat tinggal. Berikut daftar nama warga terdampak yang berhasil dihimpun:
- Subaidah
- Saluki
- Tamino (purn Polri)
- Mispan (purn Polri)
- Parmin (purn Polri)
- Gema
- Eko (purn Polri)
- Rokim
- Rusdi
- Misruha
- Nurti
- Iswanto
- Budi Utomo
- Alm. Suwanto
- Mamak Bilkis
- Rusmono
- Suparmin
- Supriadi RT 33
- Madsudi
- Ardiansyah
- Iliansyah
- Parmin
- Ibu Epi
- Mama Ade
- Bapak Diva
- Roby
- Edo
- Nami (penjual kue keliling)
- Abdul Munib
- Husaini
- Ibu Zahran (pemilik kontrakan bangsalan 5 pintu)
- Budi
- Ibu Imah
- Dewi Koto
- Normiati (bidan)
- Kadariah (bidan)
- Arik
- Suharto
- Bejo
- Rusmono (kosan putri)
- Wiwid
- Ust. Barul
- Alby
- Yanto
- Bapak Deni
- Bapak Omat
Saksi Mata dan Kesaksian Warga
Beberapa saksi yang melihat pertama kali terkait bencana kebakaran ini antara lain Idris (34 tahun, swasta, warga Jalan Danau Aji Gang Wakaf 2, Kecamatan Tenggarong), Maptuca (45 tahun, swasta, warga Jalan A.M. Alimudin Gang 1 No. 1, Kelurahan Melayu RT 33), Roby Sanjaya (30 tahun, swasta, warga Jalan A.M. Alimudin Gang 1 RT 33 No. 72, Kelurahan Melayu), dan Rudi Susanto (45 tahun, swasta, warga Jalan A.M. Alimudin Gang 1 RT 32 No. 72, Kelurahan Melayu).
Penanganan warga terdampak selanjutnya dilakukan bersama Dinas Sosial dan BPBD Kukar. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk membantu para korban, sekaligus memperkuat sistem mitigasi kebakaran di kawasan padat penduduk. Insiden ini menjadi pengingat bahwa Kawasan Permukiman yang Kebakaran di Tenggarong Minim Sumber Air membutuhkan perhatian serius, mulai dari penambahan hidran, penyediaan tandon air yang memadai, hingga penataan ulang tata ruang permukiman yang lebih aman.
Ke depan, evaluasi menyeluruh terhadap pola mitigasi di kawasan rawan kebakaran menjadi keniscayaan. Tanpa langkah nyata, potensi kebakaran susulan di Kawasan Permukiman yang Kebakaran di Tenggarong Minim Sumber Air ini akan terus menghantui warga. Peristiwa ini bukan sekadar musibah, melainkan panggilan bagi semua pihak untuk bergerak cepat sebelum korban berikutnya jatuh.

