Kalimantan Update – 07 Oktober 2026 | PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo Soroti Fenomena Gen Z Paradox Saat Literasi Asuransi Indonesia Turun di tengah derasnya aktivitas keuangan digital kaum muda. Fenomena ini mencuat setelah data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2026 menunjukkan indeks literasi asuransi nasional terkoreksi menjadi 42,84 persen, turun dari posisi 45,45 persen pada tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut menjadi ironi karena indeks literasi keuangan nasional justru mencatatkan kenaikan hingga 69,57 persen. Artinya, masyarakat semakin paham soal keuangan secara umum, tetapi pemahaman spesifik terhadap produk proteksi seperti asuransi justru melemah. Kesenjangan ini diperparah oleh tingkat inklusi asuransi yang baru menyentuh 29,55 persen, sehingga terdapat selisih lebih dari 13 poin persentase antara pemahaman dan akses pemanfaatan produk asuransi.
Direktur Utama Askrindo R. Mahelan Prabantarikso menyebut kondisi ini sebagai “Gen Z Paradox”. Menurutnya, kelompok yang paling melek teknologi digital justru dihadapkan pada peningkatan risiko finansial yang cukup rumit. Generasi muda dinilai sangat cepat mengadopsi aplikasi pembayaran, investasi, dan pinjaman digital, namun belum diimbangi dengan kesadaran memadai akan pentingnya perlindungan finansial jangka panjang.
Literasi Keuangan Naik, Literasi Asuransi Justru Terkoreksi
Data SNLIK 2026 memperlihatkan pola yang kontras. Di satu sisi, literasi keuangan nasional naik ke 69,57 persen, tetapi literasi asuransi turun ke 42,84 persen. Sementara itu, inklusi asuransi hanya 29,55 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa banyak orang mengetahui keberadaan produk asuransi, tetapi belum benar-benar memahami manfaat, mekanisme klaim, serta risiko yang dilindungi.
| Indikator | Angka 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
| Literasi keuangan nasional | 69,57% | Naik |
| Literasi asuransi | 42,84% | Turun dari 45,45% |
| Inklusi asuransi | 29,55% | Masih rendah |
Askrindo Soroti Fenomena Gen Z Paradox Saat Literasi Asuransi Indonesia Turun sebagai sinyal bahwa edukasi proteksi belum menjangkau kelompok usia produktif secara efektif. Generasi Z yang tumbuh bersama gawai dan platform digital seharusnya menjadi segmen paling mudah dijangkau kampanye literasi asuransi. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis melahirkan pemahaman risiko.
Risiko Finansial Mengintai Generasi Digital
Mahelan menilai peningkatan risiko finansial pada kelompok muda cukup rumit. Akses kredit yang semakin mudah, gaya hidup konsumtif, serta godaan investasi instan menjadi kombinasi yang bisa memperbesar kerentanan finansial. Tanpa proteksi yang memadai, guncangan ekonomi sekecil apa pun dapat berdampak besar pada stabilitas keuangan pribadi.
Fenomena ini juga mencerminkan adanya paradoks perilaku. Kaum muda cenderung cepat mengambil keputusan finansial berbasis aplikasi, tetapi belum tentu memahami klausul polis, pengecualian risiko, hingga kewajiban premi. Akibatnya, produk asuransi sering dipandang sebagai beban biaya, bukan sebagai instrumen perlindungan.
- Literasi asuransi turun menjadi 42,84 persen pada 2026.
- Inklusi asuransi baru 29,55 persen.
- Kesenjangan pemahaman dan akses mencapai lebih dari 13 poin persentase.
- Generasi Z paling terpapar risiko finansial digital.
Askrindo Soroti Fenomena Gen Z Paradox Saat Literasi Asuransi Indonesia Turun menjadi pengingat bahwa literasi keuangan tidak cukup berhenti pada kemampuan mengelola uang. Pemahaman proteksi perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak hanya cakap bertransaksi, tetapi juga siap menghadapi ketidakpastian.
Peran Industri dan Regulator
Sebagai anggota holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) serta Danantara, Askrindo menegaskan komitmennya mendukung peningkatan literasi asuransi. Kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan lembaga pendidikan dinilai penting untuk menjangkau kelompok muda melalui kanal digital yang mereka gunakan sehari-hari.
Pendekatan edukasi perlu dibuat lebih kontekstual, misalnya melalui konten media sosial, gamifikasi, dan simulasi risiko yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Dengan begitu, pesan tentang pentingnya asuransi tidak lagi terasa menggurui, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup finansial yang sehat.
Askrindo Soroti Fenomena Gen Z Paradox Saat Literasi Asuransi Indonesia Turun juga membuka ruang refleksi bagi industri. Penurunan literasi asuransi di tengah kenaikan literasi keuangan menandakan adanya celah komunikasi antara pelaku industri dan masyarakat. Produk yang semakin digital perlu diimbangi dengan penjelasan yang sederhana, transparan, dan mudah dipahami.
Jika kesenjangan ini dibiarkan, target inklusi keuangan yang inklusif akan sulit tercapai. Perlindungan finansial bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat. Karena itu, penguatan literasi asuransi harus menjadi agenda bersama, bukan hanya tanggung jawab satu pihak.
Pada akhirnya, turunnya literasi asuransi nasional menjadi cermin bahwa kemajuan teknologi finansial belum sejalan dengan kedewasaan literasi proteksi. Generasi muda perlu dibekali pemahaman yang utuh tentang risiko dan cara mengelolanya. Dengan langkah kolaboratif dan pendekatan yang relevan, fenomena Gen Z Paradox dapat diubah menjadi momentum kebangkitan literasi asuransi Indonesia.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak

