Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Kualitas udara di sejumlah kawasan di Provinsi Jambi terus memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam. Data terbaru Kementerian Perhutanan RI mencatat Jambi kembali masuk dalam daftar wilayah dengan kualitas udara dari sangat tidak sihat hingga berbahaya, bersama sebagian Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kondisi ini membuat warga Jambi harus berhadapan dengan kabut asap pekat yang menurunkan jarak pandang hingga sekitar satu kilometer dan memicu lonjakan penyakit pernapasan.
Berdasarkan pemantauan Kementerian Perhutanan RI yang mengutip data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), klasifikasi udara sangat tidak sehat setara dengan konsentrasi PM2.5 antara 150,5 hingga 250,4 mikrogram per meter kubik, sedangkan tingkat berbahaya melebihi 250,4 mikrogram per meter kubik. PM2.5 merupakan partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Di Jambi, jumlah titik panas (hotspot) melonjak tajam dari tiga titik pada Kamis menjadi 15 titik pada Jumat malam. Peningkatan ini menjadi alarm serius di tengah upaya pemadaman yang terus dilakukan. Tim gabungan dikerahkan melalui pemadaman darat, pengeboman air, patroli udara, serta upaya pencegahan dan pengendalian di kawasan prioritas.
61 Pesawat Dikerahkan, Enam Provinsi Jadi Prioritas
Kementerian Perhutanan RI menyatakan sebanyak 61 pesawat masih dioperasikan untuk operasi pemadaman, patroli udara, dan modifikasi cuaca. Rinciannya, 44 pesawat pengeboman air dan 17 pesawat untuk patroli serta modifikasi cuaca. Sebanyak 55 pesawat beroperasi di enam provinsi prioritas, sementara sisanya ditempatkan di wilayah lain.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 7.555 titik panas dan 196 titik api di enam provinsi prioritas per 9 Oktober 2026. Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dalam 24 jam terakhir, tercatat 706,19 hektare lahan terbakar di kawasan tersebut.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyebut Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah mencatat titik panas tertinggi. Sumatera Selatan merekam 2.207 titik panas dan 72 titik api, sedangkan Kalimantan Tengah 3.511 titik panas dan 67 titik api. Meski demikian, ia mengingatkan data titik panas harus diverifikasi di lapangan karena tidak secara langsung menggambarkan jumlah kebakaran aktif atau luas lahan yang masih terbakar.
Selain Jambi, kabut asap juga menurunkan jarak pandang di sejumlah provinsi lain. Jarak pandang di Jambi sekitar satu kilometer, Kalimantan Tengah 1,5 kilometer, Riau dua kilometer, dan Sumatera Selatan hanya 0,4 kilometer. Kalimantan Barat mencatat jarak pandang terburuk, yakni 0,1 kilometer, sedangkan Kalimantan Selatan sekitar delapan kilometer.
Dampak Kesehatan: 11.539 Kasus ISPA di Kota Jambi
Dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat di Kota Jambi kian mengkhawatirkan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyatakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk.
Data Dinas Kesehatan Kota Jambi menunjukkan total kasus ISPA menembus 11.539 kasus sepanjang periode pemantauan. Angka harian kasus ISPA berfluktuasi tajam. Puncak tertinggi tercatat 501 kasus pada 26 Agustus 2026, kemudian turun menjadi 275 kasus pada 28 Agustus, dan kembali melonjak menjadi 471 kasus pada 31 Agustus. Memasuki September, kasus sempat menyentuh 445 kasus pada 7 September, lalu turun menjadi 337 kasus pada 8 September dan 274 kasus pada 10 September. Tren serupa berlanjut pada Oktober, dengan 323 kasus pada 5 Oktober, 295 kasus pada 6 Oktober, dan 229 kasus pada 7 Oktober. Pada 9 Oktober tercatat 256 kasus.
Selain ISPA, kasus diare dan konjungtivitis juga menjadi perhatian. Periode 24 Agustus hingga 9 Oktober 2026 mencatat 1.362 kasus diare, dengan lonjakan harian mencapai 55 kasus pada 28 September dan puncak 59 kasus pada 6 Oktober. Sementara itu, total kasus konjungtivitis mencapai 517 kasus, dengan angka harian tertinggi 25 kasus pada 21 September 2026.
Doni menegaskan data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh kasus ISPA, diare, dan konjungtivitis disebabkan langsung oleh karhutla. Meski demikian, lonjakan yang berbarengan dengan periode kabut asap menjadi indikasi kuat perlunya kewaspadaan dan langkah mitigasi berkelanjutan di Kota Jambi.
Jadwal Penerbangan Bandara Sultan Thaha Digeser
Kabut asap juga mengganggu sektor transportasi udara di Jambi. Executive General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Mabrun, menyatakan jadwal penerbangan sempat terkendala waktu, namun secara umum masih tergolong normal karena dijadwalkan ulang ke sore dan malam hari.
“Penerbangan pertama tadi pagi normal sesuai jadwal, sedangkan siang memang tidak ada jadwal penerbangan,” ujar Ardon. Menurutnya, maskapai melakukan penyesuaian dengan melihat tren jarak pandang yang cenderung membaik pada sore hingga malam.
Sejumlah penerbangan kedatangan dijadwalkan mulai pukul 17.00 WIB, seperti Citilink QG 964 dan QG 960 dari Jakarta. Super Air Jet IU 973 dari Batam dan Batik Air ID 6806 dari Jakarta dijadwalkan tiba pukul 18.40 WIB, disusul Batik Air ID 6804 dan Garuda Indonesia GA 126 pada pukul 19.20 WIB. Untuk keberangkatan, Batik Air ID 6807 menuju Jakarta berangkat pukul 06.00 WIB, diikuti Citilink QG 965 pukul 17.30 WIB, Citilink QG 961 pukul 18.25 WIB, Super Air Jet IU 974 pukul 19.20 WIB, Batik Air ID 6805 pukul 20.00 WIB, dan Garuda Indonesia GA 127 pukul 20.05 WIB.
Ardon mengimbau penumpang terus memantau informasi jadwal terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara. Penyesuaian dilakukan demi menjaga keselamatan dan kelancaran penerbangan.
Upaya Penanganan dan Harapan ke Depan
Pemerintah terus mengintensifkan operasi pemadaman darat dan udara, sekaligus upaya pendinginan di area yang sudah padam agar tidak kembali menyala. Modifikasi cuaca dan patroli udara menjadi bagian penting dari strategi pengendalian di wilayah prioritas, termasuk Jambi.
Meski demikian, tantangan tetap besar. Titik panas yang fluktuatif, cuaca kering, serta luasnya lahan gambut yang mudah terbakar membuat api sulit dipadamkan sepenuhnya. Di sisi lain, masyarakat Jambi menanggung dampak berlapis: gangguan kesehatan, terhambatnya mobilitas udara, dan menurunnya kualitas hidup akibat udara yang tidak sehat.
Kesimpulannya, krisis kabut asap yang melanda Jambi merupakan persoalan multidimensi yang menuntut penanganan serius dan terkoordinasi. Lonjakan 11.539 kasus ISPA, pergeseran jadwal penerbangan di Bandara Sultan Thaha, serta kualitas udara yang berada pada level berbahaya menjadi bukti nyata bahwa karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan ancaman langsung bagi kesehatan dan aktivitas masyarakat. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, aparat penegak hukum, dan warga untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar, sekaligus memperkuat sistem peringatan dini dan layanan kesehatan agar dampak buruk kabut asap di Jambi dapat ditekan seminimal mungkin.
Penulis: Syaifullah, Oktavianus A, Rudi Hamdani
Editor: Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Kementerian Perhutanan RI, BMKG, BNPB, BPBD Kota Jambi, Dinas Kesehatan Kota Jambi, Bandara Sultan Thaha Jambi, detikSumbagsel, Tempo.co, Bernama

